Ramadhan seringkali diidentikkan dengan kurma. Hal ini bukan tanpa alasan, karena selain dianjurkan oleh Rasullallah SAW, studi juga membuktikan bahwa berbuka puasa dengan buah kurma memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh.
Tak heran, jika di beberapa toko bahkan di beberapa titik di Kota Malang, kamu akan menemukan banyak sekali orang yang menjajakan buah kurma dengan berbagai jenisnya.
Nah, agar kamu lebih memahami akan manfaat buah kurma, berikut enam manfaat berbuka puasa dengan buah kurma seperti yang dilansir melalui orbitislam.com.
1. Kurma mudah dicerna sehingga tidak menyakiti perut orang yang sedang berpuasa.
2. Kurma dapat mengurangi rasa lapar sehingga membuat kamu tak terburu-buru menyantap makanan berat secara berlebihan. Pasalnya, mengonsumsi makanan secara berlebihan terutama setelah berpuasa dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
3. Kurma mempersiapkan perut untuk menerima makanan setelah tidak beraktivitas seharian karena berpuasa. Mengonsumsi kurma akan membantu mengaktifkan pelepasan sekresi pencernaan.
4. Kurma diperkaya dengan energi karena mengandung gula. Dengan begitu tubuh akan mendapat pasokan nutrisi dari gula yang dibutuhkan oleh sel otak dan saraf.
5. Kurma mencegah sembelit akibat adanya perubahan pola makan. Sembelit juga bisa disebabkan oleh kurangnya asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi.
6. Kandungan garam alkali dalam kurma bermanfat untuk menyesuaikan keasaman darah karena konsumsi daging dan karbohidrat. Keasaman darah inilah yang menyebabkan beberapa penyakit seperti diabetes, asam urat, batu ginjal, radang kandung empedu, tekanan darah tinggi dan wasir.
Nah, bagi kamu yang tak begitu menyukai buah kurma secara utuh, kamu bisa mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan takjil, seperti es campur, es buah atau salad buah. Meskipun begitu, mengonsumsi buah kurma secara utuh adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaatnya. (*)
by Unknown
05.42.00
Sebuah kisah pendek yang inspiratif, sebuah situasi yang cukup mencemaskan yang tengah dialami oleh seseorang. Benarkah, situasi yang begitu dilematis itu datang, dikarenakan jadwal shalat-nya yang setiap hari juga berantakan? Mari kita simak kisahnya...
Suatu hari, dulu saat awal memulai bisnis, saya mengalami situasi seperti ini; saya membuat janji pertemuan dengan tiga orang berbeda di kota Jakarta. Saat itu saya tinggal di Yogyakarta, dan tidak banyak memiliki kenalan di Jakarta. Sementara, kondisi keuangan saya saat itu untuk pergi ke Jakarta pun sedang 'pas-pasan'.
Dengan kondisi seperti itu, saya merasa kebingungan karena jadwal pertemuannya sudah diatur dari Jakarta. Pertemuan dengan Pak A direncanakan hari Senin siang, dengan Pak B hari Rabu pagi, sedangkan dengan Ibu C di hari Jumat sore.
Jika mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta selama lima hari dan pulang kembali ke Yogya pada Jumat malam.
Masalahnya, dimana saya mau menginap? bagaimana biaya makannya selama lima hari itu? Salah-salah nggak bisa kembali pulang. Padahal ini pertemuan bisnis dan jadwalnya sudah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu para pengambil keputusan untuk penawaran kerja promosi.
Tentu saja, saya harus mengikuti jadwal mereka, karena posisi saya tak kuasa menentukan jadwal, saya yang membutuhkan mereka.
Pusing rasanya, saya memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya bertemu seorang teman yang kebetulan dia adalah muslim yang taat dan pengetahuan agamanya cukup baik.
Dalam perbincangan kami sempat saya utarakan kesulitan saya itu, syukur bila ia bisa berbagi solusi. Saya pun curhat padanya. Teman saya hanya mengangguk-angguk lalu bertanya pada saya, "Jadwal shalatmu gimana?"
"Jadwal shalat? Aduh, apa hubungannya?" jawab saya dengan nada keheranan.
"Iya, shalat subuh mu jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
" Ya, jam setengah enam, jam enam, sebangunnya saya lah, kenapa," jawab saya.
"Shalat dhuhur jam berapa?" tanya dia lagi.
"Dhuhur? Jadwal sholat dhuhur ya biasanya jam 12" jawab saya.
"Bukan, maksudku jadwal shalat dhuhurmu itu jam berapa?" ia terus mendesak.
"Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung bisa shalat Ashar. Ah, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya tambah bingung.
Teman saya tersenyum dan berkata, "Pantas saja jadwal hidupmu berantakan, shalat mu saja nggak tentu jadwalnya"
"Lho kok, apa hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu serius mau menyelesaikan masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya saya tadi cerita!" saya menyahut sedikit kesal.
"Beresin dulu jadwal shalat wajibmu. Jangan terlambat shalat, jangan ditunda-tunda, kalau bisa shalat berjamaah," jawabnya.
"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kamu kerjakan saja dulu kalau mau, tapi kalau tidak juga tidak apa-apa, yang punya masalah itu kan kamu bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit, jawabannya sungguh tak memuaskan hati saya, "nggak nyambung..." kata saya dalam hati.
Saya pun mencoba mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku untuk berangkat yang memang terbatas. Tetapi sehari itu sepertinya saya tidak menemukan jalan terang alias buntu.
Sampai akhirnya saya berpikir untuk mencoba sarannya. Saya pikir, toh tidak beresiko apa pun juga. Tapi memang, karena tidak terbiasa shalat yang teratur, rasanya berat sekali melakukanya. Sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa menunda, malas-malasan, melaksanakannya di saat-saat terkhir waktu shalat.
Dua hari sudah saya jalani shalat teratur sesuai jadwal, tetapi tak terjadi apa-apa... makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.
Tetapi di hari ketiga, ponsel saya berdering. Dari asisten Pak A, ia mengatakan, "Mas, mohon maaf sebelumnya, karena Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."
.
Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadwal saya makin teratur ini malah ada kemungkinan dibatalkan. Makin jauh lagi logika saya untuk menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan shalat saya teratur sesuai jadwalnya.
Di hari berikutnya, ponsel saya berdering lagi. Dari sekretaris Pak B. Ia mengatakan, "Mas, semoga belum beli tiket ya, karena Pak B ternyata ada jadwal general check up hari Rabu depan, jadinya tidak bisa ketemu. Tadi Bapak tanya bisa nggak ketemunya hari Jumat saja, jamnya mengikuti jadwal Mas."
Yang ini saya benar-benar membuat saya kaget. "Hari Jumat, berarti bersamaan dengan jadwalnya Ibu C? Dengan tenang saya pun menyahut, "Baik, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi, jam 9 bisa, ya?"
Dari seberang sana menjawab, "Oke Mas, nanti saya sampaikan."
Alhamdulillah, saya berteriak dalam hati. Belum hilang rasa kaget saya, dering ponsel saya menyala lagi. Sebuah pesan pendek masuk dan tertulis dilayar:
"Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup."
Kontan saya sangat terkejut! Masya Allah, tanpa campur tangan saya sama sekali, jadwal pertemuan itu seolah menyusun dengan sendirinya. Saya sangat takjub! Begitu dahsyat kejutan ini, saya pun langsung sujud syukur ... sesujud-sujudnya.
Sungguh, keajaiban seperti ini takkan bisa didapatkan siapa pun, bahkan Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits tak akan mampu menjelaskan ini. Hanya Allah Ta'ala yang kuasa mengatur segala sesuatu dari Arsy-Nya disana.
Sampai saya meyakini satu hal yang hingga sekarang saya terapkan terus "Dahulukan jadwal waktumu untuk Allah maka Allah akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-baiknya."
Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Allah, maka Allah akan selalu menjaga hidup kita. Allah mengikuti perlakuan kita kepadaNya, makin teratur kita menyambut-Nya, makin teratur jadwal hidup kita.
Jadi inilah kunci sukses bisnis pertama yang saya bisa share ke teman-teman: Shalatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih memantapkannya lagi, lakukan shalat sunnah; qobliyah, ba'diyah, tahajjud, dhuha, semampunya.
Sahabat muslim, silakan dipraktekkan, Insya Allah jadwal kehidupan kita (baik secara personal, dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam berbisnis) akan lebih mudah dijalani.
Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:
Abdullah bin ‘Abbas RA– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, "Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
(Hadits Sahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad)
Sumber cerita: M. Arief Budiman
Suatu hari, dulu saat awal memulai bisnis, saya mengalami situasi seperti ini; saya membuat janji pertemuan dengan tiga orang berbeda di kota Jakarta. Saat itu saya tinggal di Yogyakarta, dan tidak banyak memiliki kenalan di Jakarta. Sementara, kondisi keuangan saya saat itu untuk pergi ke Jakarta pun sedang 'pas-pasan'.
Dengan kondisi seperti itu, saya merasa kebingungan karena jadwal pertemuannya sudah diatur dari Jakarta. Pertemuan dengan Pak A direncanakan hari Senin siang, dengan Pak B hari Rabu pagi, sedangkan dengan Ibu C di hari Jumat sore.
Jika mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta selama lima hari dan pulang kembali ke Yogya pada Jumat malam.
Masalahnya, dimana saya mau menginap? bagaimana biaya makannya selama lima hari itu? Salah-salah nggak bisa kembali pulang. Padahal ini pertemuan bisnis dan jadwalnya sudah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu para pengambil keputusan untuk penawaran kerja promosi.
Tentu saja, saya harus mengikuti jadwal mereka, karena posisi saya tak kuasa menentukan jadwal, saya yang membutuhkan mereka.
Pusing rasanya, saya memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya bertemu seorang teman yang kebetulan dia adalah muslim yang taat dan pengetahuan agamanya cukup baik.
Dalam perbincangan kami sempat saya utarakan kesulitan saya itu, syukur bila ia bisa berbagi solusi. Saya pun curhat padanya. Teman saya hanya mengangguk-angguk lalu bertanya pada saya, "Jadwal shalatmu gimana?"
"Jadwal shalat? Aduh, apa hubungannya?" jawab saya dengan nada keheranan.
"Iya, shalat subuh mu jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
" Ya, jam setengah enam, jam enam, sebangunnya saya lah, kenapa," jawab saya.
"Shalat dhuhur jam berapa?" tanya dia lagi.
"Dhuhur? Jadwal sholat dhuhur ya biasanya jam 12" jawab saya.
"Bukan, maksudku jadwal shalat dhuhurmu itu jam berapa?" ia terus mendesak.
"Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung bisa shalat Ashar. Ah, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya tambah bingung.
Teman saya tersenyum dan berkata, "Pantas saja jadwal hidupmu berantakan, shalat mu saja nggak tentu jadwalnya"
"Lho kok, apa hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu serius mau menyelesaikan masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya saya tadi cerita!" saya menyahut sedikit kesal.
"Beresin dulu jadwal shalat wajibmu. Jangan terlambat shalat, jangan ditunda-tunda, kalau bisa shalat berjamaah," jawabnya.
"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kamu kerjakan saja dulu kalau mau, tapi kalau tidak juga tidak apa-apa, yang punya masalah itu kan kamu bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit, jawabannya sungguh tak memuaskan hati saya, "nggak nyambung..." kata saya dalam hati.
Saya pun mencoba mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku untuk berangkat yang memang terbatas. Tetapi sehari itu sepertinya saya tidak menemukan jalan terang alias buntu.
Sampai akhirnya saya berpikir untuk mencoba sarannya. Saya pikir, toh tidak beresiko apa pun juga. Tapi memang, karena tidak terbiasa shalat yang teratur, rasanya berat sekali melakukanya. Sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa menunda, malas-malasan, melaksanakannya di saat-saat terkhir waktu shalat.
Dua hari sudah saya jalani shalat teratur sesuai jadwal, tetapi tak terjadi apa-apa... makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.
Tetapi di hari ketiga, ponsel saya berdering. Dari asisten Pak A, ia mengatakan, "Mas, mohon maaf sebelumnya, karena Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."
.
Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadwal saya makin teratur ini malah ada kemungkinan dibatalkan. Makin jauh lagi logika saya untuk menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan shalat saya teratur sesuai jadwalnya.
Di hari berikutnya, ponsel saya berdering lagi. Dari sekretaris Pak B. Ia mengatakan, "Mas, semoga belum beli tiket ya, karena Pak B ternyata ada jadwal general check up hari Rabu depan, jadinya tidak bisa ketemu. Tadi Bapak tanya bisa nggak ketemunya hari Jumat saja, jamnya mengikuti jadwal Mas."
Yang ini saya benar-benar membuat saya kaget. "Hari Jumat, berarti bersamaan dengan jadwalnya Ibu C? Dengan tenang saya pun menyahut, "Baik, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi, jam 9 bisa, ya?"
Dari seberang sana menjawab, "Oke Mas, nanti saya sampaikan."
Alhamdulillah, saya berteriak dalam hati. Belum hilang rasa kaget saya, dering ponsel saya menyala lagi. Sebuah pesan pendek masuk dan tertulis dilayar:
"Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup."
Kontan saya sangat terkejut! Masya Allah, tanpa campur tangan saya sama sekali, jadwal pertemuan itu seolah menyusun dengan sendirinya. Saya sangat takjub! Begitu dahsyat kejutan ini, saya pun langsung sujud syukur ... sesujud-sujudnya.
Sungguh, keajaiban seperti ini takkan bisa didapatkan siapa pun, bahkan Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits tak akan mampu menjelaskan ini. Hanya Allah Ta'ala yang kuasa mengatur segala sesuatu dari Arsy-Nya disana.
Sampai saya meyakini satu hal yang hingga sekarang saya terapkan terus "Dahulukan jadwal waktumu untuk Allah maka Allah akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-baiknya."
Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Allah, maka Allah akan selalu menjaga hidup kita. Allah mengikuti perlakuan kita kepadaNya, makin teratur kita menyambut-Nya, makin teratur jadwal hidup kita.
Jadi inilah kunci sukses bisnis pertama yang saya bisa share ke teman-teman: Shalatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih memantapkannya lagi, lakukan shalat sunnah; qobliyah, ba'diyah, tahajjud, dhuha, semampunya.
Sahabat muslim, silakan dipraktekkan, Insya Allah jadwal kehidupan kita (baik secara personal, dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam berbisnis) akan lebih mudah dijalani.
Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:
Abdullah bin ‘Abbas RA– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, "Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
(Hadits Sahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad)
Sumber cerita: M. Arief Budiman
by Unknown
01.56.00
Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk membangun Baitullah di muka bumi dan melaksanakan thawaf disana." Peristiwa tersebut terjadi sebelum Adam AS diturunkan ke bumi.
Selanjutnya, Adam menyempurnakan bangunannya dan berthawaf disana dan diikuti oleh para nabi setelahnya. Kemudian, pembangunan Baitullah itu dilaksanakan kembali dan disempurnakan oleh Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS”
Penjelasan ini berdasarkan keterangan AlQuran surah Al-Baqarah [2] ayat 127 dan surah Al-Hajj [22] ayat 26. "Dan, ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Adam AS. Dan, yang menyempurnakan pembangunan Ka’bah dengan memasang atau meninggikan pondasinya adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Pemakaian Kiswah pada Baitullah (Ka'bah) Kiswah yang artinya adalah pakaian, selanjutnya kata tersebut digunakan untuk menyebut kain penutup Ka'bah.
Dalam sejarahnya, Kabah diberi kiswah sejak jaman Ismail AS. Namun, tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada masa itu terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah dibuat dari kain tenun.
Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak jaman Ismail AS dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebagaimana disebutkan Muhammad bin Ishaq yang mengatakan, “Banyak Ulama’ menceritakan kepadaku, bahwa orang yang pertama kali memberi kiswah pada ka'bah adalah Tuba' As'ad al-Himyar."
