Imam Al Qurthubi menceritakan bahwa suatu hari kala Umar bin Khattab Radhiyallahu'anhu masih menjabat sebagai Khalifah, tanpa sengaja ia berjumpa dengan seorang wanita tua di jalan. Saat itu, sang Khalifah sedang menunggang kuda diiringi banyak orang yang juga menunggang kuda.
Dalam pertemuan saat itu, nenek itu memanggilnya dan memintanya berhenti, dan Umar pun berhenti. Lalu ia bercakap dan menasihati Umar lama sekali.
Kepada Umar ia mengatakan, "Hai Umar, dulu kau dipanggil Umair (Umar kecil), lalu engkau dipanggil Umar, dan kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin, maka bertaqwalah engkau, wahai Umar. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka ia pasti takut kepada siksa."
Umar bin Khattab berdiri terpaku cukup lama menyimak nasihatnya itu. Hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?"
Umar pun menjawab, "Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku dari permulaan siang hingga siang ini berakhir, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?"
"Dia adalah Khawlah binti Tsalabah. Allah Ta'ala mendengar perkataannya dari atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengarkan ucapannya, tetapi lantas Umar tidak mendengarkannya?"
Khawlah binti Tsa’labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kaum Anshar. Do'a dan gugatannya itu didengar oleh Allah Ta'ala hingga menjadi sebab turunnya Surat Mujadalah ayat 1-4.
Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, perempuan tua itu, melainkan juga keindahan adab Umar, sang Khalifah yang sangat santun.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
10.11.00
Adalah Azazil, yang beribadah kepada Allah Ta'ala selama ribuan tahun. Dari Hasan Al-Bashri, "Azazil beribadah di tujuh lapisan langit hingga lebih dari 70.000 tahun, sampai ia diangkat ke Maqam Ridwan (Malaikat Ridwan AS), ialah maqam yang sangat tinggi, dimana Ridwan menjadi penjaga Surga. Azazil sebelumnya telah menjadi penjaga surga selama ribuan tahun. (Baca sebelumnya: Sosok Azazil di Masa Pra Penciptaan Adam AS)
Suatu ketika ia membaca sebuah prasasti pada salah satu gerbang surga, di situ tertulis:
"Akan ada salah seorang hamba diantara hamba-hamba kekasih Allah Yang Maha Perkasa, dalam jangka waktu yang lama ia akan taat dan menghamba kepada Tuhannya dengan amat baik. Akan datang suatu hari, akhirnya ia akan melawan dan menentang Tuhannya, dan ia akan diusir dari pintu-Nya dan dilaknat”.
Azazil membaca dan heran pada ramalan ini. "Bagaimana mungkin itu terjadi? Bahwa salah satu hamba yang terdekat kepada Allah akan durhaka kepada Tuhan semesta alam dan diusir dari kedekatan dan kesucianNya?" ia membela, "Ya Allah, Berilah aku ijin untuk mengutuk penentang itu, siapapun ia". (Simak juga: Antara Iblis, Malaikat dan Manusia)
Tuhan memberinya ijin, dan Azazil mengutuki pendosa (yang telah diramalkan) itu dalam waktu ribuan tahun, tanpa ia tahu bahwa kutukan itu adalah untuk dirinya sendiri. Azazil lupa, dirinya adalah hamba Allah dan tak menyadari bahwa kata "hamba" yang tertera pada tulisan di pintu surga itu bisa menimpa kepada siapa pun, termasuk dirinya.
Selama itu pula Azazil menjadi malaikat yang dikenal penduduk surga karena do’anya selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.
Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil juga melihat dan membaca tulisan yang dibaca oleh Azazil tersebut. Tulisan itu tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, hamba yang diramalkan itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. (Simak juga: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam)
Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa. “Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka”.
Dengan reputasi ibadahnya, Azazil semakin bebas berkelana ke berbagai lapis langit. Tidak ada wilayah langit yang belum dijamahnya. Seluruh malaikat kagum kepadanya. Ia dikenal sebagai malaikat yang maqbul doanya.
(Simak juga : Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam)
Di luar do'anya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai penghulu para malaikat, bendaharawan surga, malaikat yang paling hebat dalam hal ijtihad dan paling banyak ilmunya, malaikat yang paling terang, malaikat yang paling mulya yang memiliki empat pasang sayap.
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus bermacam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…" (QS. Fathir (35): 1)
Jadilah Azazil sebagai pemimpin malaikat di langit terdekat (sama' ad-dunya), cakrawala langit yang dapat kita saksikan serta bumi dan isinya diserahkan pengaturannya kepada Azazil. Karena memang ia bertugas mengatur urusan yang termasuk dalam lingkup langit dunia, yaitu makrokosmos yang termasuk juga bumi serta planet-planet lainnya, matahari, seluruh bintang dan galaksi hingga supercluster.
(Simak juga : Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi)
Semua lapis langit dan para penghuninya menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda:
Pada langit lapisan pertama ia berjuluk Al-'Abid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah. Di langit kedua, julukan Azazil adalah Ar-Raki' atau ahli rukuk kepada Allah. As-Sajid atau ahli sujud adalah gelarnya di langit ketiga. Pada langit berikutnya ia dijuluki Al-Khasyi' karena selalu merendah dan takluk kepada Allah. Karena ketaatannya kepada Allah, langit kelima menyebut Azazil sebagai Al-Qanit. Gelar Al-Mujtahid diberikan kepada Azazil oleh langit keenam, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah. Pada langit ketujuh, ia dipanggil Az-Zahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.
Selama 120 tahun, Azazil si penghulu para malaikat menyandang semua gelar kehormatan dan kemuliaan, yang dengan itu Azazil mulai merasa bangga akan kedudukannya. Kesombongan mulai merasuki diri Azazil. Untuk itu Tuhan hendak menjadikan kesombongan yang tersembunyi dalam diri Azazil menjadi nyata dengan menciptakan makhluk baru yang justru diciptakan dari tanah di bumi yang menjadi wilayah kekuasaan Azazil.
---------------------
Tafsir Al-Qurthubi yang ditulis oleh ulama besar dari Qurthubah, Spanyol, cukup luas membahas ayat-ayat Al-Quran serta menjelaskan banyak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Di sana disebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa Iblis termasuk yang diwajibkan untuk bersujud, karena saat itu Iblis masih termasuk ke dalam kategori malaikat.
Simak bin Harb meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, "Iblis dulunya adalah bagian dari malaikat, namun ketika dia bermaksiat Allah SWT marah kepadanya. Lalu Allah melaknatnya hingga menjadi syetan."
Masih menurut Ibnu Abbas ra, Iblis itu dahulu adalah malaikat yang bernama Azazil. Azazil termasuk senior malaikat. Dalam riwayat yang lain, namanya Al-Harits. Nama Azazil adalah nama dalam bahasa Ibrani dan Al-Harits adalah nama dalam Arab.
Menurut Al-Mawardi yang menceritakan dari Qatadah, "Iblis itu awalnya jenis yang paling afdhal dari jenis-jenis malaikat. Namanya Al-Jinnah"
Said bin Jubair berkata bahwa jin adalah bagian dari malaikat, tetapi dari jenis yang diciptakan dari api, dan iblis termasuk bagian ini. Sedangkan keseluruhan malaikat terbuat dari cahaya.
Ibu Zaid, Hasan dan Qatadah berkata bahwa Iblis adalah ayah dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah ayah dari bangsa manusia.
---------------------
Nama Azazil juga sering dikenal dengan berbagai ejaan, seperti: Azazel, Azaziel, Azazyel, Azael, Asael, Aziel atau Asiel. Azazil juga mempunyai beberapa julukan (kunyah), seperti: Abu Murrah, Abu Kurdus, dan Abu Karubiyyin. Kemudian kata Azazil dikenal dan dipakai dalam bahasa Arab, sebagaimana nama Jibril atau Jibra'il (Gabriel), Mîka'il (Michael), Israfil (Raphael), Izra'il (Uriel), Isma'il (Ismael), Isra'il (Israel), yang kesemuanya juga berasal dari bahasa Ibrani (Hebrew).
Bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab dalam lingkup bahasa Semit, sehingga kata 'azza atau 'azzaza dalam bahasa Arab juga berarti "kuat" atau "perkasa", dan salah satu nama Allah pun adalah Al-'Aziz (Yang Maha Perkasa) Namun oleh Ibnu Abbas dan lainnya, kata Azazil dalam bahasa Arab disetarakan dengan kata Al-Harits ((الحارث). Bagaimana kisah Azazil Disebut sebagai Iblis?
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
Suatu ketika ia membaca sebuah prasasti pada salah satu gerbang surga, di situ tertulis:
"Akan ada salah seorang hamba diantara hamba-hamba kekasih Allah Yang Maha Perkasa, dalam jangka waktu yang lama ia akan taat dan menghamba kepada Tuhannya dengan amat baik. Akan datang suatu hari, akhirnya ia akan melawan dan menentang Tuhannya, dan ia akan diusir dari pintu-Nya dan dilaknat”.
Azazil membaca dan heran pada ramalan ini. "Bagaimana mungkin itu terjadi? Bahwa salah satu hamba yang terdekat kepada Allah akan durhaka kepada Tuhan semesta alam dan diusir dari kedekatan dan kesucianNya?" ia membela, "Ya Allah, Berilah aku ijin untuk mengutuk penentang itu, siapapun ia". (Simak juga: Antara Iblis, Malaikat dan Manusia)
Tuhan memberinya ijin, dan Azazil mengutuki pendosa (yang telah diramalkan) itu dalam waktu ribuan tahun, tanpa ia tahu bahwa kutukan itu adalah untuk dirinya sendiri. Azazil lupa, dirinya adalah hamba Allah dan tak menyadari bahwa kata "hamba" yang tertera pada tulisan di pintu surga itu bisa menimpa kepada siapa pun, termasuk dirinya.
Selama itu pula Azazil menjadi malaikat yang dikenal penduduk surga karena do’anya selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.
Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil juga melihat dan membaca tulisan yang dibaca oleh Azazil tersebut. Tulisan itu tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, hamba yang diramalkan itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. (Simak juga: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam)
Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa. “Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka”.
Dengan reputasi ibadahnya, Azazil semakin bebas berkelana ke berbagai lapis langit. Tidak ada wilayah langit yang belum dijamahnya. Seluruh malaikat kagum kepadanya. Ia dikenal sebagai malaikat yang maqbul doanya.
(Simak juga : Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam)
Di luar do'anya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai penghulu para malaikat, bendaharawan surga, malaikat yang paling hebat dalam hal ijtihad dan paling banyak ilmunya, malaikat yang paling terang, malaikat yang paling mulya yang memiliki empat pasang sayap.
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus bermacam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…" (QS. Fathir (35): 1)
Jadilah Azazil sebagai pemimpin malaikat di langit terdekat (sama' ad-dunya), cakrawala langit yang dapat kita saksikan serta bumi dan isinya diserahkan pengaturannya kepada Azazil. Karena memang ia bertugas mengatur urusan yang termasuk dalam lingkup langit dunia, yaitu makrokosmos yang termasuk juga bumi serta planet-planet lainnya, matahari, seluruh bintang dan galaksi hingga supercluster.
(Simak juga : Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi)
Semua lapis langit dan para penghuninya menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda:
Pada langit lapisan pertama ia berjuluk Al-'Abid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah. Di langit kedua, julukan Azazil adalah Ar-Raki' atau ahli rukuk kepada Allah. As-Sajid atau ahli sujud adalah gelarnya di langit ketiga. Pada langit berikutnya ia dijuluki Al-Khasyi' karena selalu merendah dan takluk kepada Allah. Karena ketaatannya kepada Allah, langit kelima menyebut Azazil sebagai Al-Qanit. Gelar Al-Mujtahid diberikan kepada Azazil oleh langit keenam, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah. Pada langit ketujuh, ia dipanggil Az-Zahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.
Selama 120 tahun, Azazil si penghulu para malaikat menyandang semua gelar kehormatan dan kemuliaan, yang dengan itu Azazil mulai merasa bangga akan kedudukannya. Kesombongan mulai merasuki diri Azazil. Untuk itu Tuhan hendak menjadikan kesombongan yang tersembunyi dalam diri Azazil menjadi nyata dengan menciptakan makhluk baru yang justru diciptakan dari tanah di bumi yang menjadi wilayah kekuasaan Azazil.
---------------------
Tafsir Al-Qurthubi yang ditulis oleh ulama besar dari Qurthubah, Spanyol, cukup luas membahas ayat-ayat Al-Quran serta menjelaskan banyak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Di sana disebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa Iblis termasuk yang diwajibkan untuk bersujud, karena saat itu Iblis masih termasuk ke dalam kategori malaikat.
Simak bin Harb meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, "Iblis dulunya adalah bagian dari malaikat, namun ketika dia bermaksiat Allah SWT marah kepadanya. Lalu Allah melaknatnya hingga menjadi syetan."
Masih menurut Ibnu Abbas ra, Iblis itu dahulu adalah malaikat yang bernama Azazil. Azazil termasuk senior malaikat. Dalam riwayat yang lain, namanya Al-Harits. Nama Azazil adalah nama dalam bahasa Ibrani dan Al-Harits adalah nama dalam Arab.
Menurut Al-Mawardi yang menceritakan dari Qatadah, "Iblis itu awalnya jenis yang paling afdhal dari jenis-jenis malaikat. Namanya Al-Jinnah"
Said bin Jubair berkata bahwa jin adalah bagian dari malaikat, tetapi dari jenis yang diciptakan dari api, dan iblis termasuk bagian ini. Sedangkan keseluruhan malaikat terbuat dari cahaya.
Ibu Zaid, Hasan dan Qatadah berkata bahwa Iblis adalah ayah dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah ayah dari bangsa manusia.
---------------------
Nama Azazil juga sering dikenal dengan berbagai ejaan, seperti: Azazel, Azaziel, Azazyel, Azael, Asael, Aziel atau Asiel. Azazil juga mempunyai beberapa julukan (kunyah), seperti: Abu Murrah, Abu Kurdus, dan Abu Karubiyyin. Kemudian kata Azazil dikenal dan dipakai dalam bahasa Arab, sebagaimana nama Jibril atau Jibra'il (Gabriel), Mîka'il (Michael), Israfil (Raphael), Izra'il (Uriel), Isma'il (Ismael), Isra'il (Israel), yang kesemuanya juga berasal dari bahasa Ibrani (Hebrew).
Bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab dalam lingkup bahasa Semit, sehingga kata 'azza atau 'azzaza dalam bahasa Arab juga berarti "kuat" atau "perkasa", dan salah satu nama Allah pun adalah Al-'Aziz (Yang Maha Perkasa) Namun oleh Ibnu Abbas dan lainnya, kata Azazil dalam bahasa Arab disetarakan dengan kata Al-Harits ((الحارث). Bagaimana kisah Azazil Disebut sebagai Iblis?
