Top Ad 970x90

Rekam Jejak Kerajaan Islam di Asia Tenggara

by
Rekam Jejak Kerajaan Islam di Asia Tenggara
Penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara ditandai dengan berdirinya kesultanan Islam di kawasan ini. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di Asia Tenggara tidak lepas dari kepentingan perdagangan dan syiar agama yang dibawa oleh para saudagar dan ulama muslim dari Asia Barat, sejak abad ke 13 Masehi.

Jejak-jejak Islam di Asia Tenggara diawali pada abad ke-13. Islam menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak secara bersamaan tetapi melalui rangkaian sejarah yang panjang. Kala itu Kerajaan-kerajaan dan wilayah ini berada dalam situasi politik dan kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Namun masuknya Islam memberi pengaruh yang sangat besar, bahkan hingga hari ini.

> ABAD KE 13 MASEHI

Kesultanan Samudera Pasai
Berdirilah Kesultanan Samudera Pasai, kesultanan Islam pertama di Nusantara yang berlangsung pada abad ke 13-15. Terletak di Aceh Utara, sebagai jalur laut dan perdagangan yang strategis di kawasan Nusantara.

Para pedagang muslim asal Arab, Cina dan India memasuki daerah ini untuk berdagang dan menyebar-kan Islam. Kesultanan Samudera Pasai mendapat sumber penghasil-an yang besar dari pajak bandara laut dan perdagangan. Namun pada 1521 Masehi, ditaklukkan Portugis.

Jejak Kesultanan Samudera Pasai dapat diketahui antara lain dengan ditemukannya uang dirham emas dengan tulisan nama salah satu Sultan yang memerintah kala itu.

Kesultanan Sulu
Pada 1380 M, Karim ul-Makdum seorang ulama keturunan Arab, menyebarkan Islam di Kepulauan Sulu. Dilanjutkan Raja Bagindo dari Minangkabau pada 1390, menyebarkan Islam di wilayah ini. Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau Sibutu.

Sekitar 1450 M, seorang Arab dari Johor, Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakr tiba di Sulu menikahi Paramisuli, putri Raja Bagindo. Setelah Raja tiada, Abu Bakr melanjutkan dakwah di wilayah ini.

Pada 1457, ia memgumumkan berdirinya Kesultanan Sulu dengan gelar Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashim Abu Bakr. Gelar 'Paduka', gelar lokal yang berarti tuan sedangkan Mahasari berarti Yang Dipertuan. Pada 1703, Kesultanan Brunei menghadiahkan Kesultanan Sulu wilayah bagian timur Sabah sebagai balas jasa atas bantuan mereka menumpas pemberontak di Brunei.

Kala itu, Kesultanan Sulu menghadiahkan Pulau Palawan kepada Sultan Qudarat dari Kesultanan Maguindanao sebagai hadiah perkawinan Sultan Qudarat dengan puteri Sulu dan juga sebagai hadiah persekutuan Maguindanao dengan Sulu. Namun kemudian, Sultan Qudarat menyerahkan Palawan kepada Spanyol.

> ABAD KE 14 MASEHI


Kesultanan Malaka
Letak Kesultanan ini berada di Semenanjung Malaka. Islam di Malaka berasal dari Kesultanan Samudera Pasai. Pendiri Kesultan-an Malaka adalah Paramesywara, seorang pangeran dari Sriwijaya. Ia menikahi putri Sultan Samudera Pasai dan masuk Islam. Kesultanan ini mencapai kejayaan di era Sultan Muzaffar Syah, 1445-1459.

Portugis menaklukkan Malaka pada 1511 Masehi. Peninggalan Kesultanan Malaka berupa koin mata uang dari akhir abad ke-15 dan benteng A'Farmosa, sebagai bukti ditaklukkannya Malaka oleh pasukan Portugis.