Suatu ketika, dia bermimpi memasang kiswah Ka'bah, dan dia pun menutupi Ka'bah dengan al-Antha', yakni sebuah permadani yang terbuat dari kulit. Kemudian dia kembali bermimpi, mengenakan kiswah untuk Ka'bah, dan dia pun memasangnya menggunakan Al-Washayil, yakni kain berwarna merah, bergaris, buatan Yaman."(al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadits, 1/301)
Di Jaman Jahiliyah
Setelah masa Kerajaan Himyar, orang-orang di jaman jahililyah bergantian memasang kiswah. Mereka diperbolehkan memasang kiswah kapan saja dengan bahan apa saja.
Di antara jenis kain yang pernah digunakan untuk kiswah adalah al-Kasf (kain tebal), al-Ma'afir (kain buatan daerah Ma'afir), al- Mala' (kain halus, tipis), al-Washayil dan al-'Ashb, yang keduanya merupakan kain buatan Yaman yang ditenun dengan bambu.
Pada masa Qusay bin Kilab, salah seorang leluhur Rasulullah yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka'bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Mereka mewajibkan setiap kabilah untuk menanggung biaya pengadaan kiswah sesuai kemampuan masing-masing.
Sampai akhirnya datang Abu Rabi'ah bin al-Mughirah, dengan kekayaannya, dia sendiri yang menanggung biaya kiswah. Bahkan di saat kaum Quraisy sedang ditimpa paceklik. Karena itu, masyarakat arab menyebutnya dengan al-Adl (sepadan).
Karena jasa dia memasang kiswah telah sepadan dan menyamai amanah memasang kiswah yang menjadi tanggung jawab orang Quraisy. Untuk selanjutnya, keturunan Abu Rabi'ah diberi nama Bani al-Adl. (al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadis, 1/306).
Orang yang pertama kali memberi kiswah dengan kain sutera adalah Nutailah binti Janab, Ibunya Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muthalib.
Kiswah Ka'bah Setelah Datangnya Islam
Pada masa Rasulullah berada di Mekkah, Ia dan para sahabat tidak memberikan kiswah untuk Ka'bah. Itu terjadi pada masa sebelum penaklukan kota Mekkah. Karena kaum Quraisy tidak mengijinkannya.
Setelah fathul Mekkah pun Rasulullah tidak mengganti kain kiswah yang menempel di Ka'bah, hingga kiswah tersebut terbakar karena seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian Nabi SAW menggantinya dengan kain buatan dari Yaman.
Pada masa Khulafa al-Rasyidin; Abu Bakr RA, Umar RA, dan Utsman RA, mereka memasang kiswah dari kain Qabathi (kain kapas, halus berwarna putih buatan Mesir). Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Muawiyah RA, mengganti kiswah dua kali dalam setahun. Di hari 'Asyura dipasang dengan kain sutra dan di akhir Ramadhan dipasang dengan kain Qabathi.
Di masa Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, kiswah dipasang dua kali dalam setahun dengan bahan dari sutra. Kiswah pertama dipasang dalam keadaan digulung dan dijahit. Kiswah ini dipasang pada hari tarwiyah.
Tujuannya agar tidak disobek oleh jamaah haji. Kiswah kedua dipasang tanpa digulung, pada hari 'Asyura, setelah jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Kemudian dilepas pada 27 Ramadhan, dan diganti dengan kain Qubathi untuk menyambut Idul Fitri.
Di masa Khalifah al-Makmun, kiswah dipasang sebanyak empat lapis. Di lapis yang keempat Ia menggunakan kain warna putih. Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur.
Sedangkan pada masa Khalifah Makmun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Pada tahun 810 H, dibuat kain penutup yang bermotif ukiran, dipasang di bagian luar Ka'bah, yang dinamakan al-Burq. Pembuatan dan pemasangan kain ini sempat dihentikan antara tahun 816 H - 818 H, dan baru dibuat serta dijadikan kiswah kembali tahun 819 H hingga sekarang.
Kiswah Ka'bah Hingga Saat Ini
Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman ‘Ali Su'ud mendirikan pabrik untuk pembuatan kiswah Ka'bah di Mekkah, dan menyediakan seluruh kebutuhan pembangunan. Proyek ini dilanjutkan putranya, Raja Faisal bin Abdul Aziz.
Dia memperbarui pabrik pembuatan kiswah, dan membangun gedung baru di daerah Ummul Jud Mekkah al Mukarramah. Pabrik kiswah ini dilengkapi peralatan modern untuk mencetak kain tenun dengan mempertahankan corak kerajinan tangan.
Di pabrik itu, kiswah dibuat secara massal. Semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah. Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.
Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari.
jumrahonline | jumrah.com
Selanjutnya, Adam menyempurnakan bangunannya dan berthawaf disana dan diikuti oleh para nabi setelahnya. Kemudian, pembangunan Baitullah itu dilaksanakan kembali dan disempurnakan oleh Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS”
Penjelasan ini berdasarkan keterangan AlQuran surah Al-Baqarah [2] ayat 127 dan surah Al-Hajj [22] ayat 26. "Dan, ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Adam AS. Dan, yang menyempurnakan pembangunan Ka’bah dengan memasang atau meninggikan pondasinya adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Pemakaian Kiswah pada Baitullah (Ka'bah) Kiswah yang artinya adalah pakaian, selanjutnya kata tersebut digunakan untuk menyebut kain penutup Ka'bah.
Dalam sejarahnya, Kabah diberi kiswah sejak jaman Ismail AS. Namun, tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada masa itu terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah dibuat dari kain tenun.
Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak jaman Ismail AS dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebagaimana disebutkan Muhammad bin Ishaq yang mengatakan, “Banyak Ulama’ menceritakan kepadaku, bahwa orang yang pertama kali memberi kiswah pada ka'bah adalah Tuba' As'ad al-Himyar."
Suatu ketika, dia bermimpi memasang kiswah Ka'bah, dan dia pun menutupi Ka'bah dengan al-Antha', yakni sebuah permadani yang terbuat dari kulit. Kemudian dia kembali bermimpi, mengenakan kiswah untuk Ka'bah, dan dia pun memasangnya menggunakan Al-Washayil, yakni kain berwarna merah, bergaris, buatan Yaman."(al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadits, 1/301)
Di Jaman Jahiliyah
Setelah masa Kerajaan Himyar, orang-orang di jaman jahililyah bergantian memasang kiswah. Mereka diperbolehkan memasang kiswah kapan saja dengan bahan apa saja.
Di antara jenis kain yang pernah digunakan untuk kiswah adalah al-Kasf (kain tebal), al-Ma'afir (kain buatan daerah Ma'afir), al- Mala' (kain halus, tipis), al-Washayil dan al-'Ashb, yang keduanya merupakan kain buatan Yaman yang ditenun dengan bambu.
Pada masa Qusay bin Kilab, salah seorang leluhur Rasulullah yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka'bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Mereka mewajibkan setiap kabilah untuk menanggung biaya pengadaan kiswah sesuai kemampuan masing-masing.
Sampai akhirnya datang Abu Rabi'ah bin al-Mughirah, dengan kekayaannya, dia sendiri yang menanggung biaya kiswah. Bahkan di saat kaum Quraisy sedang ditimpa paceklik. Karena itu, masyarakat arab menyebutnya dengan al-Adl (sepadan).
Karena jasa dia memasang kiswah telah sepadan dan menyamai amanah memasang kiswah yang menjadi tanggung jawab orang Quraisy. Untuk selanjutnya, keturunan Abu Rabi'ah diberi nama Bani al-Adl. (al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadis, 1/306).
Orang yang pertama kali memberi kiswah dengan kain sutera adalah Nutailah binti Janab, Ibunya Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muthalib.
Kiswah Ka'bah Setelah Datangnya Islam
Pada masa Rasulullah berada di Mekkah, Ia dan para sahabat tidak memberikan kiswah untuk Ka'bah. Itu terjadi pada masa sebelum penaklukan kota Mekkah. Karena kaum Quraisy tidak mengijinkannya.
Setelah fathul Mekkah pun Rasulullah tidak mengganti kain kiswah yang menempel di Ka'bah, hingga kiswah tersebut terbakar karena seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian Nabi SAW menggantinya dengan kain buatan dari Yaman.
Pada masa Khulafa al-Rasyidin; Abu Bakr RA, Umar RA, dan Utsman RA, mereka memasang kiswah dari kain Qabathi (kain kapas, halus berwarna putih buatan Mesir). Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Muawiyah RA, mengganti kiswah dua kali dalam setahun. Di hari 'Asyura dipasang dengan kain sutra dan di akhir Ramadhan dipasang dengan kain Qabathi.
Di masa Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, kiswah dipasang dua kali dalam setahun dengan bahan dari sutra. Kiswah pertama dipasang dalam keadaan digulung dan dijahit. Kiswah ini dipasang pada hari tarwiyah.
Tujuannya agar tidak disobek oleh jamaah haji. Kiswah kedua dipasang tanpa digulung, pada hari 'Asyura, setelah jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Kemudian dilepas pada 27 Ramadhan, dan diganti dengan kain Qubathi untuk menyambut Idul Fitri.
Di masa Khalifah al-Makmun, kiswah dipasang sebanyak empat lapis. Di lapis yang keempat Ia menggunakan kain warna putih. Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur.
Sedangkan pada masa Khalifah Makmun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Pada tahun 810 H, dibuat kain penutup yang bermotif ukiran, dipasang di bagian luar Ka'bah, yang dinamakan al-Burq. Pembuatan dan pemasangan kain ini sempat dihentikan antara tahun 816 H - 818 H, dan baru dibuat serta dijadikan kiswah kembali tahun 819 H hingga sekarang.
Kiswah Ka'bah Hingga Saat Ini
Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman ‘Ali Su'ud mendirikan pabrik untuk pembuatan kiswah Ka'bah di Mekkah, dan menyediakan seluruh kebutuhan pembangunan. Proyek ini dilanjutkan putranya, Raja Faisal bin Abdul Aziz.
Dia memperbarui pabrik pembuatan kiswah, dan membangun gedung baru di daerah Ummul Jud Mekkah al Mukarramah. Pabrik kiswah ini dilengkapi peralatan modern untuk mencetak kain tenun dengan mempertahankan corak kerajinan tangan.
Di pabrik itu, kiswah dibuat secara massal. Semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah. Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.
Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
21.08.00
Di tanah suci, tidak semua tempat atau kota disediakan makanannya oleh panitia haji Indonesia. Di Mekkah misalnya, jamaah harus mengurusi makan sendiri. Mulai mencari dan memilih makan sesukanya.
Memang, mengurus makan sendiri di tanah suci tidak serta dilepas begitu saja oleh panitia haji. Makanan yang disediakan berlangsung pada di masa 'orientasi' haji, kurang lebih 8-9 hari di Madinah. Namun di Mekkah, jemaah haji bisa 'terjun bebas', yaitu cari makan sendiri. Mereka dibekali uang saku oleh panitia sekitar 1.500 riyal. Jumlah ini merupakan uang living cost atau uang biaya hidup per jamaah yang diberikan panitia.
Ada beberapa cerita dari jamaah yang mengalami kesulitan mencari makanan atau minuman dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan.
Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di belantara kota metropolitan seperti Mekkah yang teramat padat pada musim haji setiap tahunnya.
Mekkah adalah kota besar yang memiliki banyak fasilitas, terutama di musim haji yang memang merupakan masa panen bagi para pedagang. Banyak sekali tempat makan dimana jamaah haji bisa mendapatkan konsumsi yang sehat dan ekonomis.
Secara umum ada lima kelompok tempat jamaah mencari makanan dan minuman. Pertama, para pedagang makanan Indonesia yang menjajakkan dagangannya di sekitar terminal bis dan pondokan haji Indonesia.
Kedua, ada kios-kios makanan kecil India yang tersebar di seantero Mekkah di setiap sudut kota Mekkah. Ketiga, supermarket yang menyediakan makanan berbungkus (roti, biskuit, mie instan, sayuran mentah, bermacam minuman. Keempat, restoran Indonesia, Turki, dan India. Kelima, restoran fast food di food court mal besar seperti Hilton dan Zam-Zam.
Nah yang pertama itu adalah yang paling populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Para pedagang asal Madura, Banjar, Jawa ini berstatus pedagang jalanan yang menghamparkan jualannya di trotoar jalan. Tidak ada beda dengan pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia.
Yang disediakan adalah berbagai makanan Indonesia dalam bungkusan atau juga berdasarkan pesanan. Ada nasi putih, sayur masak, lauk pauk, krupuk/snack. Rata-rata harga per porsinya adalah 1-2 riyal (1 riyal = Rp 3000-an). Kalau pun mau makan sayur asem? Sayur bayam? Sate kambing atau ayam? Sambel goreng ikan teri? Semua pasti ada.
Harga makanan dan minuma cukup ekonomis
Para pedagang kaki lima itu biasanya berjualan sejak pagi setelah subuh hingga siang hari. Lalu muncul lagi sore menjelang maghrib. Ada sebagian jamaah yang sudah tahu pilihan utama untuk urusan makanan. Sekali makan, dengan nasi putih seharga 2 riyal, sayur 1 riyal, ayam/daging/telur 2 riyal, mereka bilang sudah merasa sangat cukup. Tiap hari juga bisa ganti menu. Kalau mau, bisa tambah krupuk atau bubur kacang ijo panas seharga 1 riyal. Rata-rata menghabiskan 5 riyal per sekali makan atau sekitar Rp 15.000,- an.
Berbagai kios makanan yang biasanya menyediakan makanan ala Arab atau India. Ini juga pilihan yang baik. Menurut mereka yang pernah merasakan berbagai macam aneka menu masakan yang paling pas dengan lidah kita adalah kebab, roti Arab ala hotdog yang berisi oseng-oseng sayur dan daging sapi/ayam. Harganya sekitar 3-4 riyal per unit. Biasanya ditandai dengan adanya panggangan kebab bundar yang dipajang di depan kios.
Kebab adalah makanan yang populer dan sudah cukup untuk sarapan atau bahkan makan siang. Tapi banyak jamaah Indonesia yang kurang cocok. Sebab bagi mereka, belum disebut makan kalau belum makan nasi.
Di kios-kios yang tidak menyediakan meja untuk makan pembeli ini juga tersedia berbagai menu prasmanan. Dan itu bisa dibeli dan dimasukkan ke dalam kotak nasi styroform besar. Pesan nasi briyani atau kebuli, gulai kambing atau yang lain, tarif umumnya berkisar 5-10 riyal gabungan semuanya. Banyak sekali pilihannya yang dijamin menggoyang lidah jamaah Indonesia. Apalagi di Indonesia jenis makanan ini tergolong mewah.
Aneka minuman tersedia komplet. Seperti minuman bersoda dengan berbagai merek populer. Biaanya, harganya 1 riyal per kaleng. Bisa juga memilih minuman 'cai', teh susu panas ala Arab yang bergizi. Harganya 2 riyal per gelas. Kalau air putih?
Zam zam, ini tentu saja free. Tetapi kita harus 'menimba' sendiri di Masjidil Haram, kita tinggal memasukkan botol dan membawa sendiri secukupnya. Nah, rata-rata semua toko, bahkan kios-kios kecil telah menyediakannya dalam bentuk kemasan, mirip kemasan air mineral di tanah air.
Kios-kios kecil itu tersebar di banyak lokasi di sekitar Masjidil Haram di berbagai arah. Sangat mudah menemukan kios kecil ini, dan rata-rata penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Jadi tak usah khawatir kelaparan selama Anda menunaikan ibadah haji di tanah suci.
jumrahonline | jumrah.com
Memang, mengurus makan sendiri di tanah suci tidak serta dilepas begitu saja oleh panitia haji. Makanan yang disediakan berlangsung pada di masa 'orientasi' haji, kurang lebih 8-9 hari di Madinah. Namun di Mekkah, jemaah haji bisa 'terjun bebas', yaitu cari makan sendiri. Mereka dibekali uang saku oleh panitia sekitar 1.500 riyal. Jumlah ini merupakan uang living cost atau uang biaya hidup per jamaah yang diberikan panitia.
Ada beberapa cerita dari jamaah yang mengalami kesulitan mencari makanan atau minuman dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan.
Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di belantara kota metropolitan seperti Mekkah yang teramat padat pada musim haji setiap tahunnya.
Mekkah adalah kota besar yang memiliki banyak fasilitas, terutama di musim haji yang memang merupakan masa panen bagi para pedagang. Banyak sekali tempat makan dimana jamaah haji bisa mendapatkan konsumsi yang sehat dan ekonomis.
