Top Ad 970x90

Crane Jatuh di Masjidil Haram, Setidaknya 107 Tewas Termasuk 1 WNI

by
Crane Jatuh di Masjidil Haram, Setidaknya 107 Tewas Termasuk 1 WNI
Menteri Agama Indonesia Lukman Saifudin melalui pesan singkat memastikan sedikitnya satu warga negara Indonesia tewas dalam insiden ambruknya crane di Masjidil Haram hari Jumat (11/9)

Pemerintah Arab Saudi menyatakan sedikitnya 107 orang tewas dan lebih dari 238 lainnya luka-luka ketika sebuah crane (derek) berukuran besar ambruk menimpa atap Masjidil Haram, Mekkah hari Jumat (11/9).

Menteri Agama Indonesia Lukman Saifudin melalui pesan singkat memastikan sedikitnya satu warga negara Indonesia tewas dalam insiden ini.


Gambar-gambar yang beredar di media sosial menunjukkan para jemah haji dengan jubah yang ternoda darah dan tumpukan puing-puing dari bagian yang ditimpa menara derek yang jatuh itu. Konstruksi sedang berlangsung untuk memperluas kompleks masjid ini.

Teknisi suara di Masjidil Haram, Mohammed Tahir, mengatakan kepada redaksi, cuaca adalah satu faktor dalam keruntuhan itu. “Hujan lebat sedang turun dengan angin kencang ketika satu menara derek utama menjadi tidak seimbang karena angin yang kuat itu. Sebagai akibatnya, menara derek tersebut, dengan lebar jangkauan kira-kira 300 hingga 400 meter, jatuh ke dalam Masjidil Haram."

Tahir mengatakan jemah haji di dalam masjid itu sedang melakukan ibadah umrah, yang mengharuskan mereka mengelilingi Kaabah di tengah masjid, tempat yang paling suci dalam Islam. “Jemaah yang sedang berada di sana banyak yang tewas dan cedera.”

Menteri Agama Indonesia Lukman Saifudin melalui pesan singkat memastikan sedikitnya satu warga negara Indonesia tewas dalam insiden ambruknya crane tersebut.

Konstruksi untuk memperluas area kompleks Masjidil Haram memang sedang berlangsung.

Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan para jemaah haji dengan darah di baju ihram mereka dan puing-puing dari crane yang ambruk.

Tragedi ini terjadi menjelang pelaksanaan ibadah tahunan haji yang akan dimulai pada akhir September ini. Jutaan warga Muslim dari berbagai penjuru dunia diperkirakan akan memenuhi kewajibannya untuk berhaji antara tanggal 21–26 September.

Media lokal setempat melaporkan insiden  terjadi di tengah hujan deras yang mengguyur negara kerajaan ini sejak pagi. Gubernur Mekkah Pangeran Khalid Al-Faisal telah memerintahkan dilakukannya penyelidikan untuk mengetahui penyebab ambruknya derek berukuran sangat besar itu.

Tahun lalu, kerajaan ini telah memerintahkan pengurangan jumlah jemaah yang dapat berangkat untuk haji karena alasan keamanan karena adanya konstruksi di Masjidil Haram ini.

Jumrah Online

Rayuan Iblis di Taman Surga Kala Bulan Madu Adam dan Hawa

by
Rayuan Iblis di Taman Surga Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
Kemudian Allah mengusap punggung Nabi Adam maka keluarlah anak cucunya seperti mutiara antara putih dan hitam, dari pria dan wanita dan Allah menuangkan cahayanya, siapa saja yang terkena cahaya tersebut maka ia akan menjadi orang mukmin dan bagi yang tidak terkena cahaya itu maka ia tergolong kafir. (Simak sebelumnya: Antara Iblis, Malaikat dan Manusia)

Sebagian lagi ada golongan yang mendapat cahaya yang mengkilat, lantas Adam bertanya: ″Wahai Tuhan, siapakah mereka itu?″

Allah menjawab: ″Mereka adalah para nabi dari anak cucumu, wahai Adam.″

.
Kemudian Allah Ta′ala menikahkan Adam dengan Hawa, dan itu bertepatan dengan hari Jum′at setelah tergelincirnya matahari. Oleh karena inilah disunnahkan menikah pada hari Jum′at.


Dikatakan bahwa Adam itu lebih bagus dari Hawa, akan tetapi hawa lebih lembut dan lunak hatinya. Kemudian Allah memberi wahyu kepada malaikat Ridwan AS, sang penjaga surga untuk membuatkan perkemahan dan merias para wildan/pelayan surga dan para bidadari.
(Simak juga: Sosok Azazil di Masa Pra Penciptaan Adam AS)
 
Dan mendatangkan kepada Adam seekor kuda, yang datangnya seperti kilat yang menyambar. Kuda itu yang terbuat dari misik. Maimun, nama kuda itu dan diberikan kepada Adam. Adam pun langsung menaikinya.

Untuk Hawa, telah disiapkan seekor unta pilihan dari surga yang atasnya dipasang tandu terbuat dari mutiara, lalu Hawa pun menaikinya.