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
10.11.00
Sebelum Adam ada, langit dan bumi telah diciptakan jauh sebelumnya. Dari berbagai perbedaan pendapat, paling lama awal kehidupan Adam adalah 6000 tahun sebelum masehi, itu artinya Adam diciptakan 6000 ditambah tahun masehi waktu kita membaca kisah ini. (Simak juga: Azazil, Kekasih Allah di Masa Itu...)
Misalnya, sekarang tahun 2016, berarti kira-kira Adam diciptakan 8016 tahun yang lalu. Sedangkan bumi telah ada jutaan tahun sebelum Adam diciptakan.
Sebelum Adam diciptakan oleh Allah Ta'ala, bumi telah dihuni oleh salah satu kabilah Al-Jinn, yaitu salah satu kabilah malaikat yang paling mulia. Dari Wahab ibn Munabbih: Tuhan semesta alam menciptakan api Sammum. Dari api Sammum ini Dia menciptakan Jinn. Sammum adalah angin yang sangat panas membakar, atau api yang tidak berasap. Ketika Allah menghendaki sesuatu maka terbakarlah satu hijab, dari api yang membakar hijab inilah kabilah jin diciptakan.
Dinamakan Kabilah Al-Jinn karena kabilah ini menjadi khazanah perbendaharaan surga (Khuzzan al-Jannah), untuk itulah disebut Al-Jannah (taman atau surga). Kata "jinn" dan "jannah" memiliki akar kata yang sama. Dan miniatur surga yang paling memenuhi syarat dari kesekian planet di jagad raya adalah bumi. Maka Tuhan memberi mereka bumi untuk tinggal di tempat itu, dan mereka hidup dan beribadah di sana dalam waktu yang lama.
(Simak juga : Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam?)
Tersebutlah ia bernama Jann, nenek moyang bangsa jin yang menghuni bumi. Banyaknya ibadah yang ia kerjakan membuat para malaikat merasa kagum, dan berkata kepada Tuhan langit dan bumi, “Wahai Tuhan kami, angkatlah mereka ke langit, sehingga kami mungkin belajar dari mereka dan mengikuti contoh baik mereka."
Maka Allah mengangkat dan mendidik Jann agar men-jadi salah satu diantara para malaikat dan ia hidup dengan mereka di langit pertama, kemudian Jann disebut dengan nama kemalaikatannya yang baru, yaitu Azazil. Sementara kaum jin yang lain —yang masih tinggal di atas bumi— sebagian hidup dalam kebenaran, sedangkan sebagian yang lain menjadi pendosa dan melanggar hukum.
---------------------
Tafsir Al-Qurthubi yang ditulis oleh ulama besar dari Qurthubah, Spanyol, cukup luas membahas ayat-ayat Al-Quran serta menjelaskan banyak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Di sana disebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa Iblis termasuk yang diwajibkan untuk bersujud, karena saat itu Iblis masih termasuk ke dalam kategori malaikat.
Simak bin Harb meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, "Iblis dulunya adalah bagian dari malaikat, namun ketika dia bermaksiat Allah SWT marah kepadanya. Lalu Allah melaknatnya hingga menjadi syetan."
Masih menurut Ibnu Abbas ra, Iblis itu dahulu adalah malaikat yang bernama Azazil. Azazil termasuk senior malaikat. Dalam riwayat yang lain, namanya Al-Harits. Nama Azazil adalah nama dalam bahasa Ibrani dan Al-Harits adalah nama dalam Arab.
Menurut Al-Mawardi yang menceritakan dari Qatadah, "Iblis itu awalnya jenis yang paling afdhal dari jenis-jenis malaikat. Namanya Al-Jinnah"
Said bin Jubair berkata bahwa jin adalah bagian dari malaikat, tetapi dari jenis yang diciptakan dari api, dan iblis termasuk bagian ini. Sedangkan keseluruhan malaikat terbuat dari cahaya.
Ibu Zaid, Hasan dan Qatadah berkata bahwa Iblis adalah ayah dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah ayah dari bangsa manusia.
---------------------
Bumi mulai mengeluhkan mereka kepada Allah, "Wahai Tuhanku, apakah Kau ciptakan aku untuk didiami oleh penghuni yang durhaka?" Allah Ta'ala menjawab, "Wahai bumi, bersabarlah, Aku akan mengirimkan para nabi diantara mereka untuk memimpin mereka kembali ke jalan yang lurus."
Sampai waktu itu tidak ada nabi yang nampak diantara Jinn itu. Allah mengirim kepada mereka 800 nabi dan masing-masing mereka bunuh. Pada akhirnya Allah Ta'ala berkata kepada Azazil di langit pertama. Tuhan berkata kepadanya, "Pergilah, Azazil! Pergi dan perangilah mereka yang tak beriman dari kaummu yang tinggal di atas bumi."
Azazil yang patuh, turun ke bumi dan memerangi kaum (jinn) yang tak beriman itu, ia menaklukkan mereka, kemudian Allah menurunkan api dari langit yang melahap habis mereka, yang tersisa dan dapat menyelamatkan diri ke tengah-tengah samudera. Hanya Jinn yang beriman dan beribadah yang dibiarkan hidup.
Azazil beribadah dengan sangat bersungguh-sungguh hingga ia diangkat ke langit yang pertama, atau menurut satu riwayat, ia telah banyak beribadah di langit pertama hingga ia diangkat ke seluruh tujuh lapisan-lapisan langit dan yang di atasnya. Siapakah Azazil ...?
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
Misalnya, sekarang tahun 2016, berarti kira-kira Adam diciptakan 8016 tahun yang lalu. Sedangkan bumi telah ada jutaan tahun sebelum Adam diciptakan.
Sebelum Adam diciptakan oleh Allah Ta'ala, bumi telah dihuni oleh salah satu kabilah Al-Jinn, yaitu salah satu kabilah malaikat yang paling mulia. Dari Wahab ibn Munabbih: Tuhan semesta alam menciptakan api Sammum. Dari api Sammum ini Dia menciptakan Jinn. Sammum adalah angin yang sangat panas membakar, atau api yang tidak berasap. Ketika Allah menghendaki sesuatu maka terbakarlah satu hijab, dari api yang membakar hijab inilah kabilah jin diciptakan.
Dinamakan Kabilah Al-Jinn karena kabilah ini menjadi khazanah perbendaharaan surga (Khuzzan al-Jannah), untuk itulah disebut Al-Jannah (taman atau surga). Kata "jinn" dan "jannah" memiliki akar kata yang sama. Dan miniatur surga yang paling memenuhi syarat dari kesekian planet di jagad raya adalah bumi. Maka Tuhan memberi mereka bumi untuk tinggal di tempat itu, dan mereka hidup dan beribadah di sana dalam waktu yang lama.
(Simak juga : Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam?)
Tersebutlah ia bernama Jann, nenek moyang bangsa jin yang menghuni bumi. Banyaknya ibadah yang ia kerjakan membuat para malaikat merasa kagum, dan berkata kepada Tuhan langit dan bumi, “Wahai Tuhan kami, angkatlah mereka ke langit, sehingga kami mungkin belajar dari mereka dan mengikuti contoh baik mereka."
Maka Allah mengangkat dan mendidik Jann agar men-jadi salah satu diantara para malaikat dan ia hidup dengan mereka di langit pertama, kemudian Jann disebut dengan nama kemalaikatannya yang baru, yaitu Azazil. Sementara kaum jin yang lain —yang masih tinggal di atas bumi— sebagian hidup dalam kebenaran, sedangkan sebagian yang lain menjadi pendosa dan melanggar hukum.
---------------------
Tafsir Al-Qurthubi yang ditulis oleh ulama besar dari Qurthubah, Spanyol, cukup luas membahas ayat-ayat Al-Quran serta menjelaskan banyak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Di sana disebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa Iblis termasuk yang diwajibkan untuk bersujud, karena saat itu Iblis masih termasuk ke dalam kategori malaikat.
Simak bin Harb meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, "Iblis dulunya adalah bagian dari malaikat, namun ketika dia bermaksiat Allah SWT marah kepadanya. Lalu Allah melaknatnya hingga menjadi syetan."
Masih menurut Ibnu Abbas ra, Iblis itu dahulu adalah malaikat yang bernama Azazil. Azazil termasuk senior malaikat. Dalam riwayat yang lain, namanya Al-Harits. Nama Azazil adalah nama dalam bahasa Ibrani dan Al-Harits adalah nama dalam Arab.
Menurut Al-Mawardi yang menceritakan dari Qatadah, "Iblis itu awalnya jenis yang paling afdhal dari jenis-jenis malaikat. Namanya Al-Jinnah"
Said bin Jubair berkata bahwa jin adalah bagian dari malaikat, tetapi dari jenis yang diciptakan dari api, dan iblis termasuk bagian ini. Sedangkan keseluruhan malaikat terbuat dari cahaya.
Ibu Zaid, Hasan dan Qatadah berkata bahwa Iblis adalah ayah dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah ayah dari bangsa manusia.
---------------------
Bumi mulai mengeluhkan mereka kepada Allah, "Wahai Tuhanku, apakah Kau ciptakan aku untuk didiami oleh penghuni yang durhaka?" Allah Ta'ala menjawab, "Wahai bumi, bersabarlah, Aku akan mengirimkan para nabi diantara mereka untuk memimpin mereka kembali ke jalan yang lurus."
Sampai waktu itu tidak ada nabi yang nampak diantara Jinn itu. Allah mengirim kepada mereka 800 nabi dan masing-masing mereka bunuh. Pada akhirnya Allah Ta'ala berkata kepada Azazil di langit pertama. Tuhan berkata kepadanya, "Pergilah, Azazil! Pergi dan perangilah mereka yang tak beriman dari kaummu yang tinggal di atas bumi."
Azazil yang patuh, turun ke bumi dan memerangi kaum (jinn) yang tak beriman itu, ia menaklukkan mereka, kemudian Allah menurunkan api dari langit yang melahap habis mereka, yang tersisa dan dapat menyelamatkan diri ke tengah-tengah samudera. Hanya Jinn yang beriman dan beribadah yang dibiarkan hidup.
Azazil beribadah dengan sangat bersungguh-sungguh hingga ia diangkat ke langit yang pertama, atau menurut satu riwayat, ia telah banyak beribadah di langit pertama hingga ia diangkat ke seluruh tujuh lapisan-lapisan langit dan yang di atasnya. Siapakah Azazil ...?
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
10.09.00
Bangsa Jin diciptakan oleh Allah dari nyala api (min marij min nar), sedangkan malaikat dari cahaya (nur). Api (nar) dan cahaya (nur) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata yang sama, yaitu terdiri dari huruf nun-waw-ra’. (Baca Sebelumnya: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam AS)
Iblis adalah bapak dari kaum Jin, sebagaimana Adam adalah bapak dari manusia. Iblis yang sebelumnya termasuk malaikat yang tercipta dari cahaya (nur), karena ia berputus asa dari rahmat Allah (dengan tidak mau bersujud kepada Adam) maka diturunkanlah derajat kecahayaannya dari nur menjadi nar. Turun tingkat energi (frekuensi) nya namun meningkat pada panjang gelombangnya.
Nur (cahaya) dan nar (api), keduanya sama-sama cahaya, hanya berbeda spektrum. Sebagaimana dalam spektrum cahaya yang biasa kita sebut untuk warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Semua warna cahaya yang bisa kita sebut hanya berasal dari tiga cahaya: merah-hijau-biru, yang biasa disebut dalam istilah teknologi warna sebagai RGB (red-green-blue). Warna-warna lain adalah campuran dari dua atau tiga cahaya tersebut dengan proporsi tertentu.
Manusia mempunyai potensi setan dan malaikat. Jika baik, ia bisa melebihi malaikat. Jika buruk, ia bahkan bisa lebih rendah dari setan, serendah-rendahnya (asfala safilin). Kita hampir sering lupa bahwa kita adalah manusia yang bisa salah dan juga bisa benar. Betapa sibuknya kita menuntut orang lain agar selalu sempurna, selalu baik seperti malaikat. Di saat lain, kita hampir-hampir merasakan nikmat mengutuk sesama saudara yang berbeda aliran, seolah-olah mereka adalah setan.
FASTA’IDZ BILLAH (maka berlindunglah kepada Allah)
Kalimat ta’âwudz (kalimat meminta perlindungan yang biasa kita kenal adalah:
A'udzubillahi Minasy Syaithanir Rajim
"Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk."
Dalam surah Al-A'raf (7):200, "Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syetan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (as-samî’ al-‘alîm)."
Maka redaksi lain dari kalimat ta'awudz adalah:
A'udzu billahis Sami'il 'Alim, Minasy Syaythanir Rajim"
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari (godaan) setan yang terkutuk."
Dari struktur kalimat ta’awudz, kita diperintahkan agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Muncullah pertanyaan, “Mengapa dari setan, bukan dari iblis? Bukankah makhluk pertama yang disebut setan adalah Iblis yang asalnya bernama Azazil?”
Dalam beberapa ayat disebutkan persamaan figur antara iblis dan setan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Iblis adalah namanya, sedangkan setan adalah sifat dan perbuatannya. Iblis dari golongan jin, dan setan bisa berasal dari golongan jin dan manusia.
Dalam perintah agar minta perlindungan kepada Allah ini tersirat makna bahwa Iblis jelas lebih banyak dalam hal ilmu, iman, amal sampai ibadah. Bahkan Iblis semasa masih bernama Azazil telah menghuni surga dan seluruh lapisan langit telah ia ketahui dan jelajahi. Maka, hanya Allah yang akan dapat melindungi kita dari tipu daya Iblis.
Namun, dalam struktur kalimat ta’awudz kita tidak diperintahkan untuk berlindung dari Iblis, tetapi dari setan. Siapa setan dan siapa Iblis?
Iblis disebutkan dalam surah Al-Kahfi [18] ayat 50, “kâna minal jinn” (adalah dia (iblis, dulunya) dari golongan jin), termasuk golongan jin, bukan manusia. Iblis adalah nama salah satu makhluk dari bangsa jin. Menurut riwayat Ibnu Abbas, Iblis adalah bapak moyangnya jinn sebagaimana Adam adalah bapak moyangnya manusia.
Dalam surah Al-Jinn (72) ayat 1 sampai 15 banyak kita ketahui informasi kehidupan bangsa jin. Bahwa sebelum Muhammad diutus sebagai Rasul, bangsa jin masih dapat menempati beberapa tempat di langit untuk mendengarkan berita-berita dari para malaikat. Bahwa diantara bangsa jin juga ada yang mengikuti ajaran para nabi dari bangsa manusia sejak Adam hingga Isa, ada yang saleh dan ada yang tidak. Dengan demikian ada sebutan jin muslim dan jin kafir.
Sedangkan setan adalah sifat buruk yang bisa mungkin dimiliki oleh bangsa jin maupun manusia. Kata “setan” (syaythân) berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf Syin-Thâ’-Nûn, yang bermakna “ba’uda” (jauh) dan “khâlafa” (menyalahi, mengingkari). Jadi, siapapun, baik jin atau manusia, jika menjauhkan diri, menyalahi atau mengingkari tujuan penciptaan (yaitu untuk beribadah kepada Allah), maka ia bisa disebut “setan”.