Secara umum ada lima kelompok tempat jamaah mencari makanan dan minuman. Pertama, para pedagang makanan Indonesia yang menjajakkan dagangannya di sekitar terminal bis dan pondokan haji Indonesia.
Kedua, ada kios-kios makanan kecil India yang tersebar di seantero Mekkah di setiap sudut kota Mekkah. Ketiga, supermarket yang menyediakan makanan berbungkus (roti, biskuit, mie instan, sayuran mentah, bermacam minuman. Keempat, restoran Indonesia, Turki, dan India. Kelima, restoran fast food di food court mal besar seperti Hilton dan Zam-Zam.
Nah yang pertama itu adalah yang paling populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Para pedagang asal Madura, Banjar, Jawa ini berstatus pedagang jalanan yang menghamparkan jualannya di trotoar jalan. Tidak ada beda dengan pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia.
Yang disediakan adalah berbagai makanan Indonesia dalam bungkusan atau juga berdasarkan pesanan. Ada nasi putih, sayur masak, lauk pauk, krupuk/snack. Rata-rata harga per porsinya adalah 1-2 riyal (1 riyal = Rp 3000-an). Kalau pun mau makan sayur asem? Sayur bayam? Sate kambing atau ayam? Sambel goreng ikan teri? Semua pasti ada.
Harga makanan dan minuma cukup ekonomis
Para pedagang kaki lima itu biasanya berjualan sejak pagi setelah subuh hingga siang hari. Lalu muncul lagi sore menjelang maghrib. Ada sebagian jamaah yang sudah tahu pilihan utama untuk urusan makanan. Sekali makan, dengan nasi putih seharga 2 riyal, sayur 1 riyal, ayam/daging/telur 2 riyal, mereka bilang sudah merasa sangat cukup. Tiap hari juga bisa ganti menu. Kalau mau, bisa tambah krupuk atau bubur kacang ijo panas seharga 1 riyal. Rata-rata menghabiskan 5 riyal per sekali makan atau sekitar Rp 15.000,- an.
Berbagai kios makanan yang biasanya menyediakan makanan ala Arab atau India. Ini juga pilihan yang baik. Menurut mereka yang pernah merasakan berbagai macam aneka menu masakan yang paling pas dengan lidah kita adalah kebab, roti Arab ala hotdog yang berisi oseng-oseng sayur dan daging sapi/ayam. Harganya sekitar 3-4 riyal per unit. Biasanya ditandai dengan adanya panggangan kebab bundar yang dipajang di depan kios.
Kebab adalah makanan yang populer dan sudah cukup untuk sarapan atau bahkan makan siang. Tapi banyak jamaah Indonesia yang kurang cocok. Sebab bagi mereka, belum disebut makan kalau belum makan nasi.
Di kios-kios yang tidak menyediakan meja untuk makan pembeli ini juga tersedia berbagai menu prasmanan. Dan itu bisa dibeli dan dimasukkan ke dalam kotak nasi styroform besar. Pesan nasi briyani atau kebuli, gulai kambing atau yang lain, tarif umumnya berkisar 5-10 riyal gabungan semuanya. Banyak sekali pilihannya yang dijamin menggoyang lidah jamaah Indonesia. Apalagi di Indonesia jenis makanan ini tergolong mewah.
Aneka minuman tersedia komplet. Seperti minuman bersoda dengan berbagai merek populer. Biaanya, harganya 1 riyal per kaleng. Bisa juga memilih minuman 'cai', teh susu panas ala Arab yang bergizi. Harganya 2 riyal per gelas. Kalau air putih?
Zam zam, ini tentu saja free. Tetapi kita harus 'menimba' sendiri di Masjidil Haram, kita tinggal memasukkan botol dan membawa sendiri secukupnya. Nah, rata-rata semua toko, bahkan kios-kios kecil telah menyediakannya dalam bentuk kemasan, mirip kemasan air mineral di tanah air.
Kios-kios kecil itu tersebar di banyak lokasi di sekitar Masjidil Haram di berbagai arah. Sangat mudah menemukan kios kecil ini, dan rata-rata penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Jadi tak usah khawatir kelaparan selama Anda menunaikan ibadah haji di tanah suci.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
05.59.00
TAHUN baru merupakan moment yang ditunggu-tunggu oleh banyak masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Seluruh kalangan menyambutnya dengan gembira, termasuk di dalamnya umat Muslim di Indonesia. Namun, tanpa mereka ketahui, malam Tahun baru adalah waktu di mana setan menggencarkan strategi mereka dalam menyesatkan manusia.
Komunitas setan telah bekerja keras bertahun-tahun untuk menyesatkan manusia, tidak terkecuali masyarakat Muslim Indonesia. Hingga akhirnya, mereka berhasil juga menjerumuskan masyarakat Muslim Indonesia ini ke dalam pesta ala mereka. Ilustrasi berikut ini mungkin bisa membantu kita untuk memahami kenapa hampir mayoritas masyarakat Msulim di negeri ini terjerumus ke dalam jurang tipu daya setan yang di tahun 70an kita belum melihatnya separah apa yang kita saksikan pada beberapa tahun belakangan ini.
Pada suatu hari, Iblis mengumpulkan komunitasnya sambil berkata kepada mereka :
"Kita harus bekerja keras agar anak-cucu Adam di Indonesia ini mau menjadi pengikut dan budak kita. Kita harus buat strategi yang jitu sehingga mereka suatu saat beramai-ramai tidak menyadari kekeliruan yang mereka lakukan dan bahkan merasakan kenikmatannya dan mengira itu adalah suatu kebenaran atau sah-sah saja."
Strategi itu ialah, kita tidak mungkin memulai dengan melarang mereka ke masjid-masjid, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, belajar Islam. Kita tidak mungkin melarang mereka berzikir dan membangun hubungan dengan Allah dan nabi mereka Muhammad. Kalau ini yang kita lakukan, kita akan kehabisan energy dan mereka tidak mungkin dapat dikalahkan.
Sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke masjid pada saat tertentu seperti hari jumat, idul fitri dan iedul adh-ha. Di tengah-tengah itu, dorong mereka agar menggunakan syahwat harta, tahta dan wanita. Bagi yang tidak kebagian, dorong syahwat pesta pora dan ingin bersenang-senang.Nah, malam tahun baru masehi adalah waktu yang paling pas untuk memobilisasi mereka terjerumus ke dalam perangkap kita.
Pada dasarnya, kata Iblis lagi; sibukkan kaum Muslimin di negeri ini dengan hal-hal yang tidak bermutu, dorong mereka untuk menghabiskan waktu dan uang pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan bahkan sampai ke tingkat mubazir, seperti terompet, petasan dan kembang api. Kalau kita sudah berhasil menciptakan kondisi seperti itu, berarti kita sudah menang dan mereka sudah menjadi saudara-saudara kita. (QS.Al-Isra’ : 27).
Agar strategi kita kuat dan berpengaruh jangka panjang, kita perlu meningkatkan kinerja. Berbagai daya tarik perlu diciptakan. Berbagai alternatif perlu ditawarkan dan berbagai langkah perlu dijalankan. Di antaranya :
Upayakan mereka hidup konsumtif dan hidup dalam berhutang dan berhutang (kredit dan kredit). Dorong mereka bekerja keras untuk mencari uang sepanjang hari, kalau perlu sampai larut malam dan buat alasan kerja itu ibadah. Kalau bisa, dorong mereka bekerja 10 -12 jam perhari, 6-7 hari perpekan dan begitulah sepanjang tahun.
Bangun angan-angan dan janji-janji kosong dalam benak mereka untuk jadi orang kaya, punya uang banyak, rumah besar, kendaraan mewah, anak-anak harus sekolah di sekolah-sekolah mahal. (QS.Annisa’ : 120 dan Al-Isra’ : 64)
Jangan sampai mereka punya waktu yang cukup untuk anak-anak dan istri-istri mereka, dengan alasan bekerja keras untuk membahagiakan mereka. Demikian juga upayakan agar tidak ada waktu silaturahmi dengan orang tua dan karib kerabat mereka dengan alasan sedang sibuk meniti karir dan mencapai kebebasan financial.
Buatlah mereka seakan-akan sangat sibuk dengan urusan yang besar-besar. Bangun dalam diri mereka kebanggaan pada kemewahan hidup dunia, seperti mobil, rumah, teknologi komunikasi dan berbagai sarana kemewahan lainnya. Dorong gengsi mereka setinggi-tingginya terhadap semua materi, dan mereka harus menjadi angkuh dan sombong.
Untuk itu, lalaikan mereka dengan berbagai bentuk hiburan seperti musik, video, sinetron, film, party dan sebagainya. Dengan demikian, mereka akan menjadi orang yang lalai mengingat Allah dan berorientasi duniawi dan tidak ingat lagi kematian dan akhirat.
Terkait wanita wanita Muslimah, rangsang mereka untuk keluar rumah dan meninggalkan anak-anak mereka, baik dengan alasan bekerja maupun dakwah, shopping atau arisan (silaturrahmi). Kembangkan dalam pikiran mereka semangat kompetisi tidak sehat dengan kaum pria. Ajarkan kepada mereka berbagai fashion dan teknis kecantikan fisik kendati harus merubah jenis kelamin mereka sendiri (QS. Annisa’ : 119).
Ajarkan mereka untuk selalu tidak puas pada pemberian suami mereka, baik terkait dengan harta maupun dengan nafkah batin. Pokoknya, buat mereka sibuk sesibuknya sehingga tidak ada waktu untuk melayani suami dan merawat anak-anak mereka secara sempurna. Dengan demikian, rumah tangga dan anak-anak mereka dijamin berantakan.
Inilah tugas kalian… Inilah tugas kalian… inilah tugas kalian, kata sang Iblis. Mendengar perintah tersebut, para setan serentak menjawab : Oke Bos… Kami akan lakukan…
Lalu Iblis berkata : Apa bukti kalian berhasil?
Salah satu setan senior menjawab : Lihat saja nanti saat menyambut tahun baru masehi… Bila mayoritas kaum Muslim tumpah ruah sambil berpesta pora ala kita dalam menyambut tahun baru masehi dan tidak ingat lagi sholat, tidak ingat lagi Allah, bahkan tokoh-tokoh dakwahnya sudah pada ikutan, saat itulah misi kita berhasil (QS.Al-Hijr : 39 -42)
Saudaraku,
Ini hanyalah sebuah ilustrasi, namun faktanya mungkin lebih dari itu. Untuk itu, sebagai umat muslim sudah seharusnya mewaspadai setiap langkah dan tipu daya setan. Tipu daya mereka sangat cerdik dan licik. Dan membahayakan kehidupan dunia dan akhirat kita. Allah berfirman :
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya."
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (27) Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf : 27 -28)
Kita sudah melihat bahwa sebagian besar strategi setan yang dilakukan pada tahun baru masehi ini sudahlah berhasil. Banyak diantara umat Muslim Indonesia yang pada akhirnya terhanyut dalam pesta pora tahun baru masehi yang sia-sia. Hingga akhirnya hidupnya dipenuhi dengan kemasiatan. Naudzubillah.
islampos.com
Komunitas setan telah bekerja keras bertahun-tahun untuk menyesatkan manusia, tidak terkecuali masyarakat Muslim Indonesia. Hingga akhirnya, mereka berhasil juga menjerumuskan masyarakat Muslim Indonesia ini ke dalam pesta ala mereka. Ilustrasi berikut ini mungkin bisa membantu kita untuk memahami kenapa hampir mayoritas masyarakat Msulim di negeri ini terjerumus ke dalam jurang tipu daya setan yang di tahun 70an kita belum melihatnya separah apa yang kita saksikan pada beberapa tahun belakangan ini.
Pada suatu hari, Iblis mengumpulkan komunitasnya sambil berkata kepada mereka :
"Kita harus bekerja keras agar anak-cucu Adam di Indonesia ini mau menjadi pengikut dan budak kita. Kita harus buat strategi yang jitu sehingga mereka suatu saat beramai-ramai tidak menyadari kekeliruan yang mereka lakukan dan bahkan merasakan kenikmatannya dan mengira itu adalah suatu kebenaran atau sah-sah saja."
Strategi itu ialah, kita tidak mungkin memulai dengan melarang mereka ke masjid-masjid, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, belajar Islam. Kita tidak mungkin melarang mereka berzikir dan membangun hubungan dengan Allah dan nabi mereka Muhammad. Kalau ini yang kita lakukan, kita akan kehabisan energy dan mereka tidak mungkin dapat dikalahkan.
Sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke masjid pada saat tertentu seperti hari jumat, idul fitri dan iedul adh-ha. Di tengah-tengah itu, dorong mereka agar menggunakan syahwat harta, tahta dan wanita. Bagi yang tidak kebagian, dorong syahwat pesta pora dan ingin bersenang-senang.Nah, malam tahun baru masehi adalah waktu yang paling pas untuk memobilisasi mereka terjerumus ke dalam perangkap kita.
Pada dasarnya, kata Iblis lagi; sibukkan kaum Muslimin di negeri ini dengan hal-hal yang tidak bermutu, dorong mereka untuk menghabiskan waktu dan uang pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan bahkan sampai ke tingkat mubazir, seperti terompet, petasan dan kembang api. Kalau kita sudah berhasil menciptakan kondisi seperti itu, berarti kita sudah menang dan mereka sudah menjadi saudara-saudara kita. (QS.Al-Isra’ : 27).
Agar strategi kita kuat dan berpengaruh jangka panjang, kita perlu meningkatkan kinerja. Berbagai daya tarik perlu diciptakan. Berbagai alternatif perlu ditawarkan dan berbagai langkah perlu dijalankan. Di antaranya :
Upayakan mereka hidup konsumtif dan hidup dalam berhutang dan berhutang (kredit dan kredit). Dorong mereka bekerja keras untuk mencari uang sepanjang hari, kalau perlu sampai larut malam dan buat alasan kerja itu ibadah. Kalau bisa, dorong mereka bekerja 10 -12 jam perhari, 6-7 hari perpekan dan begitulah sepanjang tahun.
Bangun angan-angan dan janji-janji kosong dalam benak mereka untuk jadi orang kaya, punya uang banyak, rumah besar, kendaraan mewah, anak-anak harus sekolah di sekolah-sekolah mahal. (QS.Annisa’ : 120 dan Al-Isra’ : 64)
Jangan sampai mereka punya waktu yang cukup untuk anak-anak dan istri-istri mereka, dengan alasan bekerja keras untuk membahagiakan mereka. Demikian juga upayakan agar tidak ada waktu silaturahmi dengan orang tua dan karib kerabat mereka dengan alasan sedang sibuk meniti karir dan mencapai kebebasan financial.
Buatlah mereka seakan-akan sangat sibuk dengan urusan yang besar-besar. Bangun dalam diri mereka kebanggaan pada kemewahan hidup dunia, seperti mobil, rumah, teknologi komunikasi dan berbagai sarana kemewahan lainnya. Dorong gengsi mereka setinggi-tingginya terhadap semua materi, dan mereka harus menjadi angkuh dan sombong.
Untuk itu, lalaikan mereka dengan berbagai bentuk hiburan seperti musik, video, sinetron, film, party dan sebagainya. Dengan demikian, mereka akan menjadi orang yang lalai mengingat Allah dan berorientasi duniawi dan tidak ingat lagi kematian dan akhirat.
Terkait wanita wanita Muslimah, rangsang mereka untuk keluar rumah dan meninggalkan anak-anak mereka, baik dengan alasan bekerja maupun dakwah, shopping atau arisan (silaturrahmi). Kembangkan dalam pikiran mereka semangat kompetisi tidak sehat dengan kaum pria. Ajarkan kepada mereka berbagai fashion dan teknis kecantikan fisik kendati harus merubah jenis kelamin mereka sendiri (QS. Annisa’ : 119).
Ajarkan mereka untuk selalu tidak puas pada pemberian suami mereka, baik terkait dengan harta maupun dengan nafkah batin. Pokoknya, buat mereka sibuk sesibuknya sehingga tidak ada waktu untuk melayani suami dan merawat anak-anak mereka secara sempurna. Dengan demikian, rumah tangga dan anak-anak mereka dijamin berantakan.