Malaikat Jibril memegang kendali kuda, sedangkan malaikat Mikail berjalan mengiringnya di sebelah kanan. Malaikat Isrofil disebelah kiri, mereka berkeliling langit, mengucapkan salam kepada para malaikat yang mereka jumpai.
(Simak juga: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam)
 

Maka malaikat pun berkata, "Sungguh begitu mulia dirimu ini, mengalahkan ciptaan Allâh yang lainnya." Adam dan Hawa berkeliling menaiki unta dan akhirnya sampai di pintu surga. Mereka terdiam sebentar disitu.

Kemudian kepada Adam, Allah memberi wahyu, "Ini surga-Ku dan istana kemulyaan-Ku, masuklah kalian dan makanlah apa yang ada sesuka hati kalian dan janganlah mendekat pada pohon ini, jika kalian mendekat niscaya kalian tergolong orang-orang yang dzalim."

Malaikat-malaikat yang menjadi saksi atas pernikahan mereka kemudian menghantar mereka memasuki surga dan berkeliling menemani mereka di dalamnya serta melihat persediaan tempat-tempat bersemayamnya para nabi.

Bulan Madu Adam-Hawa, dan Penyusupan Iblis ke Surga

Ketika Adam dan Hawa telah sampai di surga, mereka melihat ranjang pelaminan yang terbuat dari mutiara dan dilengkapi dengan 700 kursi yang terbuat dari mutiara merah serta diatasnya terdapat selimut dari sutra.

Lalu malaikat berkata : "Wahai Adam dan Hawa, turunlah kalian disini."

Lalu mereka turun dan duduk diatas pelaminan, kemudian didatangkan kepada mereka dua 'dompol anggur', pada setiap dompol memiliki panjang kira-kira perjalanan satu hari satu malam. Dan mereka makan, minum serta berpesta ria ditaman surga.
(Simak juga : Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam)
 
Jika Adam ingin bersenggama bersama Hawa, maka mereka masuk di sebuah kubah yang terbuat dari mutiara dan batu zabarjad serta dipasanglah gordin-gordin sutra. Jika Hawa berjalan maka dibelakangnya diiringi bidadari yang tidak terhitung jumlahnya.

Ibnu Sina berkata:
″Buah-buahan surga yang pertama kali dimakan Adam adalah buah ″pidara.″

Ibnu Abbas berkata:
″Pertama kali yang mereka makan adalah ″anggur″ dan terakhir kali yang mereka makan adalah ″jagung gandum″ seperti keterangan yang akan datang.″

Mereka disana meminum arak surga, di saat meminumnya maka akan memperoleh kebahagiaan yang ekstra. Oleh karena itu barang siapa yang meminum arak dunia maka ia tidak bisa meminum arak surga.
(Simak juga : Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi)
 
Wahhab Bin Munabbih berkata:
"Petani jagung gandum akan mendapat kepayahan dan kerepotan selamanya pada masa mulai menanamnya, menuainya sampai menjadikannya tepung, karena itu adalah makanan yang pertama kali dimakan atas kemaksiatan."

Dan diceritakan sesungguhnya pertama kali yang dimakan orang-orang mukmin disurga adalah buah anggur. Annaisaburi berkata:
"Yang pertama kali dimakan adalah hatinya ikan yang 'menggendong' bumi sehingga penduduk surga mengetahui masa habisnya dunia."

Wahhab Bin Munabbih berkata:
″Ketika Adam berjalan-jalan, tanpa sengaja ia mendekati pohon jagung gandum, maka cepat-cepat ia lari menjauh karena terikat janji antara ia dan Allah agar tidak memakan buahnya.″

Pohon jagung gandum di surga itu memiliki beberapa tangkai, disetiap tangkai terdapat biji dan disetiap biji kira-kira sebesar kepala unta rasanya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu.
(Simak juga: Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi)

Setelah iblis mengetahui bahwa Adam dan Hawa sudah berada di dalam surga dan mengetahui jika Adam telah dilarang untuk memakan jagung gandum itu, maka ia menghampiri pintu surga dan berdiri disitu kira-kira selama tiga ratus tahun. Tahun dari tahun akhirat dan dia selalu melihat kesana kemari siapa tahu ada yang melewati pintu surga.

Wahhab Bin Munabbih berkata:
″Dan datanglah raja burung surga yaitu burung merak yang indah wujudnya dan ketika iblis melihatnya maka burung tadi dipanggil dan disuruh mendekat, lalu berkatalah iblis padanya; ″Wahai burung yang bagus, darimanakah kamu?″

Burung tadi menjawab, ″Dari pertamanan Adam.″

Iblis berkata, ″Saya membawa nasihat yang bagus dan saya ingin kamu memasukkanku kedalam surga bersamamu.″

Burung merak menjawab, ″Kenapa kamu tidak masuk sendiri?″

Iblis berkata, ″Saya ingin masuk secara rahasia′.

Burung tadi menjawab, ″Wah saya tidak sanggup tapi saya akan membawa teman yang bisa memasukkanmu dengan rahasia.″

Kemudian merak tadi mendatangi ular, yang mana didalam surga tidak ada mahluk yang lebih indah daripada ular, kepalanya terbuat dari yaqut merah, kedua matanya dari zabarjad hijau, lidahnya dari kapur dan kedua kakinya seperti kaki unta.