Dalam firman Allah surah Al-An’âm [6] ayat 112 disebut-kan frase “syayâthîn al-ins wa al-jinn” (setan-setan dari golongan manusia dan jin), dan merekalah yang menjadi musuh setiap para nabi. Sehingga pula dalam surah An-Nâs kita disuruh berlindung kepada Allah dari bisikan jahat setan-setan yang tersembunyi (khannâs) yang berasal dari golongan jin dan manusia (minal jinnati wan nâs).
Telah ditegaskan dalam firman Allah QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 56, bahwa jin dan manusia diciptakan untuk ya’budûn (menyembah, mengabdi, beribadah dan menghamba). Jadi, hanya dua jenis makhluk yang diberi kewajiban menyembah atau beribadah, yaitu bangsa jin dan bangsa manusia. Artinya, yang memiliki pilihan baik-buruk, sehingga akan mendapat surga atau neraka, adalah jin dan manusia. Sedangkan makhluk lain, malaikat, tumbuhan, hewan dan benda-benda tidak termasuk yang diberi kewajiban, tidak memiliki pilihan selain hanya beribadah, bertasbih dan bersujud kepada Allah dengan caranya masing-masing.
Untuk itulah jika siapa saja dari bangsa jin dan manusia tidak berada pada jalanNya, maka mereka akan menjadi supporter neraka, seperti firman: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama”. (QS. As-Sajdah (32): 13)
Setan disebut "musuh yang nyata" bukan nyata dalam hal pandangan mata, bukan maksudnya bahwa setan itu bisa dilihat mata kepala. Karena kata "nyata" yang menyifati setan tersebut dengan kata "mubin", yang berarti nyata dan jelas duduk perkara dan masalahnya. Ketidakrelaan iblis untuk mengakui keunggulan Adam sudah menjadi penjelasan (bayân) dan bukti nyata (bayyinah) bahwa ia akan terus memusuhi Adam dan keturunannya. Disebut jelas karena setan bisa berada diantara (bayna) diri kita sendiri, bahkan bisa berada di dalam diri kita sendiri.
Jadi, dalam struktur kalimat ta’awudz tersirat makna bahwa ada yang lebih berbahaya dan lebih mungkin menyesatkan daripada Iblis, yaitu sifat-sifat syaithaniyyah (satanic) yang ada dalam diri manusia sendiri, kesombongan, merasa paling baik ibadahnya, merasa paling benar, merasa paling tahu segala hal, dan sebagainya yang ujungnya adalah penuhanan diri sendiri. Dan inilah yang disebut jauh dan menyalahi/mengingkari kadar kemakhlukannya, karena yang berhak sombong, yang paling sempurna, yang paling tahu, yang paling benar, tentu adalah Sang Pencipta sendiri.
Pada puncaknya, yang paling kita takuti adalah jika tipudaya itu berasal dari Allah sendiri. Karena Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, atau memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki (lihat QS. 13:27, 14:4, 16:93, 35:8, 74:31).
Azazil, yang saat itu menjadi makhluk nomor satu di langit dan di bumi, karena Allah telah menghendaki, ia pun tersesat oleh dirinya sendiri, oleh sifat setan yang ada dalam dirinya tanpa ia sadari.
Karena melihat Azazil dikutuk oleh Allah pertama kalinya, maka Jibril, Mikail, Izra'il dan Israfil menangis memohon perlindungan kepada Allah.
Salah satu redaksi doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
.
"Aku berlindung dengan ridhaMu dari amarahMu, dan aku berlindung dengan ampunanMu dari murkaMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu."
Demikianlah. Setelah manusia dapat mengendalikan syetan dalam dirinya, maka ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Karena terhadap dirinya sendiri, manusia pun bisa sangat mudah menipu. Menipu diri sendiri. Mencurangi diri sendiri. Menghibur diri sendiri. Menganggap indah dan baik semua perbuatannya sendiri.
Bahkan setelah manusia mampu mengendalikan dirinya, yang terakhir harus dihadapi adalah Allah. Kalau Allah sudah menghendaki, apapun terjadi. 70 tahun kafir, tetapi 5 menit sebelum ajal ternyata bertobat, Allah yang berkuasa melakukan itu. 70 tahun selalu beribadah, tetapi 5 menit sebelum ajal ternyata murtad, Allah yang berhak berbuat itu. Maka, benarlah firmanNya yang sering diulang-ulang:
"Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya." (QS. An-Nisâ’ [4]: 88; lihat juga: QS. An-Nisâ’ [4]: 143; Al-A’râf [7]: 178, 186; Ar-Ra’d [13]: 33; Al-Isrâ’ [17]: 97; Al-Kahf [18]: 17; Az-Zumar [39]: 23, 36; Al-Mu’min [40]: 33; Asy-Syûrâ [42]: 44, 46)
Salah satu kesombongan terbesar adalah kita diam-diam bangga dengan jumlah ibadah yang telah kita lakukan kemudian diam-diam merasa tidak mungkin tersesat. Sedangkan Allah adalah Sebaik-baik pembuat tipudaya (Khayrul Mâkirîn, QS. Ali Imrân [3]: 54 & Al-Anfâl [8]: 30). Siapakah yang bisa lepas dari tipudaya Allah?
Oleh karena itu, dalam doa dari Nabi SAW diatas diakhiri dengan kalimat: "Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu."
Bersujudlah Kepada Ruh-Ku
Ketika Iblis ditanya oleh Allah Ta'ala, mengapa ia tidak bersedia bersujud kepada Adam, ia menjawab, "Aku lebih baik daripada dia, Kau ciptakan aku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah. Apakah aku akan bersujud kepada manusia yang telah Kau ciptakan dari tanah? Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang telah Kau muliakan atas diriku?”
(Tersurat dalam QS. Al-A'raf (7):12; Al-Isra' (17):61; Al-Isra' (17):62).
Dari jawaban Iblis tersebut dapat dipahami bahwa ia sekedar melihat sisi lahiriah Adam yang diciptakan dari tanah bumi, yang mana saat itu masih menjadi wilayah kekuasaannya. Ia tidak (atau tidak mau) melihat sisi baathiniyah Adam, bahwa Ruh Allah ada di dalam diri Adam. Kepada Ruh-Nya inilah perintah sujud tertuju, bukan kepada daging Adam atau Adam sebagai makhluk.
Iblis Harus Sujud Kepadamu (?)
Dengan mengenal kisah-kisah tersebut, maka sudah menjadi ketentuan Allah bahwa Iblis memang HARUS sujud kepada anak cucu Adam, karena Ruh Allah yang menggerakkan kehidupannya. Namun mengapa kita mengutuki iblis secara terang-terangan tetapi kita jadikan sahabat secara diam-diam?
Seorang pelacur yang memberi minum anjing dapat terampuni dosa-dosanya. Hanya sekali, dan kepada anjing pula. apalagi jika perbuatan baik itu kita berikan kepada sesama manusia, sesama saudara seagama pula?
Namun mengapa sepertinya sulit memberikan ruang dan kesempatan bagi sesama saudara seagama untuk beribadah sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sekali lagi, hanya berbuat baik kepada anjing dapat terampuni dosa-dosa kita.
Betapa terlenanya, kita mengutuki sesama saudara seolah-olah esok pagi kita masih bisa menjamin bahwa iman kita selalu berada dalam kebenaran. (*)
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
Iblis adalah bapak dari kaum Jin, sebagaimana Adam adalah bapak dari manusia. Iblis yang sebelumnya termasuk malaikat yang tercipta dari cahaya (nur), karena ia berputus asa dari rahmat Allah (dengan tidak mau bersujud kepada Adam) maka diturunkanlah derajat kecahayaannya dari nur menjadi nar. Turun tingkat energi (frekuensi) nya namun meningkat pada panjang gelombangnya.
Nur (cahaya) dan nar (api), keduanya sama-sama cahaya, hanya berbeda spektrum. Sebagaimana dalam spektrum cahaya yang biasa kita sebut untuk warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Semua warna cahaya yang bisa kita sebut hanya berasal dari tiga cahaya: merah-hijau-biru, yang biasa disebut dalam istilah teknologi warna sebagai RGB (red-green-blue). Warna-warna lain adalah campuran dari dua atau tiga cahaya tersebut dengan proporsi tertentu.
Manusia mempunyai potensi setan dan malaikat. Jika baik, ia bisa melebihi malaikat. Jika buruk, ia bahkan bisa lebih rendah dari setan, serendah-rendahnya (asfala safilin). Kita hampir sering lupa bahwa kita adalah manusia yang bisa salah dan juga bisa benar. Betapa sibuknya kita menuntut orang lain agar selalu sempurna, selalu baik seperti malaikat. Di saat lain, kita hampir-hampir merasakan nikmat mengutuk sesama saudara yang berbeda aliran, seolah-olah mereka adalah setan.
FASTA’IDZ BILLAH (maka berlindunglah kepada Allah)
Kalimat ta’âwudz (kalimat meminta perlindungan yang biasa kita kenal adalah:
A'udzubillahi Minasy Syaithanir Rajim
"Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk."
Dalam surah Al-A'raf (7):200, "Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syetan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (as-samî’ al-‘alîm)."
Maka redaksi lain dari kalimat ta'awudz adalah:
A'udzu billahis Sami'il 'Alim, Minasy Syaythanir Rajim"
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari (godaan) setan yang terkutuk."
Dari struktur kalimat ta’awudz, kita diperintahkan agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Muncullah pertanyaan, “Mengapa dari setan, bukan dari iblis? Bukankah makhluk pertama yang disebut setan adalah Iblis yang asalnya bernama Azazil?”
Dalam beberapa ayat disebutkan persamaan figur antara iblis dan setan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Iblis adalah namanya, sedangkan setan adalah sifat dan perbuatannya. Iblis dari golongan jin, dan setan bisa berasal dari golongan jin dan manusia.
Dalam perintah agar minta perlindungan kepada Allah ini tersirat makna bahwa Iblis jelas lebih banyak dalam hal ilmu, iman, amal sampai ibadah. Bahkan Iblis semasa masih bernama Azazil telah menghuni surga dan seluruh lapisan langit telah ia ketahui dan jelajahi. Maka, hanya Allah yang akan dapat melindungi kita dari tipu daya Iblis.
Namun, dalam struktur kalimat ta’awudz kita tidak diperintahkan untuk berlindung dari Iblis, tetapi dari setan. Siapa setan dan siapa Iblis?
Iblis disebutkan dalam surah Al-Kahfi [18] ayat 50, “kâna minal jinn” (adalah dia (iblis, dulunya) dari golongan jin), termasuk golongan jin, bukan manusia. Iblis adalah nama salah satu makhluk dari bangsa jin. Menurut riwayat Ibnu Abbas, Iblis adalah bapak moyangnya jinn sebagaimana Adam adalah bapak moyangnya manusia.
Dalam surah Al-Jinn (72) ayat 1 sampai 15 banyak kita ketahui informasi kehidupan bangsa jin. Bahwa sebelum Muhammad diutus sebagai Rasul, bangsa jin masih dapat menempati beberapa tempat di langit untuk mendengarkan berita-berita dari para malaikat. Bahwa diantara bangsa jin juga ada yang mengikuti ajaran para nabi dari bangsa manusia sejak Adam hingga Isa, ada yang saleh dan ada yang tidak. Dengan demikian ada sebutan jin muslim dan jin kafir.
Sedangkan setan adalah sifat buruk yang bisa mungkin dimiliki oleh bangsa jin maupun manusia. Kata “setan” (syaythân) berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf Syin-Thâ’-Nûn, yang bermakna “ba’uda” (jauh) dan “khâlafa” (menyalahi, mengingkari). Jadi, siapapun, baik jin atau manusia, jika menjauhkan diri, menyalahi atau mengingkari tujuan penciptaan (yaitu untuk beribadah kepada Allah), maka ia bisa disebut “setan”.
Dalam firman Allah surah Al-An’âm [6] ayat 112 disebut-kan frase “syayâthîn al-ins wa al-jinn” (setan-setan dari golongan manusia dan jin), dan merekalah yang menjadi musuh setiap para nabi. Sehingga pula dalam surah An-Nâs kita disuruh berlindung kepada Allah dari bisikan jahat setan-setan yang tersembunyi (khannâs) yang berasal dari golongan jin dan manusia (minal jinnati wan nâs).
Telah ditegaskan dalam firman Allah QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 56, bahwa jin dan manusia diciptakan untuk ya’budûn (menyembah, mengabdi, beribadah dan menghamba). Jadi, hanya dua jenis makhluk yang diberi kewajiban menyembah atau beribadah, yaitu bangsa jin dan bangsa manusia. Artinya, yang memiliki pilihan baik-buruk, sehingga akan mendapat surga atau neraka, adalah jin dan manusia. Sedangkan makhluk lain, malaikat, tumbuhan, hewan dan benda-benda tidak termasuk yang diberi kewajiban, tidak memiliki pilihan selain hanya beribadah, bertasbih dan bersujud kepada Allah dengan caranya masing-masing.
Untuk itulah jika siapa saja dari bangsa jin dan manusia tidak berada pada jalanNya, maka mereka akan menjadi supporter neraka, seperti firman: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama”. (QS. As-Sajdah (32): 13)
Setan disebut "musuh yang nyata" bukan nyata dalam hal pandangan mata, bukan maksudnya bahwa setan itu bisa dilihat mata kepala. Karena kata "nyata" yang menyifati setan tersebut dengan kata "mubin", yang berarti nyata dan jelas duduk perkara dan masalahnya. Ketidakrelaan iblis untuk mengakui keunggulan Adam sudah menjadi penjelasan (bayân) dan bukti nyata (bayyinah) bahwa ia akan terus memusuhi Adam dan keturunannya. Disebut jelas karena setan bisa berada diantara (bayna) diri kita sendiri, bahkan bisa berada di dalam diri kita sendiri.
Jadi, dalam struktur kalimat ta’awudz tersirat makna bahwa ada yang lebih berbahaya dan lebih mungkin menyesatkan daripada Iblis, yaitu sifat-sifat syaithaniyyah (satanic) yang ada dalam diri manusia sendiri, kesombongan, merasa paling baik ibadahnya, merasa paling benar, merasa paling tahu segala hal, dan sebagainya yang ujungnya adalah penuhanan diri sendiri. Dan inilah yang disebut jauh dan menyalahi/mengingkari kadar kemakhlukannya, karena yang berhak sombong, yang paling sempurna, yang paling tahu, yang paling benar, tentu adalah Sang Pencipta sendiri.
Pada puncaknya, yang paling kita takuti adalah jika tipudaya itu berasal dari Allah sendiri. Karena Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, atau memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki (lihat QS. 13:27, 14:4, 16:93, 35:8, 74:31).
Azazil, yang saat itu menjadi makhluk nomor satu di langit dan di bumi, karena Allah telah menghendaki, ia pun tersesat oleh dirinya sendiri, oleh sifat setan yang ada dalam dirinya tanpa ia sadari.