Inilah tugas kalian… Inilah tugas kalian… inilah tugas kalian, kata sang Iblis. Mendengar perintah tersebut, para setan serentak menjawab : Oke Bos… Kami akan lakukan…
Lalu Iblis berkata : Apa bukti kalian berhasil?
Salah satu setan senior menjawab : Lihat saja nanti saat menyambut tahun baru masehi… Bila mayoritas kaum Muslim tumpah ruah sambil berpesta pora ala kita dalam menyambut tahun baru masehi dan tidak ingat lagi sholat, tidak ingat lagi Allah, bahkan tokoh-tokoh dakwahnya sudah pada ikutan, saat itulah misi kita berhasil (QS.Al-Hijr : 39 -42)
Saudaraku,
Ini hanyalah sebuah ilustrasi, namun faktanya mungkin lebih dari itu. Untuk itu, sebagai umat muslim sudah seharusnya mewaspadai setiap langkah dan tipu daya setan. Tipu daya mereka sangat cerdik dan licik. Dan membahayakan kehidupan dunia dan akhirat kita. Allah berfirman :
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya."
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (27) Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf : 27 -28)
Kita sudah melihat bahwa sebagian besar strategi setan yang dilakukan pada tahun baru masehi ini sudahlah berhasil. Banyak diantara umat Muslim Indonesia yang pada akhirnya terhanyut dalam pesta pora tahun baru masehi yang sia-sia. Hingga akhirnya hidupnya dipenuhi dengan kemasiatan. Naudzubillah.
islampos.com
by Unknown
07.42.00
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.
Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)
Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.
Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.
أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة
Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”
Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.
Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.
jumrahonline | jumrah.com
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.
Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)
Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.
Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.
أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة
Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”
Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.
Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
05.59.00
Dunia ibu tak bisa dilepaskan dari tukang sayur. Bisa dikatakan, orang ini adalah idola dan idaman para ibu. Kehadirannya tiap hari ditunggu dengan harap cemas. Ketidakhadirannya diikuti oleh rasa kecewa, karena stok makanan hari itu terancam. Si ibu terpaksa harus keliling cari tukang sayur lain, atau malah harus pergi ke pasar.
Sejatinya kehadiran tukang sayur tiap pagi membuat para ibu bisa lebih mudah dan cepat memperoleh bahan menu impian. Tetapi ibu-ibu sering juga bagaikan "musuh dalam selimut" atau "benci tapi rindu" terhadap tukang sayur. Mereka membutuhkan, tetapi di sisi lain mereka ingin menekan tukang yang satu ini.
Tekanan-tekanan itu yang menjadikan para ibu ini melakukan kesalahan/dosa tanpa sengaja. Apa saja "dosa" ibu-ibu pada tukang sayur:
1. Menawar dagangan terlalu murah
Keunikan belanja di pasar tradisional maupun tukang sayur adalah bahwa kita bisa menawar harga barang.
Tapi untuk harga sayur/buah/pangan pokok lainnya, biasanya pedagang tidak akan membandrol barang dengan harga yang terlalu tinggi. Apalagi dengan asas persaingan sempurna, mereka tak mau terlalu banyak selisih harga dengan pedagang lain karena kuatir kehilangan pelanggan. Karena itu kita sebaiknya menjaga adab dalam menawar harga. Berilah tawaran harga yang sewajarnya.
Jangan sampai pedagang melepas barangnya pada kita dengan rasa terpaksa/tidak ikhlas. Keterpaksaan itu bisa mengurangi keberkahan dalam barang yang akan kita konsumsi.
2. Pesan suatu barang tetapi tidak jadi dibeli.
Ketahuilah bunda, modal yang dimiliki tukang sayur itu sudah ada peruntukannya. Dia sudah mempelajari bahan apa saja yang ingin dikulak sesuai kecenderungan konsumen. Jika kita pesan suatu barang tertentu, modalnya akan terpakai untuk kita. Jika kita tak jadi membelinya, tentu menjadi kerugian baginya. Masih bagus jika barang pesanan kita itu ada yang menggantikan. Jika tidak, modal si pedagang akan tertahan di barang tersebut. Ini akan mengurangi kemampuannya kulakan barang di hari berikutnya.
3. Berhutang pada tukang sayur dalam waktu lama, tapi membayar tunai pada toko besar.
Sudah rahasia umum sebagian ibu berhutang pada tukang sayur, bahkan dalam jangka waktu lama. Namun di waktu yang relatif sama, ibu tersebut mampu membeli barang-barang di toko besar/swalayan. Sudah tentu di swalayan ia harus membayar tunai. Bukan masalah jika ibu sedang kesulitan keuangan. Tetapi hendaknya disertai empati untuk menahan keinginan membeli barang-barang lain yang kurang perlu.
Terlalu lama ibu berhutang, membuat tukang sayur menjadi kekurangan modal.
4. Mengutil
Seorang tukang sayur bercerita pada saya, di tengah keramaian orang belanja, suka ada ibu-ibu yang mengutil barang. Perilaku itu tidak hanya sekali tapi bisa beberapa kali dilakukannya. Juga tidak hanya satu-dua ibu yang melakukan pengutilan itu.
Tukang sayur tidak mau menegurnya karena kasihan jika ibu tsb menjadi malu di hadapan orang banyak.
5. Selalu ingin dilayani lebih dahulu.
Karena ibu-ibu enggan bersabar, tukang sayur menjadi panik. Kadang hitung-hitungan manualnya kacau alias salah harga. Ini juga berpotensi mengakibatkan kerugian.
6. Berinisiatif mengambil bonus sendiri
Kadang ada ibu-ibu menambahkan suatu barang sebagai bonus/pembulatan harga belanjaannya.
Sebaiknya kita tanya dulu pada tukang sayur apakah ia membolehkan? Akan lebih baik jika ia yang memilihkan/menentukan jenis bonusnya. Sekalipun hanya sebutir tomat kecil yang kita minta, jika harganya sedang tinggi tentu akan memberatkannya.
Demikian hal-hal kecil yang sering dilakukan ibu-ibu terhadap tukang sayur. Semoga kita tak termasuk dalam kategori ibu-ibu yang lalai dalam hal tersebut.
Kedzoliman kecil yang tanpa terasa kita lakukan tiap hari tentunya bisa makin menumpuk menjadi kedzoliman yang besar, na'udzubillah.
Penulis: Sofia S. Wardani
Sejatinya kehadiran tukang sayur tiap pagi membuat para ibu bisa lebih mudah dan cepat memperoleh bahan menu impian. Tetapi ibu-ibu sering juga bagaikan "musuh dalam selimut" atau "benci tapi rindu" terhadap tukang sayur. Mereka membutuhkan, tetapi di sisi lain mereka ingin menekan tukang yang satu ini.
Tekanan-tekanan itu yang menjadikan para ibu ini melakukan kesalahan/dosa tanpa sengaja. Apa saja "dosa" ibu-ibu pada tukang sayur:
1. Menawar dagangan terlalu murah
Keunikan belanja di pasar tradisional maupun tukang sayur adalah bahwa kita bisa menawar harga barang.
Tapi untuk harga sayur/buah/pangan pokok lainnya, biasanya pedagang tidak akan membandrol barang dengan harga yang terlalu tinggi. Apalagi dengan asas persaingan sempurna, mereka tak mau terlalu banyak selisih harga dengan pedagang lain karena kuatir kehilangan pelanggan. Karena itu kita sebaiknya menjaga adab dalam menawar harga. Berilah tawaran harga yang sewajarnya.
Jangan sampai pedagang melepas barangnya pada kita dengan rasa terpaksa/tidak ikhlas. Keterpaksaan itu bisa mengurangi keberkahan dalam barang yang akan kita konsumsi.
2. Pesan suatu barang tetapi tidak jadi dibeli.
Ketahuilah bunda, modal yang dimiliki tukang sayur itu sudah ada peruntukannya. Dia sudah mempelajari bahan apa saja yang ingin dikulak sesuai kecenderungan konsumen. Jika kita pesan suatu barang tertentu, modalnya akan terpakai untuk kita. Jika kita tak jadi membelinya, tentu menjadi kerugian baginya. Masih bagus jika barang pesanan kita itu ada yang menggantikan. Jika tidak, modal si pedagang akan tertahan di barang tersebut. Ini akan mengurangi kemampuannya kulakan barang di hari berikutnya.
3. Berhutang pada tukang sayur dalam waktu lama, tapi membayar tunai pada toko besar.
Sudah rahasia umum sebagian ibu berhutang pada tukang sayur, bahkan dalam jangka waktu lama. Namun di waktu yang relatif sama, ibu tersebut mampu membeli barang-barang di toko besar/swalayan. Sudah tentu di swalayan ia harus membayar tunai. Bukan masalah jika ibu sedang kesulitan keuangan. Tetapi hendaknya disertai empati untuk menahan keinginan membeli barang-barang lain yang kurang perlu.
Terlalu lama ibu berhutang, membuat tukang sayur menjadi kekurangan modal.
4. Mengutil
Seorang tukang sayur bercerita pada saya, di tengah keramaian orang belanja, suka ada ibu-ibu yang mengutil barang. Perilaku itu tidak hanya sekali tapi bisa beberapa kali dilakukannya. Juga tidak hanya satu-dua ibu yang melakukan pengutilan itu.
Tukang sayur tidak mau menegurnya karena kasihan jika ibu tsb menjadi malu di hadapan orang banyak.
5. Selalu ingin dilayani lebih dahulu.
Karena ibu-ibu enggan bersabar, tukang sayur menjadi panik. Kadang hitung-hitungan manualnya kacau alias salah harga. Ini juga berpotensi mengakibatkan kerugian.
6. Berinisiatif mengambil bonus sendiri
Kadang ada ibu-ibu menambahkan suatu barang sebagai bonus/pembulatan harga belanjaannya.
Sebaiknya kita tanya dulu pada tukang sayur apakah ia membolehkan? Akan lebih baik jika ia yang memilihkan/menentukan jenis bonusnya. Sekalipun hanya sebutir tomat kecil yang kita minta, jika harganya sedang tinggi tentu akan memberatkannya.
Demikian hal-hal kecil yang sering dilakukan ibu-ibu terhadap tukang sayur. Semoga kita tak termasuk dalam kategori ibu-ibu yang lalai dalam hal tersebut.
Kedzoliman kecil yang tanpa terasa kita lakukan tiap hari tentunya bisa makin menumpuk menjadi kedzoliman yang besar, na'udzubillah.
Penulis: Sofia S. Wardani
by Unknown
05.12.00
Tak banyak dari umat muslim yang memilih untuk menunaikan ibadah haji di usia muda. Terang saja, di usia ini orang lebih suka bersenang-senang daripada bersusah-susah menunaikan ibadah haji.
Padahal, ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menunaikan ibadah umrah dan haji di usia muda. Memang, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berhaji di usia muda. Namun, jika rezekinya sudah ada, tidak ada salahnya menunaikan ibadah haji di usia yang semuda mungkin.
Nah, inilah lima keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan menunaikan ibadah haji dan umrah di usia muda.
Punya Stamina yang Baik
Di usia produktif, tentu kamu masih punya banyak tenaga untuk melakukan berbagai ritual ibadah haji. Kamu masih punya banyak energi untuk tawaf, banyak beribadah di Masjidil Haram, atau mungkin mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mekkah.
Bisa Menolong Orang yang Membutuhkan Di Mekkah Sana
Ada banyak orang yang telah berusia lanjut dan sebenarnya tidak sanggup melakukan perjalanan jauh, tapi memaksakan diri untuk berangkat haji demi menunaikan rukun islam yang ke-lima ini. Nah, bagi kamu yang masih muda, berangkat haji di usia muda juga bisa membuat kamu punya banyak kesempatan untuk memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan tenagamu di Mekkah sana. Ini bisa mejadi lading pahala buat kamu.
Mencari Pencerahan Saat Mencari Jati Diri
Hingga usia 30an, sebenarnya masih banyak orang yang masih berada dalam taraf pencarian jati diri. Dengan bersimpuh di hadapan ka’bah, kamu bisa menyerahkan segala keresahan hati kepada Allah. Adakah yang lebih menenangkan daripada bersandar kepada Allah?
Memohon Jodoh yang Terbaik
Nah, berhaji di usia muda juga bisa menjadi ajang untuk kamu berdoa memohon jodoh kepada Allah. Kamu juga bisa berdoa di Jabal Rahma yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa. Semoga kamu dan jodohmu nanti bisa selanggeng dan seromantis Adam dan Hawa.
Banyak Waktu untuk Mengubah Diri Sepulang Dari Berhaji
Kamu pasti akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran dari perjalanan hajimu. Nah, di usia kamu yang masih muda ini, kamu masih punya banyak kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik sepulang dari perjalanan hajimu.
Semoga kita selalu diberkahi Allah dan diberi kesempatan untuk mengunjungi rumah-Nya secepat mungkin. Aamiin.
Padahal, ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menunaikan ibadah umrah dan haji di usia muda. Memang, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berhaji di usia muda. Namun, jika rezekinya sudah ada, tidak ada salahnya menunaikan ibadah haji di usia yang semuda mungkin.
Nah, inilah lima keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan menunaikan ibadah haji dan umrah di usia muda.
Punya Stamina yang Baik
Di usia produktif, tentu kamu masih punya banyak tenaga untuk melakukan berbagai ritual ibadah haji. Kamu masih punya banyak energi untuk tawaf, banyak beribadah di Masjidil Haram, atau mungkin mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mekkah.
Bisa Menolong Orang yang Membutuhkan Di Mekkah Sana
Ada banyak orang yang telah berusia lanjut dan sebenarnya tidak sanggup melakukan perjalanan jauh, tapi memaksakan diri untuk berangkat haji demi menunaikan rukun islam yang ke-lima ini. Nah, bagi kamu yang masih muda, berangkat haji di usia muda juga bisa membuat kamu punya banyak kesempatan untuk memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan tenagamu di Mekkah sana. Ini bisa mejadi lading pahala buat kamu.
Mencari Pencerahan Saat Mencari Jati Diri
Hingga usia 30an, sebenarnya masih banyak orang yang masih berada dalam taraf pencarian jati diri. Dengan bersimpuh di hadapan ka’bah, kamu bisa menyerahkan segala keresahan hati kepada Allah. Adakah yang lebih menenangkan daripada bersandar kepada Allah?
Memohon Jodoh yang Terbaik
Nah, berhaji di usia muda juga bisa menjadi ajang untuk kamu berdoa memohon jodoh kepada Allah. Kamu juga bisa berdoa di Jabal Rahma yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa. Semoga kamu dan jodohmu nanti bisa selanggeng dan seromantis Adam dan Hawa.
Banyak Waktu untuk Mengubah Diri Sepulang Dari Berhaji
Kamu pasti akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran dari perjalanan hajimu. Nah, di usia kamu yang masih muda ini, kamu masih punya banyak kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik sepulang dari perjalanan hajimu.
Semoga kita selalu diberkahi Allah dan diberi kesempatan untuk mengunjungi rumah-Nya secepat mungkin. Aamiin.
by Unknown
10.37.00
Alhamdulillah , shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kiblat yang bermuara di Baitullah atau Ka’bah adalah arah-arah Anda setiap kali mendirikan shalat. Tentu arah ini memiliki arti tersendiri dalam hidup Anda. Dan sudah barang tentu hati Anda selalu merindukan untuk memiliki kesempatan beribadah kepada Allah langsung di hadapan Ka’bah. Wajar bila pertama kali Anda berkesempatan untuk beribadah kepada Allah langsung di hadapan Ka’bah, Anda tak kuasa menahan luapan rasa bahagia.
Hati Anda berbunga-bunga, dan pikiran Anda terharu dan air matapun mengalir bercucuran. Betapa tidak, arah yang selama ini Anda agungkan ternyata bermuara pada bangunan sederhana, yaitu Ka’bah. Bangunan yang tersusun dari bebatuan hitam, yang sudah barang tentu tidak kuasa memberi Anda apapun.