Mereka berkata padanya, ″Di pintu surga ada malaikat dari malaikat mukarromin yang membawa nasihat.″

Maka bergegaslah ular tadi menemuinya, kemudian iblis berkata, ″Apakah kamu bisa membawaku masuk ke dalam surga secara rahasia karena aku membawa sebuah nasihat.″

Ular pun menjawab, ″Bagaimana caranya mengelabui malaikat Ridwan?″

Iblis berkata, ″Bukalah mulutmu.″

Lalu ular membuka mulutnya,dan masuklah iblis tersebut dan berkata, ″Bawalah aku medekati pohon gandum.″

Lalu ular pun membawanya dan meletakkannya dipohon gandum tadi.


Rayuan Iblis Yang Menyesatkan

Kemudian Iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika Adam dan Hawa mendengarnya, mereka langsung mendatanginya untuk mendengarkan dan menikmatinya, disaat mereka sampai dipohon gandum maka kepada mereka, iblis berkata, ″Wahai Adam, mendekatlah pada pohon ini.″ Adam berkata, ″Sesungguhnya aku dicegah untuk mendekati pohon itu.″

Iblis berkata, ″Tuhan kamu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (didalam surga).″

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini, dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama Allah bahwa memakan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua.

Maka Adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama Allâh pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis itu memanglah malaikat pembawa nasihat.

Dari keinginan Hawa untuk bisa menjadi kekal di surga maka ia maju lebih dulu dan memakannya. Ketika Adam melihatnya makan dan selamat maka Adam pun ikut maju dan memakannya. Pada saat biji itu sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang melekat dikepalanya bersama perhiasan-perhiasan yang ada padanya.

Pertanyaan: ″Kenapa di kala Hawa memakan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan pakaian Adam terlepas seketika itu juga?″

Jawab: ″Andaikan pakaian Hawa juga terlepas seketika itu, maka Adam akan kembali dan tidak akan mau ikut memakannya, begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk Adam.″

Sebagian ulama′ berkata: ″Sesungguhnya Adam memakannya itu dalam keadaan lupa.″

Sebagaimana firman Allah : ″Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). (QS.Thoha:115)

Ketika Adam memakan biji dari gandum tersebut maka Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mencabut ubun-ubun Adam dan Hawa serta mengeluarkannya dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiat.

Wahhab Bin Munabbih berkata: ″Pada saat itu Adam dan Hawa dalam keadaan telanjang,mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka akan tetapi semua pohon-pohon itu kabur dan menjauh dari mereka. Akhirnya pohon ″Tin″ merasa iba dan menutupi mereka, lantas diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.″

Dikatakan pula bahwa yang menutupi mereka adalah pohon ′Garu′. Oleh karena itu, Allah memuliakannya dengan aroma yang harum dan Allah memuliakan pohon Tin dengan buah yang manis tanpa biji.

Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon ′Inai′. Oleh karena itu jadilah harum dan wangi serta dinamakan inai.

Ka′ab Al Ahbar berkata: Ketika Adam dalam keadaan telanjang, Allah berfirman kepadanya. ″Keluarlah kamu dari-KU, Aku akan menunggumu.″

Maka Adam berkata; ″Ya Tuhan, sungguh aku tak sanggup karena malu kepada-Mu.″

.
Diturunkannya Adam-Hawa Ke Bumi Secara Terpisah


Wahhab Bin Munabbih berkata: ″Kemudian Jibril menggandeng tangan Adam yang dalam keadaan telanjang dan terbuka kepalanya/tidak memakai tutup kepala dan menurunkan Adam ke bumi saat terbenamnya matahari, di hari Jum′at.″

Adam diturunkan di gunung dari salah satu gunung di kawasan Hindia yang bernama gunung ′rohun′. Sedangkan Hawa yang telah hilang cantiknya dan diberi cobaan dengan mengalami haid dan putusnya nasab.

Maka dikatakanlah anak cucu Adam bukan anak cucu Hawa karena dia membujuk Adam bersama iblis, dengan memakan biji gandum lebih dulu.

Dan Hawa diturunkan dipesisir kota Jeddah. Allah berfirman :

″Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan .″(QS.Al-Baqarah:36)

Sementara iblis yang dilaknat, dikeluarkan dari golongan malaikat dan menjadi syetan yang terkutuk.

Ketika dia keluar dari surga maka ia turun di bumi di kawasan Irak sekitar kota Basroh.

Ibnu Abbas RA berkata: ″Ketika iblis diturunkan ke bumi dia menikah dengan dirinya sendiri dan membuahkan empat telur yang terpisah. Disetiap sudut bumi diberi satu telur, jadi semua syetan yang ada dipenjuru bumi ini adalah dari telur-telur tersebut.″

Mujahid berkata: ″Iblis itu menikah dengan ular yang membawanya masuk ke surga ketika mereka diturunkan dibumi dan membuahkan empat telur″.

Adapun merak hilang mutiara dari tubuhnya dan hilang sebagian dari keindahannya. Ia pun juga diturunkan ke bumi tepatnya turun di sekitar Babiliun, dikatakan juga bahwa ia diturunkan di kota Antokiyyah (di daerah Syam/Syiria).