Kesultanan Brunei Darussalam
Kesultanan Brunei Darussalam adalah kesultanan Islam yang ada di Kalimantan bagian utara. Awal masuknya Islam ke Brunei dibawa oleh saudagar asal Cina pada 977 Masehi. Setelah Raja Awang Alak Betatar masuk Islam, ia merubah kerajaan itu menjadi kesultanan (1406-1408). Kata 'Darussalam' disematkan pada kata 'Brunei' di abad ke-15 untuk menegaskan Islam sebagai agama negara.

Kesultanan ini menjadi pusat penyebaran Islam sekaligus perdagangan di wilayah Melayu kala Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kesultanan Brunei Darussalam dikuasai Inggris pada 1888 M, dimasa Sultan Hasyim Jalilu Agera-maddin. Namun Inggris memberi kemerdekaan pada tahun 1983 M.

> ABAD KE 15 MASEHI

 
Kesultanan Islam Pattani
Kehadiran Islam di Pattani dimulai dari kedatangan mubalig dari Pasai Syekh Said, yang berhasil menyem-buhkan Raja Pattani bernama Phaya Tu Nakpa yang sedang sakit parah. Phaya Tu Nakpa (1486-1530 M) yang beragama Budha kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan Ismail Syah.

Kesultanan Pattani mengalami kemajuan pesat setelah menjalin hubungan dagang dengan Malaka, dan menjadi pusat perdagangan dan bandar laut, terutama bagi pedagang dari Cina dan India. Kejayaan Pattani berakhir setelah dikalahkan Kerajaan Siam dari
Bangkok. Peninggalan Pattani berupa nisan kubur yang disebut
Batu Aceh sebagai simbol hubung-an dekat dengan Samudera Pasai.

Kesultanan Ternate
Kesultanan Islam terbesar Maluku berada di Ternate. Islam di daerah ini disebarkan oleh para ulama dan pedagang dari Pulau Jawa. Islam jadi agama kerajaan di era Sultan Zainal Abidin.

Kesultanan Ternate menjadi salah satu pusat penyebaran Islam dibagian timur Nusantara, mencapai kejayaannya di era pemerintahan Sultan Babullah. Dalam perdagang-an. Masa Kesultanan Ternate berakhir setelah ditaklukkan oleh VOC pada 1660. Peninggalannya, diantaranya Benteng Portugis dan istana di Ternate, Maluku Utara.

> ABAD KE 16 MASEHI

Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh adalah kerajaan Islam yang berada di bagian utara Sumatera. Didirikan pada 1541 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh menggantikan peran Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, terutama dalam perdagangan dan pelayaran yang telah dikuasai oleh Portugis.

Kejayaan Kesultanan Aceh terjadi di era Sultan Iskandar Muda, yang akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1912 M. Peninggalan sejarah Kesultanan Aceh antara lain Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dan Cakra Donya, yaitu lonceng hadiah dari kaisar Cina.

Kesultanan Demak (1500 – 1550 Masehi)
Di Jawa, berdiri Kesultanan Demak,kesultanan Islam dipimpin Raden Fatah, bupati Majapahit di Bintoro. Mencapai puncak kejayaan saat di- pimpin oleh Sultan Trengono. Kesultanan Demak telah berhasil melebarkan kekuasaannya sampai ke luar Jawa, seperti Kesultanan Banjar, Kerajaan Kotawaringin, dan Kesultanan Kutai di Kalimantan. Namun terjadi kemunduran di era Sunan Prawoto karena beberapa wilayah terjadi pemberontakan.

Peninggalan Kesultanan Demak yang populer adalah Masjid Agung Demak. Ciri khas masjid ini adalah bangunannya ditopang empat tiang atau saka guru yang dibangun empat orang sunan dari sembilan wali (Wali Songo), yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Kesultanan Cirebon
Kerajaan Islam pertama di Jawa Barat, adalah Kesultanan Cirebon yang didirikan pada 1450 M, oleh Pangeran Walangsungsang. Tokoh yang berperan menjadikan Cirebon sebagai Kesultanan Islam adalah Syarif Hidayatullah.