Karena melihat Azazil dikutuk oleh Allah pertama kalinya, maka Jibril, Mikail, Izra'il dan Israfil menangis memohon perlindungan kepada Allah.
Salah satu redaksi doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
.
"Aku berlindung dengan ridhaMu dari amarahMu, dan aku berlindung dengan ampunanMu dari murkaMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu."
Demikianlah. Setelah manusia dapat mengendalikan syetan dalam dirinya, maka ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Karena terhadap dirinya sendiri, manusia pun bisa sangat mudah menipu. Menipu diri sendiri. Mencurangi diri sendiri. Menghibur diri sendiri. Menganggap indah dan baik semua perbuatannya sendiri.
Bahkan setelah manusia mampu mengendalikan dirinya, yang terakhir harus dihadapi adalah Allah. Kalau Allah sudah menghendaki, apapun terjadi. 70 tahun kafir, tetapi 5 menit sebelum ajal ternyata bertobat, Allah yang berkuasa melakukan itu. 70 tahun selalu beribadah, tetapi 5 menit sebelum ajal ternyata murtad, Allah yang berhak berbuat itu. Maka, benarlah firmanNya yang sering diulang-ulang:
"Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya." (QS. An-Nisâ’ [4]: 88; lihat juga: QS. An-Nisâ’ [4]: 143; Al-A’râf [7]: 178, 186; Ar-Ra’d [13]: 33; Al-Isrâ’ [17]: 97; Al-Kahf [18]: 17; Az-Zumar [39]: 23, 36; Al-Mu’min [40]: 33; Asy-Syûrâ [42]: 44, 46)
Salah satu kesombongan terbesar adalah kita diam-diam bangga dengan jumlah ibadah yang telah kita lakukan kemudian diam-diam merasa tidak mungkin tersesat. Sedangkan Allah adalah Sebaik-baik pembuat tipudaya (Khayrul Mâkirîn, QS. Ali Imrân [3]: 54 & Al-Anfâl [8]: 30). Siapakah yang bisa lepas dari tipudaya Allah?
Oleh karena itu, dalam doa dari Nabi SAW diatas diakhiri dengan kalimat: "Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu."
Bersujudlah Kepada Ruh-Ku
Ketika Iblis ditanya oleh Allah Ta'ala, mengapa ia tidak bersedia bersujud kepada Adam, ia menjawab, "Aku lebih baik daripada dia, Kau ciptakan aku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah. Apakah aku akan bersujud kepada manusia yang telah Kau ciptakan dari tanah? Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang telah Kau muliakan atas diriku?”
(Tersurat dalam QS. Al-A'raf (7):12; Al-Isra' (17):61; Al-Isra' (17):62).
Dari jawaban Iblis tersebut dapat dipahami bahwa ia sekedar melihat sisi lahiriah Adam yang diciptakan dari tanah bumi, yang mana saat itu masih menjadi wilayah kekuasaannya. Ia tidak (atau tidak mau) melihat sisi baathiniyah Adam, bahwa Ruh Allah ada di dalam diri Adam. Kepada Ruh-Nya inilah perintah sujud tertuju, bukan kepada daging Adam atau Adam sebagai makhluk.
Iblis Harus Sujud Kepadamu (?)
Dengan mengenal kisah-kisah tersebut, maka sudah menjadi ketentuan Allah bahwa Iblis memang HARUS sujud kepada anak cucu Adam, karena Ruh Allah yang menggerakkan kehidupannya. Namun mengapa kita mengutuki iblis secara terang-terangan tetapi kita jadikan sahabat secara diam-diam?
Seorang pelacur yang memberi minum anjing dapat terampuni dosa-dosanya. Hanya sekali, dan kepada anjing pula. apalagi jika perbuatan baik itu kita berikan kepada sesama manusia, sesama saudara seagama pula?
Namun mengapa sepertinya sulit memberikan ruang dan kesempatan bagi sesama saudara seagama untuk beribadah sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sekali lagi, hanya berbuat baik kepada anjing dapat terampuni dosa-dosa kita.
Betapa terlenanya, kita mengutuki sesama saudara seolah-olah esok pagi kita masih bisa menjamin bahwa iman kita selalu berada dalam kebenaran. (*)
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
10.09.00
Di suatu masa, tibalah saatnya ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah Ta'ala. (Baca Sebelumnya: Azazil Kekasih Allah Di Masa Itu...)
"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi". Para malaikat berkata: "Mengapa hendak Kau jadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiMu dan menyucikanMu?" Tuhan menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." (QS. Al-Baqarah (2):30)
Kekhawatiran malaikat ini karena memang sebelumnya telah terjadi pertumpahan darah di bumi oleh bangsa jinn.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah." (QS. Shad (38): 71)
Dalam Bahrul 'Ulum li As-Samarqandiy 1:35, disebutkan: Kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mengambil tanah di bumi sebagai bahan penciptaan Adam. Namun bumi berkata kepada Jibril; "Atas nama Allah yang telah mengutusmu, jangan kau lakukan! karena aku takut dari tanah ini akan diciptakan makhluk yang banyak durhaka kepada Allah, sehingga aku akan malu kepadaNya."
Demikianlah argumentasi bumi yang telah lama bersahabat dengan Azazil, sehingga sangat pandai mengucap kata. Bumi menolak perintah Allah dengan bersumpah atas nama Allah, sebuah kalimat kontradiktif yang secara sepintas nampak tawadhu' namun terjadi pengingkaran perintah.
Namun karena Jibril di kala itu tidak terlatih untuk berargumentasi, maka kembalilah Jibril ke hadapan Allah. Dengan rasa sungkan, Jibril menghadap Allah sambil berkata, "Demikianlah yang terjadi, ya Tuhan! Namun jika diperintahkan turun lagi ke bumi, hamba pun akan turun."
Lalu diutuslah malaikat Mika'il, namun kejadiannya sama dengan Jibril. Begitu pula malaikat Israfil juga tak bisa berkelit dengan argumentasi bumi, hingga Israfil pun juga kembali menghadap Allah. Ini mengisyaratkan bahwa dari bumi akan tercipta dan lahir makhluk yang kedudukannya di sisi Allah bisa melebihi para malaikat.
Lalu diutuslah malaikat Izra’il, dan sebagai kalimat ketundukan sebelum melaksanakan perintah, Izrail memuji Allah dengan kalimat Baqiyatush Shalihah sampai lima kali:
"Subhanallah Wal Hamdulillah, Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar"
"Maha Suci Allah, segala puji untuk Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (izin) Allah."
Maka turunlah Izrail ke bumi, dan seperti halnya Jibril, Mikail dan Israfil, bumi pun menggertak dengan argumentasi yang hebat. Namun Izrail membalas gertakan bumi dengan berkata, "Ma amarallah awla min qawlik" (Apa yang diperintahkan Allah lebih utama dari ucapanmu). Lalu Izrail mengumpulkan tanah berwarna merah, kuning, hitam dan putih, lalu dibawa kembali menghadap Allah.
Menurut versi lain, Izrail yang kemudian ditugasi Allah untuk membentuk rupa Adam. Dan karena Izrail yang berhasil membawa tanah sebagai bakal tubuh Adam, maka Izrail yang kemudian akan ditugasi untuk mencabut nyawa Adam dan anak keturunannya, hingga nyawa Izrail sendiri.
Sesungguhnya Kami telah menciptakanmu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, … (QS. Al-A’râf (7): 11)
"Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya (Adam) dengan bersujud."
Lalu bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Azazil, dia tidak termasuk yang ikut ber-sujud, dia membangkang dan menyombongkan diri. (Selengkapnya tersurat dalam QS. Al-Baqarah (2): 30-39; Al-A'raf (7): 11-25; Al-Hijr (15): 26-31; Al-Isra’ (17): 61-65; Al-Kahfi (18): 50-51, Thaha (20): 115-124; dan Shad (38): 71-74)
Karena Azazil tidak mematuhi perintah Allah Ta'ala, maka serta merta Allah tidak memanggil dengan nama Azazil lagi, tapi dengan nama barunya, Iblis, karena ia telah berputus asa dari rahmat Allah. Ia menjadi sosok yang diramalkan dan bahkan ia kutuk selama seribu tahun.
"Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk yang (lebih) tinggi?” (QS. Shâd [38]: 75)
Bagaimana argumentasi Iblis atas ketidakpatuhannya untuk bersujud kepada Adam. Baca Selanjutnya : Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
.
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi". Para malaikat berkata: "Mengapa hendak Kau jadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiMu dan menyucikanMu?" Tuhan menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." (QS. Al-Baqarah (2):30)
Kekhawatiran malaikat ini karena memang sebelumnya telah terjadi pertumpahan darah di bumi oleh bangsa jinn.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah." (QS. Shad (38): 71)
Dalam Bahrul 'Ulum li As-Samarqandiy 1:35, disebutkan: Kemudian Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mengambil tanah di bumi sebagai bahan penciptaan Adam. Namun bumi berkata kepada Jibril; "Atas nama Allah yang telah mengutusmu, jangan kau lakukan! karena aku takut dari tanah ini akan diciptakan makhluk yang banyak durhaka kepada Allah, sehingga aku akan malu kepadaNya."
Demikianlah argumentasi bumi yang telah lama bersahabat dengan Azazil, sehingga sangat pandai mengucap kata. Bumi menolak perintah Allah dengan bersumpah atas nama Allah, sebuah kalimat kontradiktif yang secara sepintas nampak tawadhu' namun terjadi pengingkaran perintah.
Namun karena Jibril di kala itu tidak terlatih untuk berargumentasi, maka kembalilah Jibril ke hadapan Allah. Dengan rasa sungkan, Jibril menghadap Allah sambil berkata, "Demikianlah yang terjadi, ya Tuhan! Namun jika diperintahkan turun lagi ke bumi, hamba pun akan turun."
Lalu diutuslah malaikat Mika'il, namun kejadiannya sama dengan Jibril. Begitu pula malaikat Israfil juga tak bisa berkelit dengan argumentasi bumi, hingga Israfil pun juga kembali menghadap Allah. Ini mengisyaratkan bahwa dari bumi akan tercipta dan lahir makhluk yang kedudukannya di sisi Allah bisa melebihi para malaikat.
Lalu diutuslah malaikat Izra’il, dan sebagai kalimat ketundukan sebelum melaksanakan perintah, Izrail memuji Allah dengan kalimat Baqiyatush Shalihah sampai lima kali:
"Subhanallah Wal Hamdulillah, Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar"
"Maha Suci Allah, segala puji untuk Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (izin) Allah."
Maka turunlah Izrail ke bumi, dan seperti halnya Jibril, Mikail dan Israfil, bumi pun menggertak dengan argumentasi yang hebat. Namun Izrail membalas gertakan bumi dengan berkata, "Ma amarallah awla min qawlik" (Apa yang diperintahkan Allah lebih utama dari ucapanmu). Lalu Izrail mengumpulkan tanah berwarna merah, kuning, hitam dan putih, lalu dibawa kembali menghadap Allah.
Menurut versi lain, Izrail yang kemudian ditugasi Allah untuk membentuk rupa Adam. Dan karena Izrail yang berhasil membawa tanah sebagai bakal tubuh Adam, maka Izrail yang kemudian akan ditugasi untuk mencabut nyawa Adam dan anak keturunannya, hingga nyawa Izrail sendiri.
Sesungguhnya Kami telah menciptakanmu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, … (QS. Al-A’râf (7): 11)
"Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya (Adam) dengan bersujud."
Lalu bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Azazil, dia tidak termasuk yang ikut ber-sujud, dia membangkang dan menyombongkan diri. (Selengkapnya tersurat dalam QS. Al-Baqarah (2): 30-39; Al-A'raf (7): 11-25; Al-Hijr (15): 26-31; Al-Isra’ (17): 61-65; Al-Kahfi (18): 50-51, Thaha (20): 115-124; dan Shad (38): 71-74)
Karena Azazil tidak mematuhi perintah Allah Ta'ala, maka serta merta Allah tidak memanggil dengan nama Azazil lagi, tapi dengan nama barunya, Iblis, karena ia telah berputus asa dari rahmat Allah. Ia menjadi sosok yang diramalkan dan bahkan ia kutuk selama seribu tahun.
"Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk yang (lebih) tinggi?” (QS. Shâd [38]: 75)
Bagaimana argumentasi Iblis atas ketidakpatuhannya untuk bersujud kepada Adam. Baca Selanjutnya : Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
.
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
12.19.00
Petunjuk-petunjuk Bagi Adam di Bumi
Diriwayatkan, sesungguhnya ketika Adam AS keluar dari surga, ia menutupi tubuhnya dengan daun surga. Ketika sampai di bumi, daun itu menjadi kering dan rontok jatuh ke permukaan bumi, maka semua wewangian di Hindia asalnya adalah dari daun tersebut.
Diceritakan bahwa Allah ta'ala menurunkan kepada Adam delapan pasangan dari hewan (lembu) dari kambing dua pasangan, dari domba dua pasangan. Dan Allah memerintahkan kepada Adam agar minum dari air susunya dan menggunakan pakaian dari bulu-bulunya.
Ketika Adam dan Hawa menangis karena nikmat surga telah putus bagi mereka maka dari tetesan air mata mereka, tumbuhlah kacang hijau dan kacang tanah.
Diceritakan bahwa Adam mengadu kepada Allah, lalu berkata: "Ya Allah, saya tidak mengetahui waktu-waktu untuk beribadah."
Allah pun menurunkan kepadanya seekor ayam putih dari surga sebesar unta. Saat para malaikat memperdengarkan tasbih di langit, maka ayam itu turut 'bertasbih' (berkokok) di bumi dengan demikian Adam mengetahui bahwa saat itu adalah waktu untuk beribadah.
Kemudian Adam menebang pohon-pohon dan menggali sumur-sumur serta membangun rumah. Lalu Allah menurunkan dua puluh satu lampiran yang didalamnya tertera hukum haramnya bangkai, darah, daging babi dan sebagainya.
Allah pun menurunkan huruf-huruf hijaiyyah pada Adam yang jumlahnya ada 29. Dan tak satu pun manusia mampu menambahkannya walaupun satu huruf, maka sesungguhnya hukum tuhan itu sangat tegak dan kokoh. Adam belajar dari huruf-huruf itu agar bisa membaca shuhuf (lampiran) itu.
Referensi - Kitab Bada'iz Zuhur - Imam Jalaludin As Suyuthi
Siti Hawa Memiliki Keturunan
Imam Tsa'labi berkata: "Ketika Ibu Hawa hamil, seketika janinnya bisa bergerak. Ia lalu kaget dan berkata; "...dari mana yang bergerak ini bisa keluar dariku?"
Saat tiba waktunya melahirkan, maka lahirlah anak kembar laki-laki dan perempuan, diberi nama Habil dan Layutsa.
Selepas masa melahirkan dan sudah suci, Adam pun berkeinginan melakukan hubungan badan lagi. Tetapi Hawa menolaknya karena ia telah merasakan betapa sakitnya saat melahirkan. Adam selalu merayunya sampai akhirnya Hawa mau melakukannya lagi.