Adapun ular, Ia diturunkan di daerah Basibhan. Ia berubah bentuk tubuhnya dan lidahnya beracun. Karena ia menyembunyikan iblis diantara siungnya dan memasukkannya ke surga. Ular pun berubah menjadi bisu serta berjalan merayap dengan menggunakan perutnya.

Ibnu Abbas berkata: ″Adam dan Hawa tinggal di surga itu hanya setengah hari dari hari akhirat atau sekitar 500 tahun dunia. Ketika Adam diturunkan di bumi, maka Allâh memberikan rasa kantuk padanya″.

Adam pun menjadi tertidur, dan tidurlah semua yang ada di bumi dari hewan-hewan buas, burung-burung dan semua yang bernyawa. Sebelum ada kejadian ini mereka semua tidak pernah mengalami tidur, maka hari itu dinamakanlah dengan nama hari 'Sabtu' berarti tidur atau istirahat.
(Baca Selanjutnya: Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam)

Topik Terkait
1) Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
2) Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
3) Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam
4) Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
5) Rayuan Iblis Kala Bulan Madu Adam dan Hawa

6) Siapa Penghuni Bumi Sebelum Adam?
7) Awal Kehidupan Adam Sebagai Penghuni Bumi
8) Kehidupan Adam Dan Hawa di Bumi


jumrahonline | jumrah.com

Kompleksitas Pelaksanaan Ibadah Haji di Indonesia

by
Kompleksitas Pelaksanaan Ibadah Haji di Indonesia
Berbincang tentang Ibadah Haji selalu menjadi hal yang menarik. Sebagai negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, negeri ini pun memiliki jamaah haji terbesar jumlahnya. Tahun ini saja kita menerbangkan sebanyak lebih dari 150.000 orang jamaah ke Tanah Suci.

Itu pun karena jumlah kuotanya sudah dikurangi (dibatasi), lantaran di Mekkah sedang dilakukan renovasi. Setidaknya Indonesia mendapatkan jumlah sebanyak 200.000 jamaah, sesuai yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi bahwa setiap negara mendapatkan sebanyak 0,01 persen dari jumlah penduduknya.

Lalu apa tantangan bagi Indonesia dalam pelaksanaan haji di negeri ini? Perbincangan redaksi Jumrah dengan KH. Ma′ruf Amin, selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia, memberi gambaran maslaah dan solusi tentang pelaksanan haji di Indonesia. Berikut petikannya;

Pak Kiai, melihat masalah Haji di Indonesia yang muncul dari tahun ke tahun, bagaimana Anda memandangnya?


Pasti setiap tahun kita akan mengalami kendala-kendala. Ya, karena dengan jumlah sebanyak itu, pelaksanaan haji tentu menjadi event yang tidak sederhana dan sangat kompleks. Menurut saya, menghantarkan jamaah haji dalam jumlah besar sekitar 160.000 orang dari tanah air menuju ke Mekkah. Kemudian melayani mereka ketika tinggal Tanah Suci dan beraktivitas di sana dalam waktu cukup lama. Dan membawanya pulang kembali ke tanah air dengan selamat. Tentu bukan pekerjaan yang mudah.

Kalau setiap tahunnya kita menemui masalah, saya pikir sesuatu yang masih bisa dimaklumi. Namun, hal yang tidak bisa dibiarkan terjadi adalah jika satu masalah, tidak terulang lagi pada tahun berikutnya. Itu artinya, kita tidak punya solusi. Jadi kalau ada masalah, solusinya harus segera ditemukan.

Kendala apa yang berpotensi terjadi pada pelaksanaan haji di tahun ini?


Begini, saya melihatnya dalam pelaksanaan ibadah haji itu ada dua hal utama yang menjadi perhatian kita. Pertama, Aspek Ibadahnya, ini yang harus terus diperbaiki. Karena, inilah yang menjadi tujuan utama kita berada di sana, yaitu beribadah. Jika ibadahnya tidak benar maka hajinya juga tidak mabrur.

Ambil contoh, soal ihram. Apa saja hal-hal yang dilarang dan diperbolehkan. Apa saja hal-hal yang harus didahulukan. dan mana yang bisa dilakukan nanti. Dan yang perlu kita sadari, dalam pelaksanaan ibadah ini, tidak sedikit jamaah yang ternyata tidak terbina dengan baik, dengan berbagai alasan.

Tidak sedikit yang berangkat haji secara dadakan, yang tidak mengikuti manasik ada. Ada pula yang mengikuti manasik, tetapi pada saat pelaksanaannya di Tanah Suci berjalan kurang baik. Jadi, keduanya berisiko, untuk itulah jamaah harus dibimbing terus dalam beribadah haji disana, tawaf, sa′i, wuquf-nya hingga selesai.

Yang kedua adalah Aspek Layanan kepada para jamaah. Di sini banyak tahapan yang harus dilaksanakan secara benar dan cermat. Jika salah satu saja tidak terlaksana, misalnya menyangkut paspor dan visanya, penerbangannya, asramanya, transportasinya disana, juga masalah keterlambatan atau bahkan batal berangkat.