Kesederhanaan Ka’bah menjadikan Anda menyadari bahwa selama ini ternyata Anda tidaklah menyembah bangunan Ka’bah. Selama ini sejatinya Anda sedang mengagungkan Tuhan Ka’bah, Pencipta dan Penguasa dunia beserta isinya.
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ﴿٣﴾الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” [al-Quraisy/106 : 3 – 4]
Walau demikian, mata Anda tak akan pernah puas memandang Ka’bah, dan kerinduan akan selalu melekat dalam hati Anda untuk terus berkunjung dan beribadah di dekatnya.
Saudaraku! Fenomena yang Anda rasakan bersama Ka’bah ini sejatinya adalah efek langsung dari kobaran iman Anda kepada Allah Ta’ala. Anda menyadari bahwa Allah-lah yang memerintahkan Anda untuk meghadapkan wajah ke arahnya, karenanya Anda selalu rindu kepadanya.
Begitu kuat kerinduan Anda kepada Ka’bah hingga menjadikan Anda berusaha sekuat tenaga untuk dapat mengobati kerinduan Anda walau hanya sesaat atau minimal sekali seumur hidup Anda. Sedikit demi sedikit Anda menyisihkan dari hasil kucuran keringat Anda, agar dikemudian hari Anda berkesempatan menikmati kesejukan beribadah di sisi Baitullah Ka’bah. Bahkan mungkin Anda rela menjual berbagai aset Anda, atau bahkan berhutang agar dapat mewujudkan impian Anda ini.
BERHAJI DARI HASIL BERHUTANG
Kerinduan Anda kepada Ka’bah’ menjadikan banyak orang memutar otak dan mencari berbagai terobosan guna mewujudkannya. Dan diantara terobosan yang sekarang banyak ditawarkan ialah dengan mengikuti program arisan atau menggunakan dana talangan haji. Bagi banyak kalangan, program ini terasa bak hembusan angin surga yang mengobati kerinduan hatinya. Akibatnya, banyak dari mereka terbuai dan langsung menerimanya tanpa berpikir lebih dalam tentang hukum dan resikonya.
Andai mereka sedikit meluangkan waktu dan pikiranya guna menimbang-nimbang program ini, nisacaya mereka mewaspadainya, program-program semacam ini, walau pada awalnya terasa empuk, namun pada akhirnya terasa berat dan menyusahkan. Terlebih-lebih bila program dana talangan haji ditinjau dari hukum syar’inya.
Dana talangan haji yang sekarang sedang marak diterapkan di berbagai lembaga keuangan, adalah salah satu bentuk rekayasa melanggar hukum Allah Ta’ala. Praktek yang sekarang sedang menjamur di masyarakat ini sekilas berupa akad qardh (piutang) dan ijarah (sewa menyewa jasa). Dan tidak diragukan bahwa kedua akad ini bila dilakukan secara terpisah adalah halal.
Walau demikian, ketika kedua akad ini dilakukan secara bersamaan dan saling terkait, muncullah masalah besar. Yang demikian itu karena beberapa alasan :
1. Larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ
“Tidak halal menggabungkan antara piutang dengan akad jual-beli” [HR Abu Dawud hadits no. 3506 dan At-Tirmidzy hadits no. 1234]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :”Pada hadits ini Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang penggabungan antara piutang dengan jual beli. Dengan demikian bila Anda menggabungkan antara akad piutang dengan akad sewa-menyewa berarti Anda telah menggabungkan antara akad piutang dengan akad jual-beli atau akad yang serupa dengannya. Dengan demikian, setiap akad sosial semisal hibah pinjam-meminjam, hibah buah-buahan yang masih di atas pohonnya, diskon pada akan penggarapan ladang atau sawah, dan lainnya semakna dengan akad hutang piutang, yaitu tidak boleh digabungkan dengan akad jual-beli dan sewa-menyewa” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/62]
2. Riba Terselubung
Secara lahir kreditur tidak memungut tambahan atau riba atau bunga dari piutangnya, namun secara tidak langsung ia telah mendapatkannya, yaitu dari uang sewa yang ia pungut. Anda pasti menyadari bahwa sewa menyewa (jual jasa pengurusan administrasi haji) yang dilakukan oleh lembaga keuangan terkait langsung dengan akad hutang piutang. Biasanya, yang telah memiliki dana sendiri untuk biaya hajinya, tidak akan menggunakan layanan “dana talangan haji” ini. Dengan demikian, adanya talangan dana haji ini, menjadikan lembaga keuangan terkait dapat memasarkan jasanya dan pasti mendapatkan keuntungan dari jual-beli jasa tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dengan berkata : “Kesimpulan dari hadits ini menegaskan bahwa : Tidak dibenarkan menggabungkan antara akad komersial dengan akad sosial. Yang demikian itu karena keduanya menjalin akad sosial disebabkan adanya akad komersial antara mereka. Dengan demikian akad sosial itu tidak sepenuhnya sosial. Namun akad sosial secara tidak langsung menjadi bagian dari nilai transaksi dalam akad komersial.
Dengan demikian orang yang menghutangkan uang sebesar seribu dirham kepada orang lain, dan pada waktu yang sama kreditur tidak rela memberi piutang kecuali bila debitur membeli barangnya dengan harga mahal. Sebagaimana pembeli tidaklah rela membeli dengan harga mahal melainkan karena ia mendapatkan piutang dari penjual” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/63]
3. Memberatkan Masyarakat
Sistem setoran haji yang diterapkan oleh Departemen Agama dengan online, sehingga dapat dilakukan kapan saja, telah mendatangkan masalah besar. Masyarakat berlomba-lomba untuk melakukan pembayaran secepat mungkin, guna mendapatkan kepastian jadwal keberangkatan. Akibatnya , banyak dari mereka yang sejatinya belum mampu menempuh segala macam cara, karena khawatir kelak harus menanti lama. Banyak dari mereka yang memaksakan diri dengan cara menggunakan sistem dana talangan haji atau arisan.
Adanya praktek memaksakan diri ini tidak diragukan membebani masyarakat. Terlebih-lebih menjadikan agama Islam yang pada awalnya terasa mudah, sekarang menjadi terasa sulit nan berat. Untuk dapat berhaji harus menanti sekian lama, dan selama penantian banyak dari mereka yang harus tersiksa dengan cicilan piutang. Bahkan sepulang menunaikan ibadah hajipun, sering kali masih menanggung beban cicilan biaya perjalan hajinya.
Sudah barang tentu melaksanakan ibadah dengan cara memaksakan diri semacam ini tentu tidak selaras dengan syariat Islam.
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَالأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَيَمُلُّ حَتَّى تَمُلُّواوَإِنَّ أَحَبَّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَادُوْوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ
“Wahai umat manusia, hendaknya kalian mengerjakan amalan yang kuasa kalian kerjakan, karena sejatinya Allah tidak pernah merasa bosan (diibadahi) walaupun kalian sudah merasakannya. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah ialah amalan yang dilakukan secara terus menerus, walaupun hanya sedikit” [HR Bukhari hadits no. 1100 dan Muslim hadits no. 785]
Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan ini ketika mendengar cerita bahwa Khaula’ binti Tuwait senantiasa shalat malam dan tidak pernah tidur.
Dan dalam urusan haji Allah Ta’ala berfirman.
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” [Ali-Imran/3 : 97]
Semoga paparan singkat ini menjadi pelajaran bagi Anda untuk semakin bertambah yakin bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak rela bila umatnya sengsara atau ditimpa kesusahan. Dengan demikian Anda dapat bersikap proposional dan terhindar dari hal-hal yang kurang selaras dengan syariat Islam, walau sekilas terasa empuk.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Ditulis oleh : Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA | Majalah Pengusaha Muslim
Kiblat yang bermuara di Baitullah atau Ka’bah adalah arah-arah Anda setiap kali mendirikan shalat. Tentu arah ini memiliki arti tersendiri dalam hidup Anda. Dan sudah barang tentu hati Anda selalu merindukan untuk memiliki kesempatan beribadah kepada Allah langsung di hadapan Ka’bah. Wajar bila pertama kali Anda berkesempatan untuk beribadah kepada Allah langsung di hadapan Ka’bah, Anda tak kuasa menahan luapan rasa bahagia.
Hati Anda berbunga-bunga, dan pikiran Anda terharu dan air matapun mengalir bercucuran. Betapa tidak, arah yang selama ini Anda agungkan ternyata bermuara pada bangunan sederhana, yaitu Ka’bah. Bangunan yang tersusun dari bebatuan hitam, yang sudah barang tentu tidak kuasa memberi Anda apapun.
Kesederhanaan Ka’bah menjadikan Anda menyadari bahwa selama ini ternyata Anda tidaklah menyembah bangunan Ka’bah. Selama ini sejatinya Anda sedang mengagungkan Tuhan Ka’bah, Pencipta dan Penguasa dunia beserta isinya.
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ﴿٣﴾الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” [al-Quraisy/106 : 3 – 4]
Walau demikian, mata Anda tak akan pernah puas memandang Ka’bah, dan kerinduan akan selalu melekat dalam hati Anda untuk terus berkunjung dan beribadah di dekatnya.
Saudaraku! Fenomena yang Anda rasakan bersama Ka’bah ini sejatinya adalah efek langsung dari kobaran iman Anda kepada Allah Ta’ala. Anda menyadari bahwa Allah-lah yang memerintahkan Anda untuk meghadapkan wajah ke arahnya, karenanya Anda selalu rindu kepadanya.
Begitu kuat kerinduan Anda kepada Ka’bah hingga menjadikan Anda berusaha sekuat tenaga untuk dapat mengobati kerinduan Anda walau hanya sesaat atau minimal sekali seumur hidup Anda. Sedikit demi sedikit Anda menyisihkan dari hasil kucuran keringat Anda, agar dikemudian hari Anda berkesempatan menikmati kesejukan beribadah di sisi Baitullah Ka’bah. Bahkan mungkin Anda rela menjual berbagai aset Anda, atau bahkan berhutang agar dapat mewujudkan impian Anda ini.
BERHAJI DARI HASIL BERHUTANG
Kerinduan Anda kepada Ka’bah’ menjadikan banyak orang memutar otak dan mencari berbagai terobosan guna mewujudkannya. Dan diantara terobosan yang sekarang banyak ditawarkan ialah dengan mengikuti program arisan atau menggunakan dana talangan haji. Bagi banyak kalangan, program ini terasa bak hembusan angin surga yang mengobati kerinduan hatinya. Akibatnya, banyak dari mereka terbuai dan langsung menerimanya tanpa berpikir lebih dalam tentang hukum dan resikonya.
Andai mereka sedikit meluangkan waktu dan pikiranya guna menimbang-nimbang program ini, nisacaya mereka mewaspadainya, program-program semacam ini, walau pada awalnya terasa empuk, namun pada akhirnya terasa berat dan menyusahkan. Terlebih-lebih bila program dana talangan haji ditinjau dari hukum syar’inya.
Dana talangan haji yang sekarang sedang marak diterapkan di berbagai lembaga keuangan, adalah salah satu bentuk rekayasa melanggar hukum Allah Ta’ala. Praktek yang sekarang sedang menjamur di masyarakat ini sekilas berupa akad qardh (piutang) dan ijarah (sewa menyewa jasa). Dan tidak diragukan bahwa kedua akad ini bila dilakukan secara terpisah adalah halal.
Walau demikian, ketika kedua akad ini dilakukan secara bersamaan dan saling terkait, muncullah masalah besar. Yang demikian itu karena beberapa alasan :
1. Larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ
“Tidak halal menggabungkan antara piutang dengan akad jual-beli” [HR Abu Dawud hadits no. 3506 dan At-Tirmidzy hadits no. 1234]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :”Pada hadits ini Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang penggabungan antara piutang dengan jual beli. Dengan demikian bila Anda menggabungkan antara akad piutang dengan akad sewa-menyewa berarti Anda telah menggabungkan antara akad piutang dengan akad jual-beli atau akad yang serupa dengannya. Dengan demikian, setiap akad sosial semisal hibah pinjam-meminjam, hibah buah-buahan yang masih di atas pohonnya, diskon pada akan penggarapan ladang atau sawah, dan lainnya semakna dengan akad hutang piutang, yaitu tidak boleh digabungkan dengan akad jual-beli dan sewa-menyewa” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/62]
2. Riba Terselubung
Secara lahir kreditur tidak memungut tambahan atau riba atau bunga dari piutangnya, namun secara tidak langsung ia telah mendapatkannya, yaitu dari uang sewa yang ia pungut. Anda pasti menyadari bahwa sewa menyewa (jual jasa pengurusan administrasi haji) yang dilakukan oleh lembaga keuangan terkait langsung dengan akad hutang piutang. Biasanya, yang telah memiliki dana sendiri untuk biaya hajinya, tidak akan menggunakan layanan “dana talangan haji” ini. Dengan demikian, adanya talangan dana haji ini, menjadikan lembaga keuangan terkait dapat memasarkan jasanya dan pasti mendapatkan keuntungan dari jual-beli jasa tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dengan berkata : “Kesimpulan dari hadits ini menegaskan bahwa : Tidak dibenarkan menggabungkan antara akad komersial dengan akad sosial. Yang demikian itu karena keduanya menjalin akad sosial disebabkan adanya akad komersial antara mereka. Dengan demikian akad sosial itu tidak sepenuhnya sosial. Namun akad sosial secara tidak langsung menjadi bagian dari nilai transaksi dalam akad komersial.
Dengan demikian orang yang menghutangkan uang sebesar seribu dirham kepada orang lain, dan pada waktu yang sama kreditur tidak rela memberi piutang kecuali bila debitur membeli barangnya dengan harga mahal. Sebagaimana pembeli tidaklah rela membeli dengan harga mahal melainkan karena ia mendapatkan piutang dari penjual” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/63]
3. Memberatkan Masyarakat
Sistem setoran haji yang diterapkan oleh Departemen Agama dengan online, sehingga dapat dilakukan kapan saja, telah mendatangkan masalah besar. Masyarakat berlomba-lomba untuk melakukan pembayaran secepat mungkin, guna mendapatkan kepastian jadwal keberangkatan. Akibatnya , banyak dari mereka yang sejatinya belum mampu menempuh segala macam cara, karena khawatir kelak harus menanti lama. Banyak dari mereka yang memaksakan diri dengan cara menggunakan sistem dana talangan haji atau arisan.
Adanya praktek memaksakan diri ini tidak diragukan membebani masyarakat. Terlebih-lebih menjadikan agama Islam yang pada awalnya terasa mudah, sekarang menjadi terasa sulit nan berat. Untuk dapat berhaji harus menanti sekian lama, dan selama penantian banyak dari mereka yang harus tersiksa dengan cicilan piutang. Bahkan sepulang menunaikan ibadah hajipun, sering kali masih menanggung beban cicilan biaya perjalan hajinya.
Sudah barang tentu melaksanakan ibadah dengan cara memaksakan diri semacam ini tentu tidak selaras dengan syariat Islam.
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَالأَعْمَالِ مَاتُطِيْقُوْنَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَيَمُلُّ حَتَّى تَمُلُّواوَإِنَّ أَحَبَّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَادُوْوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ
“Wahai umat manusia, hendaknya kalian mengerjakan amalan yang kuasa kalian kerjakan, karena sejatinya Allah tidak pernah merasa bosan (diibadahi) walaupun kalian sudah merasakannya. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah ialah amalan yang dilakukan secara terus menerus, walaupun hanya sedikit” [HR Bukhari hadits no. 1100 dan Muslim hadits no. 785]
Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan ini ketika mendengar cerita bahwa Khaula’ binti Tuwait senantiasa shalat malam dan tidak pernah tidur.
Dan dalam urusan haji Allah Ta’ala berfirman.
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” [Ali-Imran/3 : 97]
Semoga paparan singkat ini menjadi pelajaran bagi Anda untuk semakin bertambah yakin bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak rela bila umatnya sengsara atau ditimpa kesusahan. Dengan demikian Anda dapat bersikap proposional dan terhindar dari hal-hal yang kurang selaras dengan syariat Islam, walau sekilas terasa empuk.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Ditulis oleh : Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA | Majalah Pengusaha Muslim
by Unknown
02.31.00
Umat Muslim sedunia telah berupaya keras, setidaknya sekali dalam hidup untuk pergi berziarah ke tanah suci semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah Ta'ala.