Dikatakan bahwa wanita itu pura-pura tidak mau padahal sebenarnya sangat menyukai hubungan badan tapi takut pada saat melahirkan, sebagaimana para ahli hukum menjelaskan bahwa syahwat laki-laki itu satu sedangkan perempuan itu sembilan, akan tetapi para wanita itu tertutup malu sehingga mereka tidak memperlihatkannya, itu karena adanya taufiq sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang artinya:
"Mereka (para wanita) menolak tapi sebenarnya mereka sangatlah suka."
Imam tsa'labi berkata:
"Ibu Hawa hamil lagi yang kedua dan lahirlah dua anak kembar laki-laki dan perempuan dalam satu kandungan, lalu mereka diberi nama Qabil dan Iqlima."
Dikatakan Hawa mengandung dan melahirkan sebanyak dua puluh kali, disetiap satu kandungan melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempun maka jumlah anaknya adalah empat puluh orang, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Dikatakan lagi bahwa anaknya ada dua ratus dan tidak pernah melahirkan satu anak dalam satu kandungan kecuali Syits, yang dikeningnya terdapat Nur Musthafa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dikatakan lagi bahwa anak cucu Adam bertambah terus selama Adam hidup sampai berjumlah kurang lebih empat puluh ribu orang, yang terdiri dari laki- laki dan perempuan.
Sebagaimana dalam firman Allah:
"Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain.Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Diceritakan bahwa di saat anak cucu Adam berkembang biak menjadi banyak, mereka saling bertengkar, lalu Allah menurunkan tongkat dari surga pada Adam untuk mendidik mereka yang durhaka oleh karena inilah dikatakan bahwa sesungguhnya tongkat itu dari surga.
Lahirnya Syits AS, Wafatnya Adam AS
Imam tsa’labi menyebutkan; Ketika Syits lahir dan tumbuh dewasa, Adam kemudian menyendiri untuk beribadah kepada Allah dan membaca suhuf, lalu segala urusan saudaranya dipegang dan dikendalikan oleh Syits. Disaat menyendiri Adam mendapatkan wahyu dari Allah:
"Wahai Adam, Aku wasiatkan kepada anakmu Syits dengan apa yang Ku-wasiatkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan memberikan kamu rasa kematian yang aku telah pastikan itu, juga kepada anak cucumu sampai hari kiamat."
Perkataan itu membuat Adam terkejut, dan berkata,
"Wahai Tuhan, apa itu kematian yang telah kau janjikan itu?"
Kemudian Adam meminta Syits datang dan memberikannya wasiat yang banyak, sampai kabar tentang akan datangnya taufan (angin dan banjir) yang membinasakan semua isi alam, juga memberitahukan tentang waktu-waktu ibadah dari malam sampai siang.
Kemudian Adam memberikan ia sejenis kalung yang Adam bawa dari surga dan memerintahkannya untuk melipatkan serta meletakkan di dalam kotak dan menguncinya.
Kemudian Adam mengambil jenggotnya dan meletakan itu kedalam 'tabuut' (kotak) lalu berkata:
"Wahai anakku, ambilah bulu jenggotku ini, apabila engkau mendapatkan perkara yang membuatmu bingung maka bawalah, maka engkau akan mampu mengalahkan musuhmu selama jenggot ini bersamamu, dan jika engkau telah melihat jenggot ini memutih maka ketahuilah bahwa ajalmu telah dekat dan engkau akan mati pada tahun itu."
Kemudian Adam mencabut cincinnya dan memberikan kepada Syits lalu, menyerahkan tabut serta shuhuf yang diturunkan kepadanya (Adam) dan berkata:
"Wahai anakku, perangilah saudaramu Qabil karena sesungguhnya Allah akan memberikan kemenangan atasmu."
Diceritakan bahwa Adam hidup di dunia ini sampai berumur seribu tahun dari diturunkannya ia ke dunia.
Sebuah Kabar yang Mengagumkan
Diceritakan bahwa iblis mendatangi nabi Musa Bin imron dan berbicara:
"Jika engkau bermunajat kepada Tuhanmu, maka mintalah syafaat untukku dan tanyakan apakah masih diterima taubatku jika aku bertaubat?"
Dan disaat Musa bermunajat kepada Allah, ia bertanya:
"Ya tuhan, apakah engkau mau menerima taubatnya iblis jika ia bertaubat?"
Maka Allah Azza Wa jalla menjawab,
"Sudah terlewat dalam ilmu-Ku bahwa dia tidak akan bertaubat tapi Aku Maha menerima taubat dan Maha penyayang, jika dia ingin taubat maka bersujudlah ia pada Adam, jika dia sujud pada kuburnya Adam maka aku akan menerima taubatnya."
Ketika Musa sudah pulang dari munajatnya, maka iblis menemuinya, dan bertanya:
"Hai Musa, apakah engkau telah menyampaikan hajatku?"
Musa menjawab:
"Masalahmu tergantung pada sujudmu dikuburan nabi Adam."
Lalu iblis menjawab:
"Aku enggan sujud pada Adam sewaktu dia masih hidup, bagaimana mungkin aku mau bersujud padanya yang sekarang sudah mati."
Diceritakan bahwa iblis ketika menjelang ajalnya, Allah memerintahkan prajurit-prajuritnya malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya, lalu iblis lari ke semua arah laut dan darat tapi tidak menemukan tempat aman sehingga sampai pada makam Adam AS lalu bersujudlah ia pada makam itu,lalu dikatakan padanya:
"Allah telah menutup pintu taubat maka taubatmu tidak akan diterima."
Setelah jelas tidak akan diterima maka iblis berkata dan pura-pura tidak tahu:
"Andai aku tahu bahwa ini adalah kuburannya Adam, maka aku akan berdiam diri disini dan bersujud."
Kemudian para malaikat mengepungnya dan malaikat izrail mencabut nyawanya dengan keras.
Diceritakan di waktu hari kiamat dan semua penduduk surga telah masuk kedalam surga serta semua penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, Allah memerintahkan agar iblis dikeluarkan dari neraka pada setiap 100 ribu tahun sekali, dan diperintahkan Adam supaya dikeluarkan juga, lalu Allah memberi perintah kepada iblis supaya sujud pada Adam, akan tetapi iblis enggan melakukan sujud, Kemudian ia dimasukkan kedalam neraka lagi dan Adam dimasukkan kesurga lagi.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya syetan bagi manusia adalah musuh yang nyata."
Ditulis kembali oleh Erwin E Ananto | Jumrah.com
Diriwayatkan, sesungguhnya ketika Adam AS keluar dari surga, ia menutupi tubuhnya dengan daun surga. Ketika sampai di bumi, daun itu menjadi kering dan rontok jatuh ke permukaan bumi, maka semua wewangian di Hindia asalnya adalah dari daun tersebut.
Diceritakan bahwa Allah ta'ala menurunkan kepada Adam delapan pasangan dari hewan (lembu) dari kambing dua pasangan, dari domba dua pasangan. Dan Allah memerintahkan kepada Adam agar minum dari air susunya dan menggunakan pakaian dari bulu-bulunya.
Ketika Adam dan Hawa menangis karena nikmat surga telah putus bagi mereka maka dari tetesan air mata mereka, tumbuhlah kacang hijau dan kacang tanah.
Diceritakan bahwa Adam mengadu kepada Allah, lalu berkata: "Ya Allah, saya tidak mengetahui waktu-waktu untuk beribadah."
Allah pun menurunkan kepadanya seekor ayam putih dari surga sebesar unta. Saat para malaikat memperdengarkan tasbih di langit, maka ayam itu turut 'bertasbih' (berkokok) di bumi dengan demikian Adam mengetahui bahwa saat itu adalah waktu untuk beribadah.
Kemudian Adam menebang pohon-pohon dan menggali sumur-sumur serta membangun rumah. Lalu Allah menurunkan dua puluh satu lampiran yang didalamnya tertera hukum haramnya bangkai, darah, daging babi dan sebagainya.
Allah pun menurunkan huruf-huruf hijaiyyah pada Adam yang jumlahnya ada 29. Dan tak satu pun manusia mampu menambahkannya walaupun satu huruf, maka sesungguhnya hukum tuhan itu sangat tegak dan kokoh. Adam belajar dari huruf-huruf itu agar bisa membaca shuhuf (lampiran) itu.
Referensi - Kitab Bada'iz Zuhur - Imam Jalaludin As Suyuthi
Siti Hawa Memiliki Keturunan
Imam Tsa'labi berkata: "Ketika Ibu Hawa hamil, seketika janinnya bisa bergerak. Ia lalu kaget dan berkata; "...dari mana yang bergerak ini bisa keluar dariku?"
Saat tiba waktunya melahirkan, maka lahirlah anak kembar laki-laki dan perempuan, diberi nama Habil dan Layutsa.
Selepas masa melahirkan dan sudah suci, Adam pun berkeinginan melakukan hubungan badan lagi. Tetapi Hawa menolaknya karena ia telah merasakan betapa sakitnya saat melahirkan. Adam selalu merayunya sampai akhirnya Hawa mau melakukannya lagi.
Dikatakan bahwa wanita itu pura-pura tidak mau padahal sebenarnya sangat menyukai hubungan badan tapi takut pada saat melahirkan, sebagaimana para ahli hukum menjelaskan bahwa syahwat laki-laki itu satu sedangkan perempuan itu sembilan, akan tetapi para wanita itu tertutup malu sehingga mereka tidak memperlihatkannya, itu karena adanya taufiq sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang artinya:
"Mereka (para wanita) menolak tapi sebenarnya mereka sangatlah suka."
Imam tsa'labi berkata:
"Ibu Hawa hamil lagi yang kedua dan lahirlah dua anak kembar laki-laki dan perempuan dalam satu kandungan, lalu mereka diberi nama Qabil dan Iqlima."
Dikatakan Hawa mengandung dan melahirkan sebanyak dua puluh kali, disetiap satu kandungan melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempun maka jumlah anaknya adalah empat puluh orang, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Dikatakan lagi bahwa anaknya ada dua ratus dan tidak pernah melahirkan satu anak dalam satu kandungan kecuali Syits, yang dikeningnya terdapat Nur Musthafa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dikatakan lagi bahwa anak cucu Adam bertambah terus selama Adam hidup sampai berjumlah kurang lebih empat puluh ribu orang, yang terdiri dari laki- laki dan perempuan.
Sebagaimana dalam firman Allah:
"Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain.Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Diceritakan bahwa di saat anak cucu Adam berkembang biak menjadi banyak, mereka saling bertengkar, lalu Allah menurunkan tongkat dari surga pada Adam untuk mendidik mereka yang durhaka oleh karena inilah dikatakan bahwa sesungguhnya tongkat itu dari surga.
Lahirnya Syits AS, Wafatnya Adam AS
Imam tsa’labi menyebutkan; Ketika Syits lahir dan tumbuh dewasa, Adam kemudian menyendiri untuk beribadah kepada Allah dan membaca suhuf, lalu segala urusan saudaranya dipegang dan dikendalikan oleh Syits. Disaat menyendiri Adam mendapatkan wahyu dari Allah:
"Wahai Adam, Aku wasiatkan kepada anakmu Syits dengan apa yang Ku-wasiatkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan memberikan kamu rasa kematian yang aku telah pastikan itu, juga kepada anak cucumu sampai hari kiamat."
Perkataan itu membuat Adam terkejut, dan berkata,
"Wahai Tuhan, apa itu kematian yang telah kau janjikan itu?"
Kemudian Adam meminta Syits datang dan memberikannya wasiat yang banyak, sampai kabar tentang akan datangnya taufan (angin dan banjir) yang membinasakan semua isi alam, juga memberitahukan tentang waktu-waktu ibadah dari malam sampai siang.
Kemudian Adam memberikan ia sejenis kalung yang Adam bawa dari surga dan memerintahkannya untuk melipatkan serta meletakkan di dalam kotak dan menguncinya.
Kemudian Adam mengambil jenggotnya dan meletakan itu kedalam 'tabuut' (kotak) lalu berkata:
"Wahai anakku, ambilah bulu jenggotku ini, apabila engkau mendapatkan perkara yang membuatmu bingung maka bawalah, maka engkau akan mampu mengalahkan musuhmu selama jenggot ini bersamamu, dan jika engkau telah melihat jenggot ini memutih maka ketahuilah bahwa ajalmu telah dekat dan engkau akan mati pada tahun itu."
Kemudian Adam mencabut cincinnya dan memberikan kepada Syits lalu, menyerahkan tabut serta shuhuf yang diturunkan kepadanya (Adam) dan berkata:
"Wahai anakku, perangilah saudaramu Qabil karena sesungguhnya Allah akan memberikan kemenangan atasmu."
Diceritakan bahwa Adam hidup di dunia ini sampai berumur seribu tahun dari diturunkannya ia ke dunia.
Sebuah Kabar yang Mengagumkan
Diceritakan bahwa iblis mendatangi nabi Musa Bin imron dan berbicara:
"Jika engkau bermunajat kepada Tuhanmu, maka mintalah syafaat untukku dan tanyakan apakah masih diterima taubatku jika aku bertaubat?"
Dan disaat Musa bermunajat kepada Allah, ia bertanya:
"Ya tuhan, apakah engkau mau menerima taubatnya iblis jika ia bertaubat?"
Maka Allah Azza Wa jalla menjawab,
"Sudah terlewat dalam ilmu-Ku bahwa dia tidak akan bertaubat tapi Aku Maha menerima taubat dan Maha penyayang, jika dia ingin taubat maka bersujudlah ia pada Adam, jika dia sujud pada kuburnya Adam maka aku akan menerima taubatnya."
Ketika Musa sudah pulang dari munajatnya, maka iblis menemuinya, dan bertanya:
"Hai Musa, apakah engkau telah menyampaikan hajatku?"
Musa menjawab:
"Masalahmu tergantung pada sujudmu dikuburan nabi Adam."
Lalu iblis menjawab:
"Aku enggan sujud pada Adam sewaktu dia masih hidup, bagaimana mungkin aku mau bersujud padanya yang sekarang sudah mati."
Diceritakan bahwa iblis ketika menjelang ajalnya, Allah memerintahkan prajurit-prajuritnya malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya, lalu iblis lari ke semua arah laut dan darat tapi tidak menemukan tempat aman sehingga sampai pada makam Adam AS lalu bersujudlah ia pada makam itu,lalu dikatakan padanya:
"Allah telah menutup pintu taubat maka taubatmu tidak akan diterima."
Setelah jelas tidak akan diterima maka iblis berkata dan pura-pura tidak tahu:
"Andai aku tahu bahwa ini adalah kuburannya Adam, maka aku akan berdiam diri disini dan bersujud."
Kemudian para malaikat mengepungnya dan malaikat izrail mencabut nyawanya dengan keras.