Jadi kita memaklumi akan ada kendala di setiap tahunnya, karena aspek pelayanan Jamaah dengan kapasitas yang sangat besar, sehingga begitu banyak mata rantai kesulitan di dalamnya. Belum lagi masalah perbedaan cuaca, dan masalah- masalah teknis lainnya mungkin saja menjadi kendala di sana.

Tahun ini salah satu masalah yang dialami jamaah saat di dalam negeri adalah visa, walau pun akhirnya mungkin bisa terselesaikan, tetapi sempat membuat para jamaah khawatir batal berangkat. Tetapi syukur alhamdulillah, mereka semua bisa berangkat.

Untuk solusi masalah visa ini, kuncinya bagaimana?

Ya, masalah visa tahun depan jangan sampai terjadi lagi. Tentu ini tak lepas dari komunikasi para petugasnya. Misalnya dokumennya harus dipersiapkan lebih awal. Dalam masalah ini, tergantung bagaimana petugasnya, dalam menyusun dokumen para calon jamaah, petugas harusnya proaktif ″menjemput bola″. Petugas jangan hanya diam ditempat, jika mereka melihat terdapat kekurangan dokumen. Mereka harus mengejarnya sampai ke rumah calon jamaah tersebut. Untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan.

Mudah-mudahan masalah lain tidak ada, tetapi kita belum tahu disana nanti ada apa. Untuk para Jamaah di Tanah Suci, masalah apa saja yang seringkali terjadi dan perlu kita perbaiki?

Ya banyak, masalah-masalah yang disebabkan oleh kendala bahasa yang mengakibatkan terjadi adalah orang kesasar, hilang. Terutama mereka yang tidak biasa pergi jauh. Jadi soal bahasa juga sistem penanganan orang hilang itu menjadi hal yang penting disana.

Soal penginapan, adalah salah satu yang perlu diperhatikan juga adalah tempat menginap para jamaah. Di Mekkah misalnya, jarak penginapan (hotel) menuju tempat Masdil Haram, menjadi pertimbangan yang penting. Makin jauh jaraknya, makin bayak potensi masalah. Demikian juga ketika berada di Madinah.

Yang tidak bisa diabaikan adalah penanganan orang sakit. Ini juga harus terus dilakukan perbaikan-perbaikan. Jangan sampai ketersediaan obat disana tidak lengkap, tidak cukup. Termasuk tenaga kesehatannya jangan hanya dokter umum saja, tetapi juga tersedia dokter spesialis. Peralatan kesehatan untuk membantu dokter juga harus tersedia. Karena masalah kesehatan jamaah di sana harus benar-benar di jaga.

Jika ada yang sakit dan kemudian meninggal disana, itu merupakan kegagalan tim kesehatan disana.

Harus dilakukan tindakan antisipatif, fisiknya harus dibangun jauh-jauh hari sebelum mereka berangkat. Karena disana harus jamaah mengerahkan seluruh tenaganya dalam menjalankan semua kegiatan ibadah itu. Mereka mengalami tekanan udara yang panas, yang melelahkan. Kalau daya tahannya tubuh tidak baik. Tentu akan berisiko terhadap kesehatn mereka.

Jadi penangannya kesehatan sebelum berangkat sudah dipantau dulu, apa pun kekurangannya harus dapat diketahui sejak awal mereka di dalam negeri, dan dilakukan penanganannya. Jemaaah harus disehatkan terlebih dahulu, dan sampai disana harus kesehatan itu harus di jaga agar tidak sampai jatuh sakit.

Yang jadi masalahnya itu jika tempat penginapannya jauh dari pusat kegiatan ibadah haji. Dan yang pasti, pada musim haji transportasi umum disana tidak berjalan. Jadi ketika seorang jemaaah kondisi kesehatannya tidak fit, tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaimana pandangan Kiai, mengenai pelaksanaan berhaji tidak boleh lebih dari pada satu kali? Apakah ini tidak mengurangi hak umat muslim untuk berhaji?

Melihat jumlah peminat haji di Indonesia jumlahnya jutaan orang, tentunya antrian menjadi panjang sekali. Karena memang kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi jumahnya terbatas. Mereka yang mendaftarkan diri tahun ini, rata-rata harus menunggu keberangkatannya selama sepuluh samapai lima belas tahun lagi. Jadi salah satu solusinya adalah orang yang sudah berhaji, sebaiknya tidak melakukannya dua kali atau lebih. Karena, dia akan menghalangi calon jamaah yang belum berhaji.

Sedangkan, haji yang kedua dan seterusnya itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah. Seharusnya kita mengutamakan yang wajib itu. Kecuali orang (calon jamaah) memiliki kepentingan, seperti menghantarkan orang tuanya yang artinya orang tuanya tidak bisa melakukannya tanpa diantar keluarganya.

Dan MUI sudah menfatwakan itu. Melarang berhaji dua kali. Karena menghalangi orang yang hajinya wajib, padahal haji oramg tersebut sunnah. Karena itu mereka disarankan untuk Umrah saja.

Bagaimana melihat peran para pembimbing jamaah haji saat ini, apakah profesi ini sudah menjalankan tugas-tugas mereka dengan baik?