Sepeninggalan Panembahan Girilaya 1650-1662M, Kesultanan Cirebon diwarisi kedua anaknya, terbagi menjadi dua Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Meski tak memiliki kekuasaan administratif, Kesultanan ini tetap bertahan hingga kini.

Kesultanan Banjar
Kesultanan Islam ini terletak di bagian selatan Kalimantan. Pada awalnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu yang kemudian menjadi kesultanan Islam.

Berdiri pada 1595 M dengan raja pertama Sultan Suriansyah. Islam masuk ke wilayah Banjar pada 1470 Masehi, bersamaan dengan melemahnya Majapahit di Jawa. Penyebaran Islam secara meluas dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama yang menjadi Mufti Besar Kalimantan. Pada 1857-1859, Kesultanan ini mengalami kemunduran dengan munculnya pergolakan menentang pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan oleh Belanda.

Pada 1859-1905, terjadi Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari (1809-1862) melawan Belanda, yang akhirnya Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada 1860. Peninggalan sejarah Kesultanan Banjar dapat dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin, Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah.

Kesultanan Banten
Ini adalah kesultanan terbesar di Jawa Barat. Kesultanan Banten didirikan Sunan Gunung Jati pada tahun 1524 Masehi. Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, Islam telah mengalami perkembangan pesat. Ditandai dengan berdirinya masjid dan pesantren.

Kesultanan Banten mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651 1683. Namun, mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan Belanda. Peninggalannya berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.

Kesultanan Buton
Kesultanan Buton adalah kerajaan Islam yang berada di Pulau Buton, Sulawesi tenggara. Kerajaan Buton menjadi kesultanan setelah Halu Oleo, raja ke-6, memeluk Islam. Penyebaran Islam secara meluas oleh syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Patani, seorang ulama dari Kesultanan Johor. Peninggalan sejarah Kesultanan Buton berupa Benteng Kraton dan Batupoaro, yaitu batu tempat mengasingkan diri bagi Syekh Abdul Wahid di akhir keberadaannya di Buton.

Kesultanan Goa
Kesultanan Goa terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi. Kerajaan Goa berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16, di masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639). Di era Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar melawan Belanda, yakni di tahun 1666-1669 M.

Kesultanan Goa dikuasai Belanda setelah dipaksa menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya. Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar.

Kesultanan Johor
Kesultanan Johor berdiri setelah Kesultanan Malaka takluk oleh Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah membangun Kesultanan Johor pada sekitar tahun 1530-1536 Masehi.

Kejayaan kesultanan ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II. Kesultanan Johor memperkuat dirinya dengan mengadakan aliansi bersama Kesultanan Riau sehingga disebut Kesultanan Johor-Riau, yang berakhir setelah Raja Haji wafat dan wilayah menjadi kekuasaan Belanda.

Kesultanan Kutai
Kesultanan Kutai berada disekitar Sungai Mahakam, Kalimantan bagian timur. Pada awalnya, Kutai adalah kerajaan yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Islam berkembang di wilayah Kutai di era Aji Raja Mahkota pada 1525-1600 Masehi.

Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1780-1850). Namun, mengalami kemunduran setelah ia meninggal dunia. Peninggalannya berupa makam para sultan yang terletak di Kutai Lama, dekat Anggana.

Kesultanan Pajang Kesultanan Islam pertama dipedalaman Jawa adalah Kesultan-an Pajang, yang didirikan oleh Joko Tingkir pada 1546, setelah Sultan Trenggono (Demak) wafat. Joko Tingkir atau Sultan Adiwijaya membawa Islam dari wilayah pesisir menuju pedalaman Jawa.

Kesultanan ini berlangsung selama 45 tahun, namun ditaklukkan oleh Mataram pada 1618. Peninggalan Kesultanan Pajang berupa makam Pangeran Benowo.