Diceritakan di waktu hari kiamat dan semua penduduk surga telah masuk kedalam surga serta semua penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, Allah memerintahkan agar iblis dikeluarkan dari neraka pada setiap 100 ribu tahun sekali, dan diperintahkan Adam supaya dikeluarkan juga, lalu Allah memberi perintah kepada iblis supaya sujud pada Adam, akan tetapi iblis enggan melakukan sujud, Kemudian ia dimasukkan kedalam neraka lagi dan Adam dimasukkan kesurga lagi.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya syetan bagi manusia adalah musuh yang nyata."
Ditulis kembali oleh Erwin E Ananto | Jumrah.com
by Unknown
07.17.00
Bahkan Hewan pun Dibisukan Demi Adam
Di suatu hari, saat langit mulai terang dengan matahari yang bersinar di cakrawala, Adam mengamatinya dengan perasaan kagum. Hingga matahari semakin meninggi di cakrawala, Adam yang telanjang dan tanpa penutup kepala merasakan tubuhnya panas terbakar.
Ketika Jibril datang, Adam menceritakan tentang apa yang telah dialaminya. Saat itu Jibril mengusap kepala Adam, maka kemudian berkuranglah tinggi badan Adam sampai 35 dziro’.
(Simak sebelumnya : 'Para Penghuni Sebelum Adam)
Qotadah berkata:
"Jika Adam merasa haus maka ia meminum awan, dan diriwayatkan pula, jika rambut dan kuku Adam tumbuh panjang, Jibril datang dan memotongnya. Setelah itu bekas potongan tadi dikubur di bumi, maka Allah menumbuhkan pohon kurma di lokasi penguburan tersebut."
Oleh karena ini dikatakan; "mulyakanlah bibimu, yaitu kurma’.
Ibnu Abbas berkata:
"Selama 300 tahun Adam di bumi, ia tidak pernah melihat keatas karena malu kepada Allah Ta'ala, ia terus berdiam diri sembari menangis selama kurang lebih 100 tahun. Maka tumbuhlah rumput-rumput dari tetesan air matanya, burung-burung beserta hewan-hewan buas juga meminum tetesan air matanya itu."
Setelah Adam mengadukan kepada Jibril tentang apa yang dialaminya yang telanjang dan panasnnya terik matahari maka Jibril mendatangi Hawa dengan membawa seekor domba dari surga dan mengambil bulunya lalu diserahkanlah domba itu kepada Hawa.
Kepada Hawa Jibril mengajarinya cara membuat benang dari bulu, setelah dipraktekkan lalu Jibril mengajarinya menenun, maka Hawa pun menenun untuk dibuat selimut. Kemudian setelah selimut itu selesai dibuat Jibril berpaling dari Hawa dan membawa selimut kepada Adam, untuk menutupi tubuh Adam.
Meski pun demikian Jibril tidak menceritakan kepada Adam mengenai selimut itu, yang merupakan hasil dari tenunan Hawa. Kemudian kepada Jibril, Adam mengadu mengenai rasa lapar yang dialaminya. Selama 40 tahun tinggal di bumi Adam belum pernah makan atau pun minum.
Lalu Jibril pergi dan datang kembali membawakannya dua ekor sapi dari surga. Yang satu ekor berwarna hitam dan yang satu ekor berwarna merah. Kepada Adam, Jibril mengajar cara mengolah tanah dan bercocok tanam, setelah itu Jibril datang lagi membawakan secakupan gandum dan mengajari Adam cara menanamnya.
Suatu ketika, saat Adam membajak tanah, tibatiba satu dari dua ekor sapi itu berhenti. Adam pun memukulnya dengan tongkat yang ada ditangannya.
Kemudian dengan ijin Allah Ta'ala, sapi itu berkata kepada Adam; "Kenapa kamu memukulku?"
Adam menjawab: "Karena kamu tidak patuh padaku."
kemudian sapi itu kembali berkata ; "Allah benar-benar maha welas asih padamu Adam, karena tidak memukulmu di saat kamu tidak mematuhi-Nya."
Mendengar ucapan sapi itu Adam langsung menangis dan berkata: "Ya Allah, kenapa semua mencelaku? Sehingga para hewan pun begitu?"
Lalu Allah Ta'ala memerintahkan Jibril untuk mengusap lidah para hewan dan jadilah hewan-hewan menjadi tidak bisa bicara, bisu. Walaupun sebenarnya hewan-hewan itu bisa bicara sebelum Adam diturunkan ke bumi.
Menguji Kembali Kesabaran Adam
Saat Nabi Adam menanam benih gandum, seketika itu juga benih itu tumbuh, memiliki tangkai dan hari itu pula berbuah gandum. Kemudian kepada Adam, Jibril mengajarkan untuk menuainya. Maka Adam pun menuai gandum tersebut, dan dengan seksama ia membersihkan biji-biji gandum dari jerami di bantu oleh tiupan angin.
Lalu Adam bertanya kepada Jibril, "Apakah aku boleh memakannya sekarang?"
Jibril menjawab: "Tunggu dulu." Kemudian Jibril membelah dua batu gunung lalu menggiling biji-biji gandum dengan kedua batu itu menjadi lebih halus seperti tepung.
Adam bertanya lagi : "Apakah aku sudah bisa memakannya sekarang?"
Jibril pun menjawab, "Bersabarlah." Lalu Jibril pergi dan mendatangkan sepercik api dari jahanam, kemudian dicelupkan api itu ke ke dalam air sebanyak tujuh kali. Karena jika tidak demikian maka bumi beserta isinya akan terbakar.
Kemudian Jibril mengajarkan Adam cara membuat roti. Setelah menjadi roti, kembali Adam bertanya pada Jibril: "Apakah aku sudah bisa memakannya?".
Jibril menjawab: "Tunggulah sampai matahari terbenam maka jadi sempurna untukmu berpuasa."
Adam adalah manusia yang pertama kali melakukan puasa di muka bumi ini.
Setelah matahari terbenam, Adam meletakkan roti itu dihadapannya lalu Adam mengulurkan tangannya untuk mengambil secuil dari roti tersebut, namun roti tersebut malah bergerak dan jatuh dari atas gunung.
Adam pun mengejarnya menuruni gunung untuk mengambilnya kembali. Kemudian Jibril berkata kepada Adam, "Andaikata kamu mau bersabar maka roti itu akan mendatangimu sendiri tanpa kamu perlu mengejarnya."
Diceritakan bahwa sesungguhnya Adam ketika memakan roti itu, ia lalu menyimpannya hingga malam berikutnya.
Maka Jibril berkata kepadanya: "Andai kamu tidak melakukan itu maka tiada satu pun anak cucumu melakukan simpan menyimpan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan anak cucu Adam."
Karena Hak Muhammad, Allah Mengampuni Adam
Diceritakan, ketika Adam menikmati rotinya, ia merasakan haus. Kemudian ia minum air, setelah itu perutnya merasa mual dan melilit.
Saat Jibril mendatanginya, ia langsung mengadu, lalu Jibril menusuk untuk membuat lubang pada duburnya, seketika itu pula Adam mengeluarkan air kencing dan air besar melalui lubang itu.
Ibnu Abbas RA berkata: Ketika Adam lapar, ia lupa kepada Hawa dan teringat kembali saat ia telah merasa kenyang dan suatu hari ia bertanya kepada Jibril, ″Wahai Jibril, apakah Hawa masih hidup atau sudah mati?″
Jibril menjawab, "Ia masih hidup, bahkan keadaannya lebih baik daripada kamu karena dia ada di pantai dan menangkap ikan lalu dibuatnya makan."
Adam berkata, "Wahai Jibril, sungguh aku bermimpi bertemu Hawa pada malam ini."
Jibril berkata, "Wahai Adam, berbahagialah kamu, karena Allah tidak memperlihatkannya padamu kecuali dekat dengan pertemuan."
Ibnu Abbas berkata: "Ketika masa ujian Adam selesai lalu ia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya." Yaitu pada firman Allah; "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 37)
Sebagian ulama berkata, Allah memberi ilham kepada Adam, lalu Adam mengatakan, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A’raf : 23).
Dan diceritakan, bahwa Adam berdo’a; “Ya Rabbi, dengan hak Muhammad ampunilah kesalahanku.”
Kemudian Allah menurunkan wahyu; “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad padahal belum aku ciptakan?”
Adam menjawab: "Di saat Engkau menciptakan aku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di pilar-pilar Arasy ada tulisan "La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah", maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan mengaitkan nama Engkau kecuali dengan nama seorang mahluk yang engkau cintai.”
Lalu Allah menjawab; "Kamu benar Adam, maka Aku mengampunimu karena kamu berdoa kepada-Ku dengan hak Muhammad.”
Imam Tsa’labi berkata: "Kemudian Allah memberi wahyu kepada Adam; "Berjalanlah dari bumi Hindia menuju Mekkah dan thawaflah mengelilingi Al Bait lalu mintalah ampunan pada-Ku, maka Aku akan mengampuni kesalahanmu."
Diceritakan bahwa Allah menurunkan mutiara merah dari mutiara-mutiara surga sebesar Ka’bah dan itu adalah tempat batu putih yang membuat bumi menjadi panjang, yang didalamnya dijadikan bejana dari emas yang bersinar.
Lalu Allah mengutus malaikat untuk menemani Adam dan menjadi petunjuk serta memandu jalan menuju Mekkah dan diturunkan untuk Adam sebuah tongkat yang panjangnya 20 dziro’ dari pohon ‘garu’, yaitu pohon yang berada di surga.
Di saat Adam berjalan maka bumi menjadi terlipat dan setiap tempat yang terinjak telapak kaki Adam maka jadilah sebuah perkampungan/berpenduduk.
Di saat Adam memasuki Makkah maka Allah memberi wahyu agar Adam melakukan thawaf di Baitullah, lalu Adam melakukan thawaf selama tujuh kali dengan kepala terbuka dan telanjang badan maka hal itu jadi sunnah haji, setelah Adam melakukan hal itu maka Allah telah mengampuni kesalahannya dan menerima taubatnya, maka jadilah thawaf sebagai pelebur dosa.
Diceritakan dari Rasulullah bahwa rasul bersabda: "Sesungguhnya iblis yang laknat berkata; "Ya Rabbi, sungguh perilaku hamba-hamba-Mu sangat aneh, ada yang cinta pada-Mu, ada pula yang mendurhakai-Mu, ada yang benci padaku, ada juga yang taat padaku."
Lalu Allah menjawab; "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku menjadikan cinta mereka pada-Ku sebagai pelebur untuk taat padamu dan aku menjadikan bencinya mereka padamu sebagai pelebur kemaksiatan pada-Ku."
Wahhab Bin Munabbih berkata: "Saat Adam bertaubat Allah memerintahkan padanya agar keluar menuju tanah Arafah, setelah sampai di bukit Arafah, lalu Adam wukuf/berhenti sejenak/ mengheningkan cipta di sana setelah itu tiba-tiba Hawa ada dihadapannya, lalu mereka berkumpul di bukit itu, maka dari sinilah wukuf di Arafah menjadi kebiasaan haji.”
Dinamakan Arafah karena Adam dan Hawa bertemu disana, kemudian Adam tinggal di Mekkah sebentar, setelah itu mereka pindah menuju bumi Hindia. Diceritakan bahwa sejak turun ke bumi, Adam dan Hawa dipisahkan selama 500 tahun.
jumrahonline | jumrah.com
Di suatu hari, saat langit mulai terang dengan matahari yang bersinar di cakrawala, Adam mengamatinya dengan perasaan kagum. Hingga matahari semakin meninggi di cakrawala, Adam yang telanjang dan tanpa penutup kepala merasakan tubuhnya panas terbakar.
Ketika Jibril datang, Adam menceritakan tentang apa yang telah dialaminya. Saat itu Jibril mengusap kepala Adam, maka kemudian berkuranglah tinggi badan Adam sampai 35 dziro’.
(Simak sebelumnya : 'Para Penghuni Sebelum Adam)
Qotadah berkata:
"Jika Adam merasa haus maka ia meminum awan, dan diriwayatkan pula, jika rambut dan kuku Adam tumbuh panjang, Jibril datang dan memotongnya. Setelah itu bekas potongan tadi dikubur di bumi, maka Allah menumbuhkan pohon kurma di lokasi penguburan tersebut."
Oleh karena ini dikatakan; "mulyakanlah bibimu, yaitu kurma’.
Ibnu Abbas berkata:
"Selama 300 tahun Adam di bumi, ia tidak pernah melihat keatas karena malu kepada Allah Ta'ala, ia terus berdiam diri sembari menangis selama kurang lebih 100 tahun. Maka tumbuhlah rumput-rumput dari tetesan air matanya, burung-burung beserta hewan-hewan buas juga meminum tetesan air matanya itu."
Setelah Adam mengadukan kepada Jibril tentang apa yang dialaminya yang telanjang dan panasnnya terik matahari maka Jibril mendatangi Hawa dengan membawa seekor domba dari surga dan mengambil bulunya lalu diserahkanlah domba itu kepada Hawa.
Kepada Hawa Jibril mengajarinya cara membuat benang dari bulu, setelah dipraktekkan lalu Jibril mengajarinya menenun, maka Hawa pun menenun untuk dibuat selimut. Kemudian setelah selimut itu selesai dibuat Jibril berpaling dari Hawa dan membawa selimut kepada Adam, untuk menutupi tubuh Adam.
Meski pun demikian Jibril tidak menceritakan kepada Adam mengenai selimut itu, yang merupakan hasil dari tenunan Hawa. Kemudian kepada Jibril, Adam mengadu mengenai rasa lapar yang dialaminya. Selama 40 tahun tinggal di bumi Adam belum pernah makan atau pun minum.
Lalu Jibril pergi dan datang kembali membawakannya dua ekor sapi dari surga. Yang satu ekor berwarna hitam dan yang satu ekor berwarna merah. Kepada Adam, Jibril mengajar cara mengolah tanah dan bercocok tanam, setelah itu Jibril datang lagi membawakan secakupan gandum dan mengajari Adam cara menanamnya.
Suatu ketika, saat Adam membajak tanah, tibatiba satu dari dua ekor sapi itu berhenti. Adam pun memukulnya dengan tongkat yang ada ditangannya.
Kemudian dengan ijin Allah Ta'ala, sapi itu berkata kepada Adam; "Kenapa kamu memukulku?"
Adam menjawab: "Karena kamu tidak patuh padaku."
kemudian sapi itu kembali berkata ; "Allah benar-benar maha welas asih padamu Adam, karena tidak memukulmu di saat kamu tidak mematuhi-Nya."
Mendengar ucapan sapi itu Adam langsung menangis dan berkata: "Ya Allah, kenapa semua mencelaku? Sehingga para hewan pun begitu?"
Lalu Allah Ta'ala memerintahkan Jibril untuk mengusap lidah para hewan dan jadilah hewan-hewan menjadi tidak bisa bicara, bisu. Walaupun sebenarnya hewan-hewan itu bisa bicara sebelum Adam diturunkan ke bumi.