Sebenarnya pemerintah menyediakan pembimbing haji dalam jumlah tertentu. Sebaiknya mereka adalah orang yang sudah paham dan tahu persis. Yang kedua memang sebaiknya pembimbing haji itu diambil dari Kelompok Bimbingan Haji Indonesia (KBHI), dan sebaiknya tersertifikasi bukan karena jatah yang bergilir. Karena jika yang mendapat giliran untuk membimbing disana belum paham soal haji dan kondisi-kondisi yang ada disana, itu akan menjadi masalah bagi para jamaah yang dibimbingnya.

Apakah sebenarnya profesi pembimbing ibadah haji ini belum ada standarnya, dan tidak memiliki sertifikasi profesi?

Usulan-usulan itu sudah ada, dan dalam undang-undang memang harus ada pembimbing ibadah haji. Dan memang harusnya diperkuat kualitasnya dan diperbanyak jumlahnya, karena berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan oleh para jamaah. Jika banyak kelalaian yang terjadi terutama disebabkan oleh pembimbing ini, akibatnya sudah tidak ada gunanya lagi ibadah yang dilakukan oleh Jamaah disana, sia-sia.

Jadi menurut MUI, sebagai sebuah profesi, apakah Pembimbing ibadah Haji ini harus tersertifikasi?

Harus ada, keberadaan profesi ini harus membuat jamaah dan calon jamaah mudah untuk berkonsultasi untuk mendapatkan jawaban yang jelas terkait madalah-masalah teknis, terutama masalah ibadah haji itu sendiri.

Selama ini kita, terbantu dengan keberadaan KBHI, mereka biasanya melakukan bimbingan-bimbingan haji baik ketika masih di tanah air maupan ketika sampai di Tanah Suci. Dan itu sangat meringankan beban pemerintah dalam hal bimbingan ibadah para jamaah haji. Mereka dibayar secara sukarela.

Belakangan ini marak travel menawarkan umrah murah, arisan umrah, umrah multi level marketing (mlm), travel umrah ″bodong″, yang disinyalir menimbulkan masalah bagi jamaah di Tanah Suci. Bagaimana Kiai melihatnya?

Mengenai multi level marketing itu, tidak ada yang mendapatkan sertifikat dari lembaga sertifikasi, dulu pernah ada dua yang diberi sertifikat. Tetapi dicabut kembali karena tidak memenuhi syarat. Karena setelah ditelusuri, yang seperti itu berpotensi menimbulkan korban, penipuan terhadap calon jamaah haji.

Pemerintah juga harus mengawasi secara ketat, agar tidak terjadi lagi model yang seperti itu.

Mengenai biro-biro travel Umrah yang juga harus dilakukan verifikasi dengan memberlakukan persyaratan yang ketat, jangan sampai dia hanya mencari keuntungan saja, tetapi tidak memberikan pelayanan yang semestinya. Sehingga meminimalisir timbulnya masalah-masalah seperti penipuan, penerlantaran jamaah dan sebagainya.

Disamping itu jamaah itu harus diberikan pemahaman yang jelas. Pemerintah harus rajin memberikan info travel-travel yang bisa dipercaya, diberi ijin. Dan menuntun masyarakat agar tidak mudah menjadi tertipu dengan oleh tawaran-tawaran yang tidak lazim, yang dilakukan oleh travel-travel ′liar′. Harus ada cara, seperti misalnya di Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat kota dan kabupaten, atau pun KUA di tingkat kecamatan perlu dilakukan sosialisasi, penyebaran poster daftar travel-travel memenuhi syarat untuk digunakan oleh masyarakat.

Menurut syariat Islam bagaimana jika sistem pembiayaan haji/umrah yang sifatnya menggunakan down payment (uang muka)?

Kalau down payment itu sebenarnya tak ada masalah, kalau tidak terjadi penipuan. Tetapi jika itu berisiko merugikan masyarakat, pemerintah justru harus melarangnya. Itulah sebabnya tadi, harus dilakukan sosialisasi secara lebih intensif lagi. Dan setiap tahun harus diperbarui, karena bisa jadi satu biro travel tahun ini misalnya bisa direkomendasikan, tetapi tahun depan biro tersebut belum tentu dia memenuhi syarat. Karena setiap saat kondisinya bisa berubah. Masyarakat harus benar- benar memahami itu, sehingga tidak terkelabuhi.

Kalau mau bicara yang ideal adalah ikuti saja sesuai dengan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Artinya, yang ideal itu adalah ketika memang yang sudah terjadwalkan berangkat disitu baru muncul pembayaran, itu untuk menghindarkan masyarakat dari risiko penipuan.

Tetapi dengan sebanyak 600-an biro travel yang berijin ini apakah bisa mengcover seluruh jamaah yang jumlahnya mencapai 200-an juta di seluruh Indonesia?

Saya kira jumlah itu cukup banyak, apa lagi mereka bisa membuat di cabang dimana-mana. asalkan mereka bisa bekerja efisien. Justru saya kira, jumlah 600 itu malah terlalu banyak.

Jadi yang penting dalam hal ini adalah sistem pengawasannya. Saya kira harus diperketat, dan semuanya harus sudah jelas. sehingga tak ada ruang bagi mereka yang mau melakukan penipuan.

Kira-kira rekomendasi apa yang bisa disampaikan kepada pemerintah untuk pengawasan dalam pelaksanaan ibadah Haji/Umrah ini?