Haji atau pun Umrah adalah perjalanan spiritual ke Bayt Allah di Mekkah, kota kudus dimana Allah memberikan banyak sekali kemuliaan kepada para jamaah yang beribadah disana.
Sungguh menjadi kebiasaan yang harusnya tidak kita lakukan sebagaimana pernah terjadi sebelumnya, melakukan selfie (memotret diri) di tempat dan suasana yang seharusnya dipenuhi do'a do'a.
Beberapa tahun yang lalu, para jamaah haji dilarang membawa telepon genggamnya bersama mereka kala menunaikan serangkaian ibadah suci ini. Tapi beberapa kali situasi darurat yang terjadi bahkan membawa korban yang menewaskan sebagian dari para jamaah telah memaksa pemimpin spiritual melonggarkan aturan tersebut.
Media lokal merekam beberapa kejadian aktivitas selfi yang dilakukan para jamaah dan surat kabar Arab News membahasnya dengan pemuka agama, beberapa dari mereka mengatakan bahwa jamaah harus segera menghentikan itu (selfie).
Mereka mengatakan bahwa peziarah mendokumentasikan setiap langkah mereka di sela rangkaian pelaksanaan ibadah. Melakukan selfie yang cenderung mengganggu niat dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan spiritual yang sejati.
Erwin E Ananto | jumrahonline | jumrah.com
Haji atau pun Umrah adalah perjalanan spiritual ke Bayt Allah di Mekkah, kota kudus dimana Allah memberikan banyak sekali kemuliaan kepada para jamaah yang beribadah disana.
Sungguh menjadi kebiasaan yang harusnya tidak kita lakukan sebagaimana pernah terjadi sebelumnya, melakukan selfie (memotret diri) di tempat dan suasana yang seharusnya dipenuhi do'a do'a.
Beberapa tahun yang lalu, para jamaah haji dilarang membawa telepon genggamnya bersama mereka kala menunaikan serangkaian ibadah suci ini. Tapi beberapa kali situasi darurat yang terjadi bahkan membawa korban yang menewaskan sebagian dari para jamaah telah memaksa pemimpin spiritual melonggarkan aturan tersebut.
Media lokal merekam beberapa kejadian aktivitas selfi yang dilakukan para jamaah dan surat kabar Arab News membahasnya dengan pemuka agama, beberapa dari mereka mengatakan bahwa jamaah harus segera menghentikan itu (selfie).
Mereka mengatakan bahwa peziarah mendokumentasikan setiap langkah mereka di sela rangkaian pelaksanaan ibadah. Melakukan selfie yang cenderung mengganggu niat dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan spiritual yang sejati.
Erwin E Ananto | jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
00.25.00
Benarkah jembatan Shirathal Mustaqim seperti rambut dibelah tujuh? Jembatan ini merupakan jembatan yang harus dilalui siapa pun tanpa terkecuali pada waktu hari kiamat tiba. Jembatan ini disebut-sebut sebagai penghubung antara neraka dan surga. Dan menurut cerita yang beredar, jembatan ini seperti rambut yang dibelah tujuh.
Adapun cerita ini berkembang karena penafsiran dari Surah Al Fatihah yang di dalamnya disebut kata "Shirathal Mustaqim". Beberapa ulama meyakini, arti "jalan yang lurus" adalah jembatan yang lurus dan panjang. Wallahualam. Dan tidak ada dalil yang shahih yang menyatakan bahwa Shirath seperti rambut yang dibelah tujuh.
Dalam riwayat ditemukan bahwa nama jembatan ini adalah jembatan Shirath yang terbentang diatas neraka menuju ke surga. Semua manusia akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka. Ada yang jatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat.
Dalam suatu riwayat mengatakan, bahwa adanya suatu jembatan diatas neraka Jahanam adalah hadist yang artinya berbunyi: "Maka dibuatlah As Shirath diatas Jahanam," Hadist Riwayat Al Bukhori dan Muslim
Diriwayatkan pula bahwa jembatan ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Seperti ucapan Abu Sa’id Al Hudri “Sampai kepada ku bahwa jembatan ini (As Shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang” hadist riwayat Imam Muslim.
Melewati jembatan As Shirath merupakan salah satu peristiwa dasyat yang akan dialami oleh manusia yang telah mengucapkan ikrar syahadat tauhid. Menyebrangi jembatan yang terbentang di dua punggun Neraka Jahanam ini tidak hanya dialami oleh umat Islam dari kalangan Nabi Muhammad SAW. Melainkan juga oleh umat beriman dari para Nabi sebelumnya, baik mereka yang imannya sejati, maupun mereka yang suka berbuat maksiat dan kaum munafik.
Menurut sebagian ahli tafsir, peristiwa menyebrangi jembatan diatas neraka, telah diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an.
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” (Qs Maryam/19: 71-72).
Lalu bagaimanakah bentuk jembatan Shirath yang nantinya akan kita lalui? Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW menggambarkan keadaan jembatan As Shirath. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Licin lagi menggelincirkan, diatasnya terdapat besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, Ia bagikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan. Dan dibentangkanlah jembatan Jahanam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para Rasul pada saat itu, “Ya Allah Selamatkan lah, selamatkanlah,”. Pada Shirath itu juga terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besar kecuali Allah. Maka Ia mengait manusia, sesuai dengan amalan mereka,” (HR. Al-Bukhari).
Jembatan Shirath tersebut amat licin, sehingga sangat mengkuatirkan bagi siapa saja yang melewatinya. Dimana kita mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh. Shirath tersebut juga mampu menggelincirikan orang-orang yang berjalan diatasnya. Para ulama telah menerangkan bahwa maksud dari kata menggelincirkan, yaitu jembatan tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
Shirath tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri dan dibagian ujungnya bengkok. Ini menunjukan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkramannya. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak dan tersambar oleh pengait besi atau tidak semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing.
Shirat ini terbentang di neraka Jahanam sehingga barang siapa yang terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait maka Ia akan jatuh ke dalam Neraka Jahanam. Shirath tersebut sangat halus sehingga akan sulit melewatkan kaki di atasnya. Shirath juga sangat tajam sehingga bisa membelah orang yang melewatinya.
Sekalipun Shirath ini halus dan tajam manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah SWT maha kuasa untuk menjadikan manusia mempu berjalan diatas apapun. Kesulitan untuk melewati Shirath karena kehalusannya atau terluka karena ketajamannya, semua itu tergantung pada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.
Setelah kita mengetahui bagaimana bentuk Shirath dalam hadist-hadist shahih, kita akan mengetahui pula bagaimana keadaan manusia saat melewati Shirat tersebut. Rasulullah SAW bersabda dalam (Shahih, HR. Muslim) artinya:
"Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat." Aku bertanya: "Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?" Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : "Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang."
Akan ada manusia yang menyebrangi jembatan dengan selamat dan ada pula yang terluka karena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyebranginya hingga ujung, mereka terpeleset, tergelincir hingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke nereka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Lalu bagaimana seseorang menyebranginya dengan selamat?
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung, para Nabi dan malaikat sibuk mendoakan bagi orang-orang berimana. Mereka berdoa yang artinya, “Ya Rabbi selamatkanlah, Ya Rabbi selamatkanlah”. Selanjutnya Allah akan meberikan cahaya bagi orang yang beriman dan bertaqwa. Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an yang artinya artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman yang bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS.At-Tahrim:8)
Dan pada saat itulah, setiap orang tidak akan ingat pada orang lainnya, betapa sulitnya bagi kita untuk menyeberang di atasnya. Tetapi Allah maha perkasa sekaligus maha bijaksana, Allah akan memberikan bekal bagi orang-orang beriman dan bertaqwa untuk sangggup melintas di jembatan tersebut.
Sungguh pemandangan yang pastinya sangat mendebarkan. Pantaslah jika Rasulullah menyatakan, bahwa jika saat menyeberangi jembatan di atas neraka Jahanam ini sedang berlangsung, seseorang tidak akan ingat orang lainnya sebab setiap orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.
jumrahonline
Adapun cerita ini berkembang karena penafsiran dari Surah Al Fatihah yang di dalamnya disebut kata "Shirathal Mustaqim". Beberapa ulama meyakini, arti "jalan yang lurus" adalah jembatan yang lurus dan panjang. Wallahualam. Dan tidak ada dalil yang shahih yang menyatakan bahwa Shirath seperti rambut yang dibelah tujuh.
Dalam riwayat ditemukan bahwa nama jembatan ini adalah jembatan Shirath yang terbentang diatas neraka menuju ke surga. Semua manusia akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka. Ada yang jatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat.
Dalam suatu riwayat mengatakan, bahwa adanya suatu jembatan diatas neraka Jahanam adalah hadist yang artinya berbunyi: "Maka dibuatlah As Shirath diatas Jahanam," Hadist Riwayat Al Bukhori dan Muslim
Diriwayatkan pula bahwa jembatan ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Seperti ucapan Abu Sa’id Al Hudri “Sampai kepada ku bahwa jembatan ini (As Shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang” hadist riwayat Imam Muslim.
Melewati jembatan As Shirath merupakan salah satu peristiwa dasyat yang akan dialami oleh manusia yang telah mengucapkan ikrar syahadat tauhid. Menyebrangi jembatan yang terbentang di dua punggun Neraka Jahanam ini tidak hanya dialami oleh umat Islam dari kalangan Nabi Muhammad SAW. Melainkan juga oleh umat beriman dari para Nabi sebelumnya, baik mereka yang imannya sejati, maupun mereka yang suka berbuat maksiat dan kaum munafik.
Menurut sebagian ahli tafsir, peristiwa menyebrangi jembatan diatas neraka, telah diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an.
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” (Qs Maryam/19: 71-72).
Lalu bagaimanakah bentuk jembatan Shirath yang nantinya akan kita lalui? Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW menggambarkan keadaan jembatan As Shirath. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Licin lagi menggelincirkan, diatasnya terdapat besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, Ia bagikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan. Dan dibentangkanlah jembatan Jahanam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para Rasul pada saat itu, “Ya Allah Selamatkan lah, selamatkanlah,”. Pada Shirath itu juga terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besar kecuali Allah. Maka Ia mengait manusia, sesuai dengan amalan mereka,” (HR. Al-Bukhari).
Jembatan Shirath tersebut amat licin, sehingga sangat mengkuatirkan bagi siapa saja yang melewatinya. Dimana kita mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh. Shirath tersebut juga mampu menggelincirikan orang-orang yang berjalan diatasnya. Para ulama telah menerangkan bahwa maksud dari kata menggelincirkan, yaitu jembatan tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
Shirath tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri dan dibagian ujungnya bengkok. Ini menunjukan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkramannya. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak dan tersambar oleh pengait besi atau tidak semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing.
Shirat ini terbentang di neraka Jahanam sehingga barang siapa yang terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait maka Ia akan jatuh ke dalam Neraka Jahanam. Shirath tersebut sangat halus sehingga akan sulit melewatkan kaki di atasnya. Shirath juga sangat tajam sehingga bisa membelah orang yang melewatinya.
Sekalipun Shirath ini halus dan tajam manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah SWT maha kuasa untuk menjadikan manusia mempu berjalan diatas apapun. Kesulitan untuk melewati Shirath karena kehalusannya atau terluka karena ketajamannya, semua itu tergantung pada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.
Setelah kita mengetahui bagaimana bentuk Shirath dalam hadist-hadist shahih, kita akan mengetahui pula bagaimana keadaan manusia saat melewati Shirat tersebut. Rasulullah SAW bersabda dalam (Shahih, HR. Muslim) artinya:
"Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat." Aku bertanya: "Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?" Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : "Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang."
Akan ada manusia yang menyebrangi jembatan dengan selamat dan ada pula yang terluka karena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyebranginya hingga ujung, mereka terpeleset, tergelincir hingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke nereka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Lalu bagaimana seseorang menyebranginya dengan selamat?
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung, para Nabi dan malaikat sibuk mendoakan bagi orang-orang berimana. Mereka berdoa yang artinya, “Ya Rabbi selamatkanlah, Ya Rabbi selamatkanlah”. Selanjutnya Allah akan meberikan cahaya bagi orang yang beriman dan bertaqwa. Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an yang artinya artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman yang bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS.At-Tahrim:8)
Dan pada saat itulah, setiap orang tidak akan ingat pada orang lainnya, betapa sulitnya bagi kita untuk menyeberang di atasnya. Tetapi Allah maha perkasa sekaligus maha bijaksana, Allah akan memberikan bekal bagi orang-orang beriman dan bertaqwa untuk sangggup melintas di jembatan tersebut.
Sungguh pemandangan yang pastinya sangat mendebarkan. Pantaslah jika Rasulullah menyatakan, bahwa jika saat menyeberangi jembatan di atas neraka Jahanam ini sedang berlangsung, seseorang tidak akan ingat orang lainnya sebab setiap orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.
jumrahonline
by Unknown
03.20.00
PERBANYAKLAH ISTIGHFAR. Manusia ternyata selalu mendapatkan pengawasan dari malaikat-malaikat utusan Allah. Hal ini bukan isapan jempol belaka, melainkan tertulis di dalam Al-Qur’an dan hadist. Diterangkan bahwa satu malaikat berada disisi kanan manusia untuk mencatat amal baik, sedangkan disisi kiri bertugas untuk mencatat hal-hal buruk yang dilakukan manusia.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ada lima malaikat yang bergantian menemani manusia siang dan malam. Dua diantaranya menjaga pada malam hari, dua lagi bergantian menjaga pada siang hari, dan satu malaikat tidak pernah berpisah dengan manusia.
Malaikat akan berada di sisi kanan dan kiri jika manusia duduk. Ketika manusia berjalan, satu malaikat akan berada di depannya, dan malaikat yang lain berada di sisi belakang manusia. Dan ketika manusia tidur, kedua malaikat akan berada di dekatnya kepalanya.
Hal ini dijelaskan dalam surat Qaaf 16 – 18 yang artinya,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 16 – 18)”
Rasulullah bersabda, malaikat sebelah kanan bisa lebih dapat dipercaya dibanding malakat pencatat keburukan di sebelah kiri. Hadits tersebut sebagaimana dikatakan oleh Imam al Munaawi dalam syarah Jami’ushshaghier, Faidhul Qadir 2/579 mengutip Majma’ Az Zawa`id yang artinya,
"Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kananya berkata kepadanya, “Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan."
"Para malaikat datang berganti-ganti kepada kalian pada waktu malam dan siang hari. Mereka berkumpul saat shalat subuh dan Ashar. Kemudian yang menjaga kalian di waktu malam naik."
Kemudian Allah Yang Maha Mengetahui urusan mereka, bertanya kepada malaikat-malaikat tersebut, "Bagaimanakah keadaan hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? mereka menjawab, "Kami tinggalkan mereka ketika mereka sedang shalat dan kami datang juga ketika mereka sedang shalat."
(HR.Muslim)
Malaikat ini menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya. Dan saat manusia sudah masuk ke liang lahat, kedua malaikat berkata:
“Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit.”
Maka Allah SWT berfirman,
“Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya.”
Artinya malaikat-malaikat ini akan menemani manusia hingga hari pembalasan kelak. Itulah sebabnya manusia harus punya adab yang baik dalam menjalankan keseharian agar malaikat ini mau selalu dekat dengannya.
Beberapa hal yang membuat malaikat penjaga menjauhi kita adalah rumah yang ada anjing, gambar, patung & lonceng, Malaikat tidak suka orang yang bakhil/pelit. Malaikat mencela orang yang suka mencela, malaikat menjauhi orang yang telanjang dan masih banyak hal-hal buruk lainnya.
pirasi.com
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ada lima malaikat yang bergantian menemani manusia siang dan malam. Dua diantaranya menjaga pada malam hari, dua lagi bergantian menjaga pada siang hari, dan satu malaikat tidak pernah berpisah dengan manusia.
Malaikat akan berada di sisi kanan dan kiri jika manusia duduk. Ketika manusia berjalan, satu malaikat akan berada di depannya, dan malaikat yang lain berada di sisi belakang manusia. Dan ketika manusia tidur, kedua malaikat akan berada di dekatnya kepalanya.