Menguji Kembali Kesabaran Adam
Saat Nabi Adam menanam benih gandum, seketika itu juga benih itu tumbuh, memiliki tangkai dan hari itu pula berbuah gandum. Kemudian kepada Adam, Jibril mengajarkan untuk menuainya. Maka Adam pun menuai gandum tersebut, dan dengan seksama ia membersihkan biji-biji gandum dari jerami di bantu oleh tiupan angin.
Lalu Adam bertanya kepada Jibril, "Apakah aku boleh memakannya sekarang?"
Jibril menjawab: "Tunggu dulu." Kemudian Jibril membelah dua batu gunung lalu menggiling biji-biji gandum dengan kedua batu itu menjadi lebih halus seperti tepung.
Adam bertanya lagi : "Apakah aku sudah bisa memakannya sekarang?"
Jibril pun menjawab, "Bersabarlah." Lalu Jibril pergi dan mendatangkan sepercik api dari jahanam, kemudian dicelupkan api itu ke ke dalam air sebanyak tujuh kali. Karena jika tidak demikian maka bumi beserta isinya akan terbakar.
Kemudian Jibril mengajarkan Adam cara membuat roti. Setelah menjadi roti, kembali Adam bertanya pada Jibril: "Apakah aku sudah bisa memakannya?".
Jibril menjawab: "Tunggulah sampai matahari terbenam maka jadi sempurna untukmu berpuasa."
Adam adalah manusia yang pertama kali melakukan puasa di muka bumi ini.
Setelah matahari terbenam, Adam meletakkan roti itu dihadapannya lalu Adam mengulurkan tangannya untuk mengambil secuil dari roti tersebut, namun roti tersebut malah bergerak dan jatuh dari atas gunung.
Adam pun mengejarnya menuruni gunung untuk mengambilnya kembali. Kemudian Jibril berkata kepada Adam, "Andaikata kamu mau bersabar maka roti itu akan mendatangimu sendiri tanpa kamu perlu mengejarnya."
Diceritakan bahwa sesungguhnya Adam ketika memakan roti itu, ia lalu menyimpannya hingga malam berikutnya.
Maka Jibril berkata kepadanya: "Andai kamu tidak melakukan itu maka tiada satu pun anak cucumu melakukan simpan menyimpan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan anak cucu Adam."
Karena Hak Muhammad, Allah Mengampuni Adam
Diceritakan, ketika Adam menikmati rotinya, ia merasakan haus. Kemudian ia minum air, setelah itu perutnya merasa mual dan melilit.
Saat Jibril mendatanginya, ia langsung mengadu, lalu Jibril menusuk untuk membuat lubang pada duburnya, seketika itu pula Adam mengeluarkan air kencing dan air besar melalui lubang itu.
Ibnu Abbas RA berkata: Ketika Adam lapar, ia lupa kepada Hawa dan teringat kembali saat ia telah merasa kenyang dan suatu hari ia bertanya kepada Jibril, ″Wahai Jibril, apakah Hawa masih hidup atau sudah mati?″
Jibril menjawab, "Ia masih hidup, bahkan keadaannya lebih baik daripada kamu karena dia ada di pantai dan menangkap ikan lalu dibuatnya makan."
Adam berkata, "Wahai Jibril, sungguh aku bermimpi bertemu Hawa pada malam ini."
Jibril berkata, "Wahai Adam, berbahagialah kamu, karena Allah tidak memperlihatkannya padamu kecuali dekat dengan pertemuan."
Ibnu Abbas berkata: "Ketika masa ujian Adam selesai lalu ia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya." Yaitu pada firman Allah; "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 37)
Sebagian ulama berkata, Allah memberi ilham kepada Adam, lalu Adam mengatakan, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A’raf : 23).
Dan diceritakan, bahwa Adam berdo’a; “Ya Rabbi, dengan hak Muhammad ampunilah kesalahanku.”
Kemudian Allah menurunkan wahyu; “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad padahal belum aku ciptakan?”
Adam menjawab: "Di saat Engkau menciptakan aku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di pilar-pilar Arasy ada tulisan "La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah", maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan mengaitkan nama Engkau kecuali dengan nama seorang mahluk yang engkau cintai.”
Lalu Allah menjawab; "Kamu benar Adam, maka Aku mengampunimu karena kamu berdoa kepada-Ku dengan hak Muhammad.”
Imam Tsa’labi berkata: "Kemudian Allah memberi wahyu kepada Adam; "Berjalanlah dari bumi Hindia menuju Mekkah dan thawaflah mengelilingi Al Bait lalu mintalah ampunan pada-Ku, maka Aku akan mengampuni kesalahanmu."
Diceritakan bahwa Allah menurunkan mutiara merah dari mutiara-mutiara surga sebesar Ka’bah dan itu adalah tempat batu putih yang membuat bumi menjadi panjang, yang didalamnya dijadikan bejana dari emas yang bersinar.
Lalu Allah mengutus malaikat untuk menemani Adam dan menjadi petunjuk serta memandu jalan menuju Mekkah dan diturunkan untuk Adam sebuah tongkat yang panjangnya 20 dziro’ dari pohon ‘garu’, yaitu pohon yang berada di surga.
Di saat Adam berjalan maka bumi menjadi terlipat dan setiap tempat yang terinjak telapak kaki Adam maka jadilah sebuah perkampungan/berpenduduk.
Di saat Adam memasuki Makkah maka Allah memberi wahyu agar Adam melakukan thawaf di Baitullah, lalu Adam melakukan thawaf selama tujuh kali dengan kepala terbuka dan telanjang badan maka hal itu jadi sunnah haji, setelah Adam melakukan hal itu maka Allah telah mengampuni kesalahannya dan menerima taubatnya, maka jadilah thawaf sebagai pelebur dosa.
Diceritakan dari Rasulullah bahwa rasul bersabda: "Sesungguhnya iblis yang laknat berkata; "Ya Rabbi, sungguh perilaku hamba-hamba-Mu sangat aneh, ada yang cinta pada-Mu, ada pula yang mendurhakai-Mu, ada yang benci padaku, ada juga yang taat padaku."
Lalu Allah menjawab; "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku menjadikan cinta mereka pada-Ku sebagai pelebur untuk taat padamu dan aku menjadikan bencinya mereka padamu sebagai pelebur kemaksiatan pada-Ku."
Wahhab Bin Munabbih berkata: "Saat Adam bertaubat Allah memerintahkan padanya agar keluar menuju tanah Arafah, setelah sampai di bukit Arafah, lalu Adam wukuf/berhenti sejenak/ mengheningkan cipta di sana setelah itu tiba-tiba Hawa ada dihadapannya, lalu mereka berkumpul di bukit itu, maka dari sinilah wukuf di Arafah menjadi kebiasaan haji.”
Dinamakan Arafah karena Adam dan Hawa bertemu disana, kemudian Adam tinggal di Mekkah sebentar, setelah itu mereka pindah menuju bumi Hindia. Diceritakan bahwa sejak turun ke bumi, Adam dan Hawa dipisahkan selama 500 tahun.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
06.19.00
Ibnu 'Abbas RA berkata, "Ketika Allah Ta'ala telah menyempurnakan penciptaan langit dan bumi, mengokohkan gunung-gunung, menggerakkan angin, menciptakan binatang-binatang liar dan berbagai jenis burung di gunung-gunung itu maka buah-buahan mengering berguguran di atas tanah dan kemudian melahirkan rerumputan di permukaan tanah sampai bertumpuk-tumpuk."
(Simak juga: Sosok Azazil di Masa Pra Penciptaan Adam AS)
Pada saat itulah bumi mengadu kepada Tuhan-nya mengenai hal ini, maka Allah Ta'ala menciptakan darinya umat-umat yang banyak sekali dengan berbagai rupa dan jenis yang berlainan. Mereka adalah para Jin. Allah Ta'ala menciptakan mereka dari angin, kilat dan awan.
Siapa bangsa Jin itu?
Mereka adalah makhluk yang bernafas dan bergerak. Mereka tersebar bagaikan biji sawi karena jumlah mereka yang sangat banyak, sehingga memenuhi tanah datar, gunung dan seluruh wilayah bumi ini. Mereka menghuni permukaan bumi ini dalam jangka waktu yang Allah Ta'ala tentukan. (Simak juga: Antara Iblis, Malaikat dan Manusia)
Diantara mereka ada yang berkulit putih, hitam, merah, kuning, belang dan loreng. Adapula yang tuli dan bisu. Juga ada yang tampan dan yang jelek, ada yang kuat dan yang lemah, ada perempuan dan laki-laki. Mereka kawin dan berketurunan. Mereka disebut Jin karena makhluk-makhluk ini tertutupi atau tersembunyi.
Ketika populasi mereka semakin bertambah sehingga bumi ini menjadi sempit karena jumlah mereka yang banyak, maka penderitaan makhluk-makhluk ini pun bertambah. Kemudian Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka angin topan. Yang pada akhirnya mereka binasa sampai tak tersisa kecuali hanya sebagian kecil dari mereka. (Simak juga: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam)
Para Jin ini adalah makhluk pertama yang mendirikan bangunan rumah, membelah bebatuan dan memburu burung-burung dan binatang-binatang liar. Mereka bertahan hidup dengan cara itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian mereka saling berselisih sampai saling membunuh satu sama lainnya.
Peperangan mereka bukanlah dengan senjata melainkan dengan cara menahan musuh di dalam rumah sampai mati kelaparan dan kehausan. Ketika kelakuan rusak mereka bertambah parah, maka Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka sekelompok umat yang muncul dari laut. Badan mereka lebih besar dan menakjubkan daripada badan para jin, mereka adalah kaum Bun.
Kaum Bun - Hidup 182,5 Juta Tahun sebelum Adam AS
Kaum Bun adalah penghuni bumi ini selama 500 tahun, mereka menguasai bumi setelah dikuasai oleh kaum Jin. Bila menggunakan Rumus Konversi Waktu: 1 Hari (Akhirat) = 1000 Tahun (Dunia/bumi) atau ekivalen dengan 1 Tahun (akhirat) = ±365.000 Tahun (dunia/bumi). Maka waktu yang tercatat dalam Sejarah bumi adalah = 500 x 365 x 1000 = 182.500.000 tahun. Jadi kaum Bun menjadi penghuni bumi selama 182.500.000 tahun atau 182.5 juta tahun.
Kaum ini memerangi kaum jin sampai binasa dan tak tersisa dari mereka seorang pun. Kemudian mereka kawin dan mempunyai keturunan sampai jumlah mereka bertambah banyak dan memenuhi seluruh tempat di bumi ini. Maka salah seorang dari mereka menyelam ke dalam lapisan bumi yang ketujuh dan tinggal di lapisan bumi ini selama beberapa hari. Tak ada sebongkah tanah pun yang bisa menghalangi mereka.
Kaum ini adalah makhluk pertama yang menggali sumber air, membuat sungai dan mengalirkan air kepadanya dari mata air-mata air dan lautan. Mereka adalah makhluk pertama yang membuat gerobak-gerobak dan jembatan-jembatan di atas sungai, menangkap ikan di laut dan berburu binatang-binatang liar di sarang-sarangnya sehingga binatang-binatang itu punah tak tersisa baik yang berada di daratan maupun lautan.
Maka binatang-binatang ini mengadu kepada Allah Ta'ala mengenai mereka dan parahnya kerusakan yang mereka timbulkan. Maka Allah Ta'ala menciptakan Al Jaan - (kaum jin) atau (Banul Jaan)
Banul Jaan - Hidup 365 juta tahun sebelum Adam AS
Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa yang dimaksud Jan di sini adalah sekumpulan jin yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka terbagi dalam beberapa jenis yang beraneka ragam. Diantara mereka ada sekelompok umat yang bernama "Nahabur" dan "Nahamur." Umat-umat jin ini juga makan, minum dan melahirkan keturunan. Diantara mereka ada yang mu′min dan adapula yang kafir. Kakek moyang mereka adalah Iblis terkutuk.
Menurut suatu riwayat bahwa Allah Ta'ala menjadikan para Malaikat sebagai penduduk langit dan para Jin sebagai penduduk bumi. Ketika binatang-binatang liar dan burung-burung merasa terganggu dengan tingkah laku Jin dan Bun maka Allah Ta'ala menciptakan "Jan" sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah menciptakan "Jan", Allah Ta'ala menempatkan mereka di bumi.
Pada saat mereka menghuni bumi berkuranglah populasi Bun sehingga Jan atau Banul Jan dapat mennguasai mereka dan membinasakannya sampai tak tersisa. Maka tinggallah 'Jan' di bumi, mereka kawin dan berketurunan sampai memenuhi bumi ini. Kemudian timbullah perasaan iri dan dengki diantara mereka yang mendatangkan pertumpahan darah. Mereka saling berbuat kekacauan.
Bumi mengadukan hal ini kepada Allah Ta'ala. Maka pada saat itu, Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka, tentara yang beranggotakan para Malaikat yang disertai oleh Iblis bernama ′Azazil.
'Azazil adalah pimpinan seluruh Malaikat
Pasukan ini mengusir Jan dari bumi dan mereka lari menuju perbukitan dan tinggal di sana. Ada juga yang mengatakan mereka dihancurkan dengan 'dilempari' dengan batu/meteor hingga berkeping-keping.
Jadilah Iblis merebut bumi dari kekuasaan mereka. Kala itu Iblis masih menyembah kepada Allah Ta'ala, baik ketika ia hidup di bumi dan di langit. Namun selanjutnya, ia merasa takjub pada diri sendiri sehingga kesombongan merasukinya. Maka Allah Ta'ala ingin mencampakkan kesombongan yang ada di dalam hatinya, lalu Allah Ta'ala berfirman, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah (2): 30)
Adapun jawaban Malaikat, yang dimaksud "...orang yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah." adalah Jin, Bun atau Banul Jan. Mereka ini sesungguhnya telah membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.
Dalam Kitab Qishash al Anbiya′, Ibnu Katsir menyampaikan :
Qatadah mengatakan, "Mereka menyaksikan kehidupan Jin (Jan dan Bun atau dalam kitab Badaiuz Zuhur , Jan disebut Banul Jan) sebelum kehidupan Adam as."
Abdullah bin Umar r.hum. mengatakan, "1.000 (Seribu) tahun sebelum penciptaan Adam AS bangsa jin telah melakukan "pertumpahan darah". Kemudian Allah Azza wa Jalla mengutus sepasukan Malaikat dan kemudian jin-jin itu diusir menuju ke daerah pesisir/samudra."
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas r.a.dan Al Hasan.
Ada juga yang mengatakan, "Yaitu setelah diperlihatkan kepada para Malaikat (Harut dan Marut) itu isi kitab Lauhul Mahfûdz." Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja′far Al Baqir. Dan ada juga yang mengatakan, "Karena mereka telah mengetahui bahwasanya tidak diciptakan dari bumi ini melainkan orang yang mempunyai karakter seperti itu."