Sebenarnya monitirong yang dilakukan oleh pemerintah sudah cukup baik, karena kita punya pengalaman selama berpuluh-puluh tahun. Artinya dari tahun ke tahun kita temukan masalah yang harus diperbaiki.

Setiap tahun selalu ada rekomendasi dari Tim Amirul Hajj yang melakukan pemantauan haji. Mereka memberikan rekomendasi, setiap selepas pelaksanaan haji. Di lain pihak, Kementerian Agama juga melakukan evaluasi haji secara menyeluruh.

Jadi temuan-temuan yang mereka peroleh, dikompilasi dengan opini-opini di luar, hasil pengamatan media, para bacpacker dan dijadikan sebagai daftar rekomendasi yang harus ditindak lanjuti oleh pemerintah.

Saya kira, sistem pelaksanaan haji kita itu sudah sangat baik, bahkan cukup maksimal. Sehingga dengan demikian, jangan sampai satu masalah terulang lagi di masa berikutnya. Kalu itu masih terjadi, berarti kita tidak mengalami kemajuan. Saya kira itu yang perlu kita garis bawahi bersama.
Erwin E Ananto - TIM JUMRAH

Fildzah, Mengapa Kau Memakai Hijab?

by
Fildzah, Mengapa Kau Memakai Hijab?
Ketika aku harus menemukan jawaban yang logis tentang agamaku sendiri.

Filipina tempat yang pernah dikunjungi oleh Fildzah Amalia PH peserta Dream Girls 2015 asal Sidoarjo ini. Dia datang untuk melakukan persentasi tentang budaya Indonesia. Awalnya berjalan lancar, namun suasana berubah ketika salah seorang mengajukan pertanyaan tentang agama yang diikuti oleh Fildzah. 



Ia pun terdiam karena pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang logis dan masuk akal. Seperti apa pertanyaan dan jawabannya?

Banyak orang mengatakan bahwa travelling itu sama dengan perjalanan untuk mengenal diri kita yang sebenarnya. Pada saat membaca banyak tulisan seperti ini di umur 17 tahun dan belum pernah melakukannya sendiri, yang ada dalam pikiran adalah, “bagaimana bisa?” Kita berada pada zaman di mana setiap orang dapat mengekspos apa yang mereka lakukan di sosial media. Termasuk dalam hal ini adalah travelling.

Ada yang pergi naik gunung, ada yang ke hutan, berkemah, mencoba menyelam, bersepeda di pulau wisata, dan mencoba menelusuri sungai dengan perahu. “Bagaimana ceritanya kita bisa menemukan diri kita lewat acara-acara itu?” Tapi, setelah mencoba satu pengalamann travelling yang life-changing, caraku melihat sebuah perjalanan dan bagaimana memperlakukan diri sendiri jadi sangat berbeda.

Waktu itu pertengahan tahun 2013 dan sekitar satu bulan sebelum memasuki bulan puasa. Aku mencoba ikut kegiatan sukarela di Quezon City, Filipina, selama enam minggu. Kegiatannya sederhana sih, di sana aku diminta untuk mengerjakan projek sosial budaya dan harus mempresentasikan Indonesia ke anak-anak muda Filipina. Tujuannya adalah agar mereka punya kesadaran budaya yang lebih beragam, tidak hanya tentang negara mereka aja.

Di sana aku tidak sendirian, meskipun awalnya aku berangkat sendiri. Ada sekitar 15 orang di tim aku dan mereka berasal dari sepuluh negara yang berbeda. Disana, ada aku dan dua orang perempuan lain yang menjadi representative dari Indonesia.

Di awal, aku tidak menaruh banyak ekspektasi pada kegiatan ini karena, yah, namanya juga presentasi budaya. Semacam itulah, mau seperti apalagi sih? Filipina tidak jauh-jauh berbeda dengan Indonesia. Jadi, budaya dan orang-orangnya akan lumayan familiar. Kecuali dengan bahasa tagalog dan bahasa Inggrisnya, ya. Tapi, rupanya mungkin karena saat itu Ramadan dan berkah Ramadan memang selalu ada. Banyak hal terjadi untuk mencubit-cubit pipiku sebagai seorang muslimah.

Satu hal yang cukup sering terjadi adalah ketika teammate-ku dari Jerman banyak menanyakan mengenai hal-hal dalam Islam yang aku pikir sudah sangat tahu jawabannya. Temanku bernama Lisa ini, cukup penasaran dengan alasanku memakai jilbab, kenapa aku memakainya sementara temanku yang lain yang juga muslim tidak menggunakannya. Lalu, ia juga bertanya mengapa aku tidak boleh makan daging babi, padahal saat ini sudah banyak peternakan babi yang lebih bersih dan terawat.

Selain itu, kenapa aku tidak boleh masuk ke klub malam dan minum alkohol, sementara temanku dari Pakistan juga muslim tapi dia senang sekali diajak ke tempat seperti itu. Pada saat aku menjawab karena aku ingin mengikuti perintah agama yang ada dalam Al-Quran, ia kembali menodongkan pertanyaan lain. “Kenapa kamu perlu mengikuti apa yang tertulis dalam buku yang ditulis pada jaman-jaman terdahulu, sementara kamu hidup di jaman sekarang yang semuanya sudah berkembang?”, katanya.