Hal ini dijelaskan dalam surat Qaaf 16 – 18 yang artinya,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 16 – 18)”
Rasulullah bersabda, malaikat sebelah kanan bisa lebih dapat dipercaya dibanding malakat pencatat keburukan di sebelah kiri. Hadits tersebut sebagaimana dikatakan oleh Imam al Munaawi dalam syarah Jami’ushshaghier, Faidhul Qadir 2/579 mengutip Majma’ Az Zawa`id yang artinya,
"Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kananya berkata kepadanya, “Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan."
"Para malaikat datang berganti-ganti kepada kalian pada waktu malam dan siang hari. Mereka berkumpul saat shalat subuh dan Ashar. Kemudian yang menjaga kalian di waktu malam naik."
Kemudian Allah Yang Maha Mengetahui urusan mereka, bertanya kepada malaikat-malaikat tersebut, "Bagaimanakah keadaan hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? mereka menjawab, "Kami tinggalkan mereka ketika mereka sedang shalat dan kami datang juga ketika mereka sedang shalat."
(HR.Muslim)
Malaikat ini menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya. Dan saat manusia sudah masuk ke liang lahat, kedua malaikat berkata:
“Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit.”
Maka Allah SWT berfirman,
“Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya.”
Artinya malaikat-malaikat ini akan menemani manusia hingga hari pembalasan kelak. Itulah sebabnya manusia harus punya adab yang baik dalam menjalankan keseharian agar malaikat ini mau selalu dekat dengannya.
Beberapa hal yang membuat malaikat penjaga menjauhi kita adalah rumah yang ada anjing, gambar, patung & lonceng, Malaikat tidak suka orang yang bakhil/pelit. Malaikat mencela orang yang suka mencela, malaikat menjauhi orang yang telanjang dan masih banyak hal-hal buruk lainnya.
pirasi.com
by Unknown
22.13.00
Banyak analisa yang berkembang pasca insiden Mina yang hingga kini telah memakan korban jiwa lebih dari 500 orang. Lalu mengapa terjadi musibah yang amat memilukan ini? Ada beberapa benang merah yang coba saya himpun, ini baru analisa pribadi.
Setelah kejadian tersebut yang lantang memojokkan Saudi adalah Iran, resmi dari para pemimpinnya, jangan tanya dengan para pengikutnya, termasuk di Indonesia
Sebenarnya wajar sekali Saudi dikritik, tapi nada mereka sangat terkesan unsur ‘syamatah’…. bahasa kita adalah ‘rasain lu’... ‘makan tuh’
Yang rame juga kaum liberalis, mereka dapat amunisi besar untuk pojokkan Saudi. Mereka lupa, konser musik yang cuma puluhan ribu sering terjadi insiden.
Sangat besar kemungkinan, insiden ini by design (telah dirancang), ada yang siap membuat masalah, dan sudah disiapkan pula statement politiknya
Membaca beberapa berita yang masuk dan info dari kawan-kawan, besar kemungkinan, kaum syiah bermain.
Jamaah haji Iran termasuk jamaah haji terbesar jumlahnya, bahkan mungkin yang pertama atau kedua setelah Indonesia
Laporan media: Insiden terjadi berbarengan mengalirnya gelombang jamaah haji asal Iran dalam jumlah sangat besar (http://sabq.org/aWHgde)
Ada saksi mata yang laporkan, jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, seharusnya melalui jalur lain. Tentu saja arus mereka berlawanan dan bentrok dengan arus jamaah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah, terjadilah insiden tersabut.
Beberapa data menguatkn hal ini, lokasi kemah jamaah Iran berada di belakang TKP. Maka praktis TKP menjadi jalur pergi pulang jamaah Iran dan jamaah warga Arab serta warga Asia selatan.
Kemudian, dari data sementara korban yang saya dapatkan, jamaah haji Iran paling banyak jumlahnya
Kita tahu, kondisi politik Iran dan Saudi sedang panas-panasnya. Pasukan koalisi sedang bergerak rebut ibu kota Yaman yang dikuasai houthi dukungn Iran
Jelas ada kepentingan besar untuk jatuhkan Saudi di mata internasional. Merekayasa insiden haji adalah hal yang cukup efektif.
Secara idiologis, hari kesepuluh Zulhijjah memiliki arti tersendiri bagi kaum Syiah . Apa itu?
Kita tentu tahu catatan dalam sirah, tahun 8 H turun perintah haji, lalu tahun 9 H Rasulullah saw utus Abu Bakar dan para sahabatnya pergi haji
Rasulullah saw sendiri belum pergi haji pada tahun terssbut, beliau baru pergi haji tahun ke 10nya. Tahun ke-9 beliau sibuk terima delegsi dari berbagai suku.
Makanya tahun itu disebut Aamul wufuud, tahun datangnya berbagai delegasi dari berbagai suku Arab untuk bertanya tentang Islam.
Selain itu, Rasulullah saw tidak pergi haji pada tahun itu, karena masih ada orang musyrik yang pergi haji dan masih ada yg thawaf telanjang
Jangan heran, dalam masyarakat Arab Jahiliyah, juga dikenal ibadah haji, sisa-sisa peninggalan ajaran Nabi Ibrahim, tetapi dengan sejumlah penyimpangan. Di antaranya adalah kalau tawaf, mereka telanjang, katanya biar total ibadahnya.
Abu Bakar Rasulullah saw perintahkan bersama sejumlah sahabat, untuk umumkan dua perkara penting; Pertama, setelah tahun ini tidak boleh ada lagi orang musyrik yang pergi haji. Kedua; Tidak boleh lagi ada yg tawaf dalam keadaan telanjang.
Pada saat itu turunlah surat Al-Baroah, nama lain surat attaubah, yg isinya membatalkan semua perjanjian dg kaum musyrikin Arab ketika itu
Kesimpulannya, pada hari kesepuluh Zulhijjah, pada hari Nahr atau Idul Adha, Abu Bakar asshidiq umumkan di Mina keputusan Nabi terssbut.
Dengan demikian, sejak saat itu, riwayat kemusyrikan dan prakteknya tamat dari tanah suci Mekah. Lalu tahun depannya Nabi pergi haji.
Apa kaitannya pengumuman yang disampaikan Abu Bakar tadi dengan orang-orang Syiah? Mereka berpendapat yang berhak mengumumkan itu seharusnya Ali.
Versi mereka, ini sudah menyangkut masalah kenegaraan, dan Ali ra bagi syiah adalah pemilik sah kekhalifahan setelah Rasulullah saw. Kejadian ini bagi mereka memperpanjang bukti, Abu Bakar ‘merampas’ wewenang Ali.
Maka permusuhan mereka terhadap Abu Bakar menjadi-jadi, lalu moment 10 Dzulhijjah bagi jamaah haji syiah sering digunakan kesempatn muzoharoh, demonstrasi. Mereka menyebutnya sebagai muzoharoh baro’ah, demontrasi untuk berlepas diri dari kemusyrikan.
Tapi hakekatnya adalah pengagungan terhadap Ali dan Husain. Sedangkan baro’ahnya adalah kepada Abu Bakar, Umar dan kaum suni yg mereka sebut nawasib. Talbiahnya pun bukan Labbaika Allahumma labbaik, tapi labbaika yaa Husein.
Beberapa tahun lalu, rombongan mereka dalam jumlah besar di Mina, mengangkat panji-panji besar, persis demonstrasi.
Yel-yelnya ketika itu adalah ‘Al-Maut Li Amrika’ Mampuslah amerika. Saat itu Amerika masih jadi setan besar bagi Syiah.
Beberapa benang merah inilah yang mendasari kesimpulan bahwa sedikit atau banyak, ada faktor kesengajaan kaum syiah dalam insiden ini.
Hal ini tidak menutup mata kemungkinan adanya kelalaian dari pihak penyelenggara haji, Saudi. Tapi juga jangan menutup mata atas usaha keras mereka.
Masukan harus disampaikan secara utuh dan terpadu, bagus juga jika dibuatkan tim pencari faktanya di antara negara Islam.
Isunya insiden karena adanya rombongan Raja Salman atau pangeran, itu mustahil. Untuk apa Raja Salman blusukan ke sana saat-saat padat.
Kalau mereka mau melontar, ada ruangan bawah tanah jamarat, khusus untuk pejabat dan tamu-tamu khusus.
Ini bukan analisa karena kebencian, atau mencari-cari alasan. Jujur saja, insiden ini sangat tidak normal.
dakwatuna.com
Setelah kejadian tersebut yang lantang memojokkan Saudi adalah Iran, resmi dari para pemimpinnya, jangan tanya dengan para pengikutnya, termasuk di Indonesia
Sebenarnya wajar sekali Saudi dikritik, tapi nada mereka sangat terkesan unsur ‘syamatah’…. bahasa kita adalah ‘rasain lu’... ‘makan tuh’
Yang rame juga kaum liberalis, mereka dapat amunisi besar untuk pojokkan Saudi. Mereka lupa, konser musik yang cuma puluhan ribu sering terjadi insiden.
Sangat besar kemungkinan, insiden ini by design (telah dirancang), ada yang siap membuat masalah, dan sudah disiapkan pula statement politiknya
Membaca beberapa berita yang masuk dan info dari kawan-kawan, besar kemungkinan, kaum syiah bermain.
Jamaah haji Iran termasuk jamaah haji terbesar jumlahnya, bahkan mungkin yang pertama atau kedua setelah Indonesia
Laporan media: Insiden terjadi berbarengan mengalirnya gelombang jamaah haji asal Iran dalam jumlah sangat besar (http://sabq.org/aWHgde)
Ada saksi mata yang laporkan, jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, seharusnya melalui jalur lain. Tentu saja arus mereka berlawanan dan bentrok dengan arus jamaah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah, terjadilah insiden tersabut.
Beberapa data menguatkn hal ini, lokasi kemah jamaah Iran berada di belakang TKP. Maka praktis TKP menjadi jalur pergi pulang jamaah Iran dan jamaah warga Arab serta warga Asia selatan.
Kemudian, dari data sementara korban yang saya dapatkan, jamaah haji Iran paling banyak jumlahnya
Kita tahu, kondisi politik Iran dan Saudi sedang panas-panasnya. Pasukan koalisi sedang bergerak rebut ibu kota Yaman yang dikuasai houthi dukungn Iran
Jelas ada kepentingan besar untuk jatuhkan Saudi di mata internasional. Merekayasa insiden haji adalah hal yang cukup efektif.
Secara idiologis, hari kesepuluh Zulhijjah memiliki arti tersendiri bagi kaum Syiah . Apa itu?
Kita tentu tahu catatan dalam sirah, tahun 8 H turun perintah haji, lalu tahun 9 H Rasulullah saw utus Abu Bakar dan para sahabatnya pergi haji
Rasulullah saw sendiri belum pergi haji pada tahun terssbut, beliau baru pergi haji tahun ke 10nya. Tahun ke-9 beliau sibuk terima delegsi dari berbagai suku.
Makanya tahun itu disebut Aamul wufuud, tahun datangnya berbagai delegasi dari berbagai suku Arab untuk bertanya tentang Islam.
Selain itu, Rasulullah saw tidak pergi haji pada tahun itu, karena masih ada orang musyrik yang pergi haji dan masih ada yg thawaf telanjang
Jangan heran, dalam masyarakat Arab Jahiliyah, juga dikenal ibadah haji, sisa-sisa peninggalan ajaran Nabi Ibrahim, tetapi dengan sejumlah penyimpangan. Di antaranya adalah kalau tawaf, mereka telanjang, katanya biar total ibadahnya.
Abu Bakar Rasulullah saw perintahkan bersama sejumlah sahabat, untuk umumkan dua perkara penting; Pertama, setelah tahun ini tidak boleh ada lagi orang musyrik yang pergi haji. Kedua; Tidak boleh lagi ada yg tawaf dalam keadaan telanjang.
Pada saat itu turunlah surat Al-Baroah, nama lain surat attaubah, yg isinya membatalkan semua perjanjian dg kaum musyrikin Arab ketika itu
Kesimpulannya, pada hari kesepuluh Zulhijjah, pada hari Nahr atau Idul Adha, Abu Bakar asshidiq umumkan di Mina keputusan Nabi terssbut.
Dengan demikian, sejak saat itu, riwayat kemusyrikan dan prakteknya tamat dari tanah suci Mekah. Lalu tahun depannya Nabi pergi haji.
Apa kaitannya pengumuman yang disampaikan Abu Bakar tadi dengan orang-orang Syiah? Mereka berpendapat yang berhak mengumumkan itu seharusnya Ali.
Versi mereka, ini sudah menyangkut masalah kenegaraan, dan Ali ra bagi syiah adalah pemilik sah kekhalifahan setelah Rasulullah saw. Kejadian ini bagi mereka memperpanjang bukti, Abu Bakar ‘merampas’ wewenang Ali.
Maka permusuhan mereka terhadap Abu Bakar menjadi-jadi, lalu moment 10 Dzulhijjah bagi jamaah haji syiah sering digunakan kesempatn muzoharoh, demonstrasi. Mereka menyebutnya sebagai muzoharoh baro’ah, demontrasi untuk berlepas diri dari kemusyrikan.
Tapi hakekatnya adalah pengagungan terhadap Ali dan Husain. Sedangkan baro’ahnya adalah kepada Abu Bakar, Umar dan kaum suni yg mereka sebut nawasib. Talbiahnya pun bukan Labbaika Allahumma labbaik, tapi labbaika yaa Husein.
Beberapa tahun lalu, rombongan mereka dalam jumlah besar di Mina, mengangkat panji-panji besar, persis demonstrasi.
Yel-yelnya ketika itu adalah ‘Al-Maut Li Amrika’ Mampuslah amerika. Saat itu Amerika masih jadi setan besar bagi Syiah.
Beberapa benang merah inilah yang mendasari kesimpulan bahwa sedikit atau banyak, ada faktor kesengajaan kaum syiah dalam insiden ini.
Hal ini tidak menutup mata kemungkinan adanya kelalaian dari pihak penyelenggara haji, Saudi. Tapi juga jangan menutup mata atas usaha keras mereka.
Masukan harus disampaikan secara utuh dan terpadu, bagus juga jika dibuatkan tim pencari faktanya di antara negara Islam.
Isunya insiden karena adanya rombongan Raja Salman atau pangeran, itu mustahil. Untuk apa Raja Salman blusukan ke sana saat-saat padat.
Kalau mereka mau melontar, ada ruangan bawah tanah jamarat, khusus untuk pejabat dan tamu-tamu khusus.
Ini bukan analisa karena kebencian, atau mencari-cari alasan. Jujur saja, insiden ini sangat tidak normal.
dakwatuna.com
by Unknown
12.50.00
Beberapa situs paling suci bagi umat Islam, Mekkah, di Arab Saudi terancam punah. Pemerintah Kerajaan di Riyadh setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan. Akibatnya, beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad saw dinyatakan hilang.
The Independent baru-baru ini mengatakan upaya penyulapan kawasan Masjidil Haram menjadi kawasan elitis telah berlangsung sejak sepekan lalu.
Sebuah dokumentasi yang dilansir beberapa media internasional menunjukkan aktivitas pengerukan tanah di sebalah timur Ka'bah. Jejeran eskavator melubangi lahan dan membumihanguskan beberapa situs-situs bersejarah umat Islam.
.
Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra' Mi'raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah.
Di tempat-tempat tersebut, dikatakan menyimpan segudang peninggalan kejayaan Islam berupa dokumentasi kaligrafi (seni menulis ayat-ayat suci Al-quran) tertua di dunia. Tempat-tempat yang babak belur itu juga mengandung sejarah bagi masa Khulafaur Rasyidin (632 - 661 M).
Press Television mengatakan, Kerajaan Saudi mengklaim penghancuran situs-situs tersebut adalah bagian dari rencana pembangunan multi-miliar dolar. Pembangunan dikatakan untuk peningkatan kapasitas peziarah yang singgah ke Masjidil Haram.
Raja Saudi Abdullah juga menunjuk ulama Wahabi dan Imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais sebagai penanggungjawab pembangunan kali ini. Tercatat dalam kesepakatan, konsorsium bernama Binladin Group adalah sebagai pemenang tender pembangunan tersebut.