Selanjutnya : Manis Dan Pahitnya Awal Kehidupan Adam Menjadi Penghuni Bumi
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
(Simak juga: Sosok Azazil di Masa Pra Penciptaan Adam AS)
Pada saat itulah bumi mengadu kepada Tuhan-nya mengenai hal ini, maka Allah Ta'ala menciptakan darinya umat-umat yang banyak sekali dengan berbagai rupa dan jenis yang berlainan. Mereka adalah para Jin. Allah Ta'ala menciptakan mereka dari angin, kilat dan awan.
Siapa bangsa Jin itu?
Mereka adalah makhluk yang bernafas dan bergerak. Mereka tersebar bagaikan biji sawi karena jumlah mereka yang sangat banyak, sehingga memenuhi tanah datar, gunung dan seluruh wilayah bumi ini. Mereka menghuni permukaan bumi ini dalam jangka waktu yang Allah Ta'ala tentukan. (Simak juga: Antara Iblis, Malaikat dan Manusia)
Diantara mereka ada yang berkulit putih, hitam, merah, kuning, belang dan loreng. Adapula yang tuli dan bisu. Juga ada yang tampan dan yang jelek, ada yang kuat dan yang lemah, ada perempuan dan laki-laki. Mereka kawin dan berketurunan. Mereka disebut Jin karena makhluk-makhluk ini tertutupi atau tersembunyi.
Ketika populasi mereka semakin bertambah sehingga bumi ini menjadi sempit karena jumlah mereka yang banyak, maka penderitaan makhluk-makhluk ini pun bertambah. Kemudian Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka angin topan. Yang pada akhirnya mereka binasa sampai tak tersisa kecuali hanya sebagian kecil dari mereka. (Simak juga: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam)
Para Jin ini adalah makhluk pertama yang mendirikan bangunan rumah, membelah bebatuan dan memburu burung-burung dan binatang-binatang liar. Mereka bertahan hidup dengan cara itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian mereka saling berselisih sampai saling membunuh satu sama lainnya.
Peperangan mereka bukanlah dengan senjata melainkan dengan cara menahan musuh di dalam rumah sampai mati kelaparan dan kehausan. Ketika kelakuan rusak mereka bertambah parah, maka Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka sekelompok umat yang muncul dari laut. Badan mereka lebih besar dan menakjubkan daripada badan para jin, mereka adalah kaum Bun.
Kaum Bun - Hidup 182,5 Juta Tahun sebelum Adam AS
Kaum Bun adalah penghuni bumi ini selama 500 tahun, mereka menguasai bumi setelah dikuasai oleh kaum Jin. Bila menggunakan Rumus Konversi Waktu: 1 Hari (Akhirat) = 1000 Tahun (Dunia/bumi) atau ekivalen dengan 1 Tahun (akhirat) = ±365.000 Tahun (dunia/bumi). Maka waktu yang tercatat dalam Sejarah bumi adalah = 500 x 365 x 1000 = 182.500.000 tahun. Jadi kaum Bun menjadi penghuni bumi selama 182.500.000 tahun atau 182.5 juta tahun.
Kaum ini memerangi kaum jin sampai binasa dan tak tersisa dari mereka seorang pun. Kemudian mereka kawin dan mempunyai keturunan sampai jumlah mereka bertambah banyak dan memenuhi seluruh tempat di bumi ini. Maka salah seorang dari mereka menyelam ke dalam lapisan bumi yang ketujuh dan tinggal di lapisan bumi ini selama beberapa hari. Tak ada sebongkah tanah pun yang bisa menghalangi mereka.
Kaum ini adalah makhluk pertama yang menggali sumber air, membuat sungai dan mengalirkan air kepadanya dari mata air-mata air dan lautan. Mereka adalah makhluk pertama yang membuat gerobak-gerobak dan jembatan-jembatan di atas sungai, menangkap ikan di laut dan berburu binatang-binatang liar di sarang-sarangnya sehingga binatang-binatang itu punah tak tersisa baik yang berada di daratan maupun lautan.
Maka binatang-binatang ini mengadu kepada Allah Ta'ala mengenai mereka dan parahnya kerusakan yang mereka timbulkan. Maka Allah Ta'ala menciptakan Al Jaan - (kaum jin) atau (Banul Jaan)
Banul Jaan - Hidup 365 juta tahun sebelum Adam AS
Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa yang dimaksud Jan di sini adalah sekumpulan jin yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka terbagi dalam beberapa jenis yang beraneka ragam. Diantara mereka ada sekelompok umat yang bernama "Nahabur" dan "Nahamur." Umat-umat jin ini juga makan, minum dan melahirkan keturunan. Diantara mereka ada yang mu′min dan adapula yang kafir. Kakek moyang mereka adalah Iblis terkutuk.
Menurut suatu riwayat bahwa Allah Ta'ala menjadikan para Malaikat sebagai penduduk langit dan para Jin sebagai penduduk bumi. Ketika binatang-binatang liar dan burung-burung merasa terganggu dengan tingkah laku Jin dan Bun maka Allah Ta'ala menciptakan "Jan" sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah menciptakan "Jan", Allah Ta'ala menempatkan mereka di bumi.
Pada saat mereka menghuni bumi berkuranglah populasi Bun sehingga Jan atau Banul Jan dapat mennguasai mereka dan membinasakannya sampai tak tersisa. Maka tinggallah 'Jan' di bumi, mereka kawin dan berketurunan sampai memenuhi bumi ini. Kemudian timbullah perasaan iri dan dengki diantara mereka yang mendatangkan pertumpahan darah. Mereka saling berbuat kekacauan.
Bumi mengadukan hal ini kepada Allah Ta'ala. Maka pada saat itu, Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka, tentara yang beranggotakan para Malaikat yang disertai oleh Iblis bernama ′Azazil.
'Azazil adalah pimpinan seluruh Malaikat
Pasukan ini mengusir Jan dari bumi dan mereka lari menuju perbukitan dan tinggal di sana. Ada juga yang mengatakan mereka dihancurkan dengan 'dilempari' dengan batu/meteor hingga berkeping-keping.
Jadilah Iblis merebut bumi dari kekuasaan mereka. Kala itu Iblis masih menyembah kepada Allah Ta'ala, baik ketika ia hidup di bumi dan di langit. Namun selanjutnya, ia merasa takjub pada diri sendiri sehingga kesombongan merasukinya. Maka Allah Ta'ala ingin mencampakkan kesombongan yang ada di dalam hatinya, lalu Allah Ta'ala berfirman, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah (2): 30)
Adapun jawaban Malaikat, yang dimaksud "...orang yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah." adalah Jin, Bun atau Banul Jan. Mereka ini sesungguhnya telah membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.
Dalam Kitab Qishash al Anbiya′, Ibnu Katsir menyampaikan :
Qatadah mengatakan, "Mereka menyaksikan kehidupan Jin (Jan dan Bun atau dalam kitab Badaiuz Zuhur , Jan disebut Banul Jan) sebelum kehidupan Adam as."
Abdullah bin Umar r.hum. mengatakan, "1.000 (Seribu) tahun sebelum penciptaan Adam AS bangsa jin telah melakukan "pertumpahan darah". Kemudian Allah Azza wa Jalla mengutus sepasukan Malaikat dan kemudian jin-jin itu diusir menuju ke daerah pesisir/samudra."
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas r.a.dan Al Hasan.
Ada juga yang mengatakan, "Yaitu setelah diperlihatkan kepada para Malaikat (Harut dan Marut) itu isi kitab Lauhul Mahfûdz." Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja′far Al Baqir. Dan ada juga yang mengatakan, "Karena mereka telah mengetahui bahwasanya tidak diciptakan dari bumi ini melainkan orang yang mempunyai karakter seperti itu."
Selanjutnya : Manis Dan Pahitnya Awal Kehidupan Adam Menjadi Penghuni Bumi
Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
16.38.00
Mengapa kisah tentang Musa AS banyak berulang di al-Quran? Apa latar belakangnya?
Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Bergelar Kalamullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia). Dan termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan Musa paling banyak disebutkan oleh Allah, setelah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama Musa disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.
Kisah Musa, Allah sebutkan secara terperinci dalam empat surat, yakni al-Baqarah, al-A'raf, Thaha, dan al-Qashas. Di mata Allah, umat nabi Musa, yakni Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya.
Allah berfirman,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat." (QS. al-Baqarah: 47)
Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia." (QS. Ali Imran: 110).
Untuk Direnungkan
Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.
Allah sebut Musa dalam al-Quran, sebagai Nabi yang mendapatkan banyak ujian,
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا
“Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)
Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.
Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).
Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya Firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara.
Termasuk kisah dia membunuh orang Mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.
Kata Ibnu Zubair,
وكان عند تمام كل واحدة منها يقول هذا من الفتون يا ابن جبير
Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya, dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).
Allahu a’lam.
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
jumrahonline | jumrah.com
Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Bergelar Kalamullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia). Dan termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan Musa paling banyak disebutkan oleh Allah, setelah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama Musa disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.
Kisah Musa, Allah sebutkan secara terperinci dalam empat surat, yakni al-Baqarah, al-A'raf, Thaha, dan al-Qashas. Di mata Allah, umat nabi Musa, yakni Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya.
Allah berfirman,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat." (QS. al-Baqarah: 47)
Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia." (QS. Ali Imran: 110).
Untuk Direnungkan
Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.
Allah sebut Musa dalam al-Quran, sebagai Nabi yang mendapatkan banyak ujian,
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا
“Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)
Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.
Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).
Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya Firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara.
Termasuk kisah dia membunuh orang Mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.
Kata Ibnu Zubair,
وكان عند تمام كل واحدة منها يقول هذا من الفتون يا ابن جبير
Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya, dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).
Allahu a’lam.
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
23.54.00
Ja’far Bin Abi Thalib merupakan satu diantara lima sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kemiripan wajah dengan Rasulullah. Namun diantara kelimanya Ja’far tercatat paling mirip dengan Rasulullah. Hingga diriwayatkan, jika dilihat dari belakang, sulit membedakan antara Ja’far dan Rasulullah. Tidak hanya tampilan fisik, karakter Ja’far juga mirip dengan Rasulullah.
Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far, "Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlakku karena kamu berasal dariku dan merupakan keturunanku."
Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam.
Bagaimanakah perjalanan seorang Ja'far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?
Ja’far yang adalah sepupu Rasulullah ini langsung menyatakan keislamannya begitu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada Asma bin Umais. Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.
Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja'far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.
Meski kebahagiaan Islam telah menyelimuti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Muhammad. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.
Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin marah dan tidak terima. Mereka bersekongkol membuat banyak cara untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah lantaran mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.
Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.
Ja'far Memimpin Hijrah ke Habasyah
Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.
Rasulullah memilih Ja'far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja'far seperti mengenal dirinya sendiri. Ja'far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari nabi mereka.
Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat kaum musrik Quraisy makin tidak suka. Mereka tidak tenang, pengikut Rasulullah beribadah dengan nyaman disana. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekkah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling piawai berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi
Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar membujuk raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.
Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal di negerinya.
Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja.
Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam, tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’far dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.
Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.
Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.
Ja'far di Medan Pertempuran Melawan Tentara Romawi
Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidak beriman.
Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun 8 Hijriyah, Rasulullah menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima.
Rasulullah bersabda, "Kalau Zaid terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah terbunuh, maka biarlah kaum muslimin memilih bagi mereka sendiri."
Kemudian Rasulullah memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Hartisah.
Berangkatlah pasukan ini. Ketika telah sampai di daerah Mu’tah sebuah kota dekat Syam daerah Yordania, mereka mendapati pasukan Romawi telah siap dengan jumlah sebanyak 200 ribu tentara yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab. Jumlah sebegitu besar tidak pernah ditemui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan pertempuran dahsyat pun terjadi. Panglima Muslimin, Zaid Bin Haritsah gugur dalam pertempuran sebagai syuhada, melihat Zaid jatuh tersungkur, Ja’far kemudian bergegas melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah dari tangan Zaid.
Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far menyusup ke dalam barisan musuh seraya mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya. Dia menyerang musuh yang datang dari kanan dan kiri dengan sekuat tenaga sambil melantunkan syair:
"Wahai… alangkah dekatnya surga
Yang sangat lezat dan dingin minumannya
Romawi yang telah dekat kehancurannya
Wajib bagiku menghancurkannya
apabila menemuinya..."
Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang tertebas pedang, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syuhada di pertempuran Mut’ah itu.
Rasulullah sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar, dan pergi ke rumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah.
"Ketika Rasulullah mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.”
Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah. Rasulullah langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Rasulullah berlinang membasahi pipi mereka.
jumrahonline
Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far, "Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlakku karena kamu berasal dariku dan merupakan keturunanku."
Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam.
Bagaimanakah perjalanan seorang Ja'far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?
Ja’far yang adalah sepupu Rasulullah ini langsung menyatakan keislamannya begitu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada Asma bin Umais. Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.
Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja'far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.
Meski kebahagiaan Islam telah menyelimuti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Muhammad. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.
Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin marah dan tidak terima. Mereka bersekongkol membuat banyak cara untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah lantaran mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.
Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.
Ja'far Memimpin Hijrah ke Habasyah
Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.
Rasulullah memilih Ja'far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja'far seperti mengenal dirinya sendiri. Ja'far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari nabi mereka.
Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat kaum musrik Quraisy makin tidak suka. Mereka tidak tenang, pengikut Rasulullah beribadah dengan nyaman disana. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekkah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling piawai berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi
Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar membujuk raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.
Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal di negerinya.
Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja.
Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam, tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’far dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.
Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.
Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.
Ja'far di Medan Pertempuran Melawan Tentara Romawi
Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidak beriman.
Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun 8 Hijriyah, Rasulullah menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima.
Rasulullah bersabda, "Kalau Zaid terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah terbunuh, maka biarlah kaum muslimin memilih bagi mereka sendiri."
Kemudian Rasulullah memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Hartisah.
Berangkatlah pasukan ini. Ketika telah sampai di daerah Mu’tah sebuah kota dekat Syam daerah Yordania, mereka mendapati pasukan Romawi telah siap dengan jumlah sebanyak 200 ribu tentara yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab. Jumlah sebegitu besar tidak pernah ditemui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan pertempuran dahsyat pun terjadi. Panglima Muslimin, Zaid Bin Haritsah gugur dalam pertempuran sebagai syuhada, melihat Zaid jatuh tersungkur, Ja’far kemudian bergegas melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah dari tangan Zaid.
Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far menyusup ke dalam barisan musuh seraya mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya. Dia menyerang musuh yang datang dari kanan dan kiri dengan sekuat tenaga sambil melantunkan syair:
"Wahai… alangkah dekatnya surga
Yang sangat lezat dan dingin minumannya
Romawi yang telah dekat kehancurannya
Wajib bagiku menghancurkannya
apabila menemuinya..."
Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang tertebas pedang, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syuhada di pertempuran Mut’ah itu.
Rasulullah sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar, dan pergi ke rumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah.
"Ketika Rasulullah mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.”
Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah. Rasulullah langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Rasulullah berlinang membasahi pipi mereka.
jumrahonline
Langganan:
Postingan (Atom)