Ketidakmampuanku untuk menjawab semua pertanyaannya dengan baik dan logis membuatku sedih. Bukan karena dia menanyakan hal yang salah, namun karena aku belum sepenuhnya memiliki jawaban itu. Bahkan, aku mempertanyakan kembali pengetahuan dan pemahamanku mengenai Islam.

Banyak hal yang coba ia pertanyakan dan perlu jawaban yang sangat logis. Di satu sisi, apa yang dilakukannya mungkin bertentangan dengan nilai-nilai kita yang seakan-akan meragukan agama dan kepercayaan orang lain. Tapi di sisi yang lain, apa yang ia lakukan adalah pertanyaan kritis yang memang sudah selayaknya diajukan oleh seorang manusia dengan akal yang memang dianugerahkan Allah untuk kita.

Manusia, jika ingin diklasifikasikan dalam kingdom di biologi memang termasuk dalam kelompok hewan atau animalia. Namun, bagaimanapun, kita diberikan akal yang membuat kita lebih sempurna dan terhormat dibandingkan mereka. Maka, memang bukanlah hal yang di luar kewajaran jika ia banyak menanyakan hal tersebut.

Malah, dengan kehadiran Lisa dan pertanyaan-pertanyaan kritisnya itu, membuatku merefleksi kembali seberapa jauh aku memahami agamaku ini sebagai sebuah kepercayaan dan jalan hidup yang aku ambil sampai mati. Bukan hanya sekedar turunan dari orangtua.

Kembali ke bagaimana akhirnya aku memahami travelling sebagai perjalanan untuk menemukan diri sendiri. Mungkin,travelling dalam hal ini bukan hanya sekedar di mana dan seberapa jauh kita pergi. Tapi, lebih kepada siapa yang kamu temui dan bagaimana kamu menjalani perjalananmu itu.

Semenjak pengalamanku dengan Lisa tadi, kini setiap melakukan perjalanan, aku lebih penasaran dan bersemangat untuk mengetahui apa yang akan aku temui disana. Selain itu, mungkin agak lebih sentimental adalah setiap hal yang aku jalani sekarang, aku selalu berusaha mengambil pelajaran di dalamnya. Sekecil dan sesedikit apapun.

dream.co.id

Bersiap Menjadi Tamu Allah

by
Bersiap Menjadi Tamu Allah
Musim haji tiba. Para calon jamaah haji dari seluruh penjuru dunia pun bersiap menuju Mekah, Arab Saudi untuk menunaikan ibadah yang termasuk dalam rukun Islam ini.Tak terkecuali calon jamaah haji dari Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar.

Para calon jamaah haji di Indonesia biasanya diberangkatkan dalam beberapa kelompok terbang (kloter) berdasarkan wilayah keberangkatan. Biasanya sebelum berangkat, para calon jamaah haji dikumpulkan terlebih dahulu di asrama haji untuk mendapatkan berbagai perbekalan, tes kesehatan dan manasik haji terakhir kali sebelum diberangkatkan.

Untuk wilayah DKI Jakarta sendiri, para calon jamaah haji ditampung di asrama haji Pondok Gede. Asrama Haji Pondok Gede sendiri kedatangan 42 kloter calon jemaah haji yang terdiri dari 3 wilayah yaitu Jakarta dengan 14 kloter, Banten menyumbang 16 kloter dan Lampung 13 kloter. Masing-masing kloter menyumbang 445 calon jemaah haji.

Asrama haji Pondok Gede sendiri didesain untuk dapat menampung kurang lebih 2000 calon jemaah haji dan jika terjadi kendala seperti keterlambatan jadwal penerbangan pesawat, asrama haji Pondok Gede tetap bisa menampung para calon jemaah haji sampai waktu proses pemberangkatan ke tanah suci.


Untuk jumlah jamaah haji Indonesia sendiri yang telah mendarat di Madinah hingga kemarin jumlahnya mencapai 37.521 orang yang tergabung dalam 92 kelompok terbang (kloter) yang mulai mendarat di Madinah sejak 21 Agustus lalu.
 

Berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), jumlah jamaah yang telah mendarat berasal dari embarkasi Solo (7.012 jamaah), Surabaya (5.716 jamaah), dan Jakarta Pondok Gede (4.904 jamaah). Kemudian, Jakarta-Bekasi (7.507 jamaah), Balikpapan (1.761 jamaah), Lombok (1.340 jamaah), Ujungpandang (2.230 jamaah), Palembang (442 jamaah), Padang (2.230 jamaah), Batam (1.753 jamaah) dan Medan (2.626 jamaah).
jumrahonline

Tayangan Secara Langsung Mekkah 24 Jam Setiap Hari

by
.

Jumrah Online_Sejak awal Ramadhan, kita telah bisa melihat tayangan langsung suasana ibadah di Masjidil Haram dan sekitar Ka'bah di Mekkah. Anda dapat menyaksikan shalat wajib berjamaah, pelaksanaan thawaf, serta ibadah lainnya setiap hari selama 24 jam. Klik gambar bila live streaming belum berputar.



Semoga Bermanfaat
jumrahonline

Top Ad 728x90