Binladin Group adalah salah satu anggota utama dalam lingkaran ekonomi terbesar di Arab Saudi. Konsorsium itu dikatakan menjadi pintu lebar bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Tanah Arab.
Binladen Group juga menjadi kontraktor utama perluasan kompleks Masjid Nabawi di Madinah pada 2012 lalu. Pemerintah Kerajaan Saudi memang gemar meremajakan kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah.
Saban tahunnya, miliaran dolar digelontorkan untuk ekspansi dan perluasan. Kerajaan berdalih ekspansi tersebut adalah untuk peningkatan layanan dan daya tampung peziarah.
Memang, saban tahunnya jutaan umat muslim melangsungkan ritual keagamaan wajib di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah.
Tahun lalu, pembangunan dan perluasan di Masjid Nabawi, sempat mendapat kecaman luas dari kelompok muslim dunia. Sebab konsorsium ini menyulap rumah Rasul Muhammad di kompleks masjid sebagai toilet umum.
Makam manusia tersuci bagi Umat Islam itu juga pernah terancam akan dibongkar untuk tujuan serupa. Bagi keluarga kerajaan dan Wahabi, situs-situs relijius tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.
Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai objek penghancuran.
Kata dia, penghancuran tiga situs penting Umat Islam kali ini adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Muslim.
Kritikus sejarah peradaban islam lainnya mengatakan, penghancuran situs-situs Islam adalah penghinaan. Press Television menggolongkan aktivitas penghancuran tersebut sebagai bagian dari agenda terselubung untuk menghilangkan rekam sejarah agama samawi terbesar ini.
republika.co.id - Minggu, 17 Maret 2013
The Independent baru-baru ini mengatakan upaya penyulapan kawasan Masjidil Haram menjadi kawasan elitis telah berlangsung sejak sepekan lalu.
Sebuah dokumentasi yang dilansir beberapa media internasional menunjukkan aktivitas pengerukan tanah di sebalah timur Ka'bah. Jejeran eskavator melubangi lahan dan membumihanguskan beberapa situs-situs bersejarah umat Islam.
.
Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra' Mi'raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah.
Di tempat-tempat tersebut, dikatakan menyimpan segudang peninggalan kejayaan Islam berupa dokumentasi kaligrafi (seni menulis ayat-ayat suci Al-quran) tertua di dunia. Tempat-tempat yang babak belur itu juga mengandung sejarah bagi masa Khulafaur Rasyidin (632 - 661 M).
Press Television mengatakan, Kerajaan Saudi mengklaim penghancuran situs-situs tersebut adalah bagian dari rencana pembangunan multi-miliar dolar. Pembangunan dikatakan untuk peningkatan kapasitas peziarah yang singgah ke Masjidil Haram.
Raja Saudi Abdullah juga menunjuk ulama Wahabi dan Imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais sebagai penanggungjawab pembangunan kali ini. Tercatat dalam kesepakatan, konsorsium bernama Binladin Group adalah sebagai pemenang tender pembangunan tersebut.
Binladin Group adalah salah satu anggota utama dalam lingkaran ekonomi terbesar di Arab Saudi. Konsorsium itu dikatakan menjadi pintu lebar bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Tanah Arab.
Binladen Group juga menjadi kontraktor utama perluasan kompleks Masjid Nabawi di Madinah pada 2012 lalu. Pemerintah Kerajaan Saudi memang gemar meremajakan kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah.
Saban tahunnya, miliaran dolar digelontorkan untuk ekspansi dan perluasan. Kerajaan berdalih ekspansi tersebut adalah untuk peningkatan layanan dan daya tampung peziarah.
Memang, saban tahunnya jutaan umat muslim melangsungkan ritual keagamaan wajib di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah.
Tahun lalu, pembangunan dan perluasan di Masjid Nabawi, sempat mendapat kecaman luas dari kelompok muslim dunia. Sebab konsorsium ini menyulap rumah Rasul Muhammad di kompleks masjid sebagai toilet umum.
Makam manusia tersuci bagi Umat Islam itu juga pernah terancam akan dibongkar untuk tujuan serupa. Bagi keluarga kerajaan dan Wahabi, situs-situs relijius tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.
Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai objek penghancuran.
Kata dia, penghancuran tiga situs penting Umat Islam kali ini adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Muslim.
Kritikus sejarah peradaban islam lainnya mengatakan, penghancuran situs-situs Islam adalah penghinaan. Press Television menggolongkan aktivitas penghancuran tersebut sebagai bagian dari agenda terselubung untuk menghilangkan rekam sejarah agama samawi terbesar ini.
republika.co.id - Minggu, 17 Maret 2013
by Unknown
12.04.00
Tampaknya pelaksanaan haji tahun ini sangat menyedihkan, musibah besar terjadi berulang kali, sangat layak di evaluasi. Setelah jatuhnya crane raksasa di Masjidil Haram, terbakarnya hotel jamaah haji Indonesia, hari ini terjadi musibah Mina.
Belum ada info detail tragedi Mina saat ini, tapi tanggal 10 dan 12 Dzulhijjah memang saat yang krusial bagi jamaah haji. Sering terjadi musibah. Mengapa tanggal 10 dan 12 sangat krusial bagi jamaah haji? Ini terkait dengan pengaturan, mentalitas serta pemahaman jamaah haji itu sendiri.
Pada hari ke 10 Dzulhijjah, ada 4 manasik penting dalam haji, melontar jumrah aqabah, menyembelih dam, menggundul dan tawaf sai. Nah yang krusial adalah masalah melontar. Ketentuannya dilakukan setelah subuh, sunah pada waktu Dhuha. Tapi bisa dilakukan sore atau malam.
Masalahnya, saat itu kondisi fisik jamaah sudah melemah setelah perjalanan melelahkan sejak tanggal 8 dari Mina ke Arafah, lalu dari Arafah ke Muzdalifah. Semua dilakukan di tengah lautan manusia, lebih dari 2 juta, udara sangat panas dan dalam titik tertentu, sangat padat dan berdesak-desakan.
Yang sering terjadi, sebagian dari jamaah haji, dan itu jumlahnya bisa ratusan ribu, bahkan lebih dari 1 juta, memaksakan jalan dari Muzdalifah ke Mina. Biasanya yang seperti ini dari bangsa Afrika dan dataran India, serta mereka yang tidak memiliki tenda resmi. Perkiraan saya, korban dari jamaah RI sedikit.
Meskipun tidak tertutup kemungkinan ada juga jamaah RI yang jadi korban, tapi sekali lagi insya Allah sedikit dibanding jamaah dari negara lain.
Ada 2 tipe jamaah haji yang pagi-pagi berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Tipe Pertama mereka yang ingin laksanakan sunah haji secara strik, kurang fleksibel. Sunnahnya memang melontar pada hari ke 10 ini pada waktu Dhuha. Nah, banyak yang kejar sunah ini. Biasanya mereka dari daratan Afrika dan India.
Tipe Kedua mereka yang tidak punya tenda resmi di Mina, biasa disebut haji koboi. Tidak ada pilihan, mereka jalan langsung ke Mina, kadang bawa tas besar. Adapun yang punya tenda, biasanya dari Muzdalifah, dapat singgah dulu sambil lihat-lihat suasana, setidaknya mereka bisa istirahat dan kumpulkan stamina.
Nah, kedua tipe ini yang cukup dominan adalah orang-orang dari dataran Afrika dan India; Pakistan, India dan Bangladesh, (afwan bukan bermaksud rasial). Ada juga dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia.
Adapun jamaah haji yang resmi, umumnya mereka akan diangkut oleh bis khusus atau kereta ke tenda-tenda mereka terlebih dahulu.
Kembali ke pejalan kaki ini, yang khas juga dari sebagian mereka, adalah fisiknya tinggi besar, cenderung temperamental dan egonya lumayan. Masalahnya lagi, jalan dari Muzdalifah yang asalnya lebar dan banyak, mendekati Mina menjadi menyempit, semacam bottle neck.
Menyempit di sini bukan berarti benar-benar sempit. Jalannya sudah lebar, tapi untuk menampung jumlah jamaah yang besar, jadi terasa sempit. Nah, di sinilah yang sangat krusial. Jumlah ratusan ribu tiba-tiba datang seperti air bah, jalan menyempit, lalu terjadilah desak-desakan, ada yang panik, dll.
Temperamen keras dan tidak mau mengalah memperparah keadaan, ada kondisi fisik melemah, haus… akhirnya terjadi kepanikan, korban pun jatuh. Kadang kejadiannya sulit diperkirakan. Jamaah bisa begitu saja datang dalam jumlah besar, sedangkan di waktu lain, normal-normal saja.
Jadi, musibah kali ini bukan di jamarat, tapi di jalan menuju jamarat. Ini yang mungkin kurang di antisipasi dengan maksimal. Sebab yang fokus diperhatikan selama ini adalah jamarat. Karena sekian tahun yang sering terjadi musibah adalah di jamarat. Saat itu jamarat masih dua lantai. Tidak cukup menampung beban jamaah yang sangat besar, mudah terjadi desak-desakan, khususnya tanggal 10 dan 12 tersebut.
Namun sejak beberapa tahun lalu, masalah jamarat relatif teratasi dengan sangat baik setelah diperluas dan dibangun menjadi 5 lantai. Sehingga beberapa tahun terakhir ini, tidak kita dengar berita musibah dari jamarat. Info dari beberapa teman, tadipun jamarat normal.
Nah rupanya jalan menuju jamarat yang kini menjadi titik krusial. Sebenarnya banyak petugas yang mengarahkan atau mengatur. Cuma itulah, kadang ada sebagian jamaah haji yang sulit diatur. Beberapa tahun lalu, beberapa petugas meninggal karena membendung arus jamaah. Maksudnya untuk mengurangi kepadatan di jamarat. Namun apa daya, bendungannya tak kuat menahan arus jamaah yang menjebolnya, dan tumbanglah mereka.
Memang berat, kalau sudah berada di pusaran kepadatan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Minimal kita bertahan agar jangan jatuh. Kalau jatuh bahaya.
Jadi kesimpulannya, musibah ini terjadi di jalan menuju jamarat, karena desak-desakan dengan kondisi seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi akumulasi kepadatan luar biasa, keletihan, suhu sangat panas, penyempitan jalan, dan sebagian karena memaksakan dan tidak taat aturan.
Betapapun ini adalah musibah, kita terima dengan ridha, tapi masalah evaluasi harus dilakukan, jika terbukti ada kelalaian harus dijatuhi hukuman.
dakwatuna.com
Belum ada info detail tragedi Mina saat ini, tapi tanggal 10 dan 12 Dzulhijjah memang saat yang krusial bagi jamaah haji. Sering terjadi musibah. Mengapa tanggal 10 dan 12 sangat krusial bagi jamaah haji? Ini terkait dengan pengaturan, mentalitas serta pemahaman jamaah haji itu sendiri.
Pada hari ke 10 Dzulhijjah, ada 4 manasik penting dalam haji, melontar jumrah aqabah, menyembelih dam, menggundul dan tawaf sai. Nah yang krusial adalah masalah melontar. Ketentuannya dilakukan setelah subuh, sunah pada waktu Dhuha. Tapi bisa dilakukan sore atau malam.
Masalahnya, saat itu kondisi fisik jamaah sudah melemah setelah perjalanan melelahkan sejak tanggal 8 dari Mina ke Arafah, lalu dari Arafah ke Muzdalifah. Semua dilakukan di tengah lautan manusia, lebih dari 2 juta, udara sangat panas dan dalam titik tertentu, sangat padat dan berdesak-desakan.
Yang sering terjadi, sebagian dari jamaah haji, dan itu jumlahnya bisa ratusan ribu, bahkan lebih dari 1 juta, memaksakan jalan dari Muzdalifah ke Mina. Biasanya yang seperti ini dari bangsa Afrika dan dataran India, serta mereka yang tidak memiliki tenda resmi. Perkiraan saya, korban dari jamaah RI sedikit.
Meskipun tidak tertutup kemungkinan ada juga jamaah RI yang jadi korban, tapi sekali lagi insya Allah sedikit dibanding jamaah dari negara lain.
Ada 2 tipe jamaah haji yang pagi-pagi berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Tipe Pertama mereka yang ingin laksanakan sunah haji secara strik, kurang fleksibel. Sunnahnya memang melontar pada hari ke 10 ini pada waktu Dhuha. Nah, banyak yang kejar sunah ini. Biasanya mereka dari daratan Afrika dan India.
Tipe Kedua mereka yang tidak punya tenda resmi di Mina, biasa disebut haji koboi. Tidak ada pilihan, mereka jalan langsung ke Mina, kadang bawa tas besar. Adapun yang punya tenda, biasanya dari Muzdalifah, dapat singgah dulu sambil lihat-lihat suasana, setidaknya mereka bisa istirahat dan kumpulkan stamina.
Nah, kedua tipe ini yang cukup dominan adalah orang-orang dari dataran Afrika dan India; Pakistan, India dan Bangladesh, (afwan bukan bermaksud rasial). Ada juga dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia.
Adapun jamaah haji yang resmi, umumnya mereka akan diangkut oleh bis khusus atau kereta ke tenda-tenda mereka terlebih dahulu.
Kembali ke pejalan kaki ini, yang khas juga dari sebagian mereka, adalah fisiknya tinggi besar, cenderung temperamental dan egonya lumayan. Masalahnya lagi, jalan dari Muzdalifah yang asalnya lebar dan banyak, mendekati Mina menjadi menyempit, semacam bottle neck.
Menyempit di sini bukan berarti benar-benar sempit. Jalannya sudah lebar, tapi untuk menampung jumlah jamaah yang besar, jadi terasa sempit. Nah, di sinilah yang sangat krusial. Jumlah ratusan ribu tiba-tiba datang seperti air bah, jalan menyempit, lalu terjadilah desak-desakan, ada yang panik, dll.
Temperamen keras dan tidak mau mengalah memperparah keadaan, ada kondisi fisik melemah, haus… akhirnya terjadi kepanikan, korban pun jatuh. Kadang kejadiannya sulit diperkirakan. Jamaah bisa begitu saja datang dalam jumlah besar, sedangkan di waktu lain, normal-normal saja.
Jadi, musibah kali ini bukan di jamarat, tapi di jalan menuju jamarat. Ini yang mungkin kurang di antisipasi dengan maksimal. Sebab yang fokus diperhatikan selama ini adalah jamarat. Karena sekian tahun yang sering terjadi musibah adalah di jamarat. Saat itu jamarat masih dua lantai. Tidak cukup menampung beban jamaah yang sangat besar, mudah terjadi desak-desakan, khususnya tanggal 10 dan 12 tersebut.
Namun sejak beberapa tahun lalu, masalah jamarat relatif teratasi dengan sangat baik setelah diperluas dan dibangun menjadi 5 lantai. Sehingga beberapa tahun terakhir ini, tidak kita dengar berita musibah dari jamarat. Info dari beberapa teman, tadipun jamarat normal.
Nah rupanya jalan menuju jamarat yang kini menjadi titik krusial. Sebenarnya banyak petugas yang mengarahkan atau mengatur. Cuma itulah, kadang ada sebagian jamaah haji yang sulit diatur. Beberapa tahun lalu, beberapa petugas meninggal karena membendung arus jamaah. Maksudnya untuk mengurangi kepadatan di jamarat. Namun apa daya, bendungannya tak kuat menahan arus jamaah yang menjebolnya, dan tumbanglah mereka.
Memang berat, kalau sudah berada di pusaran kepadatan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Minimal kita bertahan agar jangan jatuh. Kalau jatuh bahaya.
Jadi kesimpulannya, musibah ini terjadi di jalan menuju jamarat, karena desak-desakan dengan kondisi seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi akumulasi kepadatan luar biasa, keletihan, suhu sangat panas, penyempitan jalan, dan sebagian karena memaksakan dan tidak taat aturan.
Betapapun ini adalah musibah, kita terima dengan ridha, tapi masalah evaluasi harus dilakukan, jika terbukti ada kelalaian harus dijatuhi hukuman.
dakwatuna.com
Langganan:
Postingan (Atom)



