  
Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram berdiri sejak 1582 Masehi, berawal dari wilayah Kesultanan Pajang, hadiah dari Sultan Adiwijaya kepada Kiai Ageng Pamanahan. Sultan I Mataram adalah Panembahan Senopati (1582-1601).


Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram terjadi di era Sultan Agung (1613-1645). Selanjutnya melemah sejak terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan Belanda. Pada akhirnya Kesultanan ini terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalannya antara lain pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.

Kesultanan Palembang
Pada awalnya, Kesultanan Palembang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Demak. Sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan ini adalah Ki Gendeng Suro (1539-1572).Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang menetap di Palembang.

Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena letaknya yang strategis.Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin. Salah satu peninggalan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan pada era kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.

> ABAD KE 17 MASEHI

Kesultanan Bima Kesultanan Bima adalah kerajaan Islam yang berada di Sumbawa bagian timur. pada 1620 Kerajaan Bima berganti menjadi kesultanan Islam setelah rajanya, La Ka'i, memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdul Kahir.

Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682), Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam kedua di timur Nusantara setelah Makassar.Kesultanan ini berakhir pada 1951, ketika Muhammad Salahuddin, sultan terakhir, wafat. Peninggalan Kesultanan Bima antara lain berupa kompleks istana yang dilengkapi dengan pintu lare-lare atau pintu gerbang kesultanan.

> ABAD KE 18 MASEHI

 
Kesultanan Siak Sri Indrapura

Kesultanan Melayu yang didirikan pada 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan penyebaran Islam di Sumatera Timur. Berpusat di Desa Buantan, kemudian pindah ke Siak Sir Indrapura, berada di sekitar 90 km ke timur laut Pekanbaru.

Wilayah kekuasaannya meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko, Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan (Kampar); Pekanbaru; dan sekitar-nya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupa-kan salah satu objek pariwisata di daerah Riau. ruangan, selimut, tas, maupun pelana kuda.

Ketika kekhalifahan Islam meluaskan pengaruh hingga ke Persia, permadani pun turut memasuki 'wilayah' baru. Karpet-karpet tebal, dengan bulu halus dan corak menarik menjadi penghias utama Seniman masa itu memakai bulu domba, atau unta sebagai bahan utama permadani. Seiring waktu, kapas dan sutra menggantikannya hingga menghasilkan karya yang lebih kreatif dan indah.

Islam dikukuhkan di pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi, serta pengajaran kepada masyarakat. Pengaruh Islam telah jauh meluas ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat secara damai.

*Dirangkum kembali dari berbagai sumber oleh Erwin E Ananto


Peziarah Haji dari Nusantara Masa Silam

by
Peziarah Haji dari Nusantara Masa Silam
Ratusan ribu bahkan jutaan muslim asal Indonesia, hingga hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai tamu Allah, untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya.

Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan, dan sebagainya.

Di sana tidak ada lagi diskripsi yang bersifat material, oleh karena itu perbedaan golongan, ras, ekonomi, pangkat, bangsa ataupun status sosial hanya merupakan suatu pertunjukan 'panggung' secara komunal dalam kebersamaan antar umat manusia. Pemegang peran dalam panggung ini adalah masing-masing jamaah pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama di mata Allah.

Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual haji ini, adalah pada 9 Dzulhijjah, saat mereka melakukan wuquf di Arafah. Tanpa wuquf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah ibadah hajinya. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :

"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
 

Sejak ratusan tahun umat muslim dari Indonesia telah banyak yang berangkat ziarah ke tanah suci Mekkah. Di masa, ketika masih menggunakan kapal layar hingga kini dengan pesawat terbang, niat umat muslim tanah air untuk pergi ke tanah suci tak pernah memudar.

Di dalam sebuah ceramahnya, Buya Hamka menyampaikan kisah tentang pelaksanaan haji umat muslim nusantara di masa lalu. Ia katakan bahwa sekitar tahun 1927 itu, sewa kapal layar seharga 165 rupiah pulang pergi. Meskipun di saat itu nilai 165 rupiah sudah mahal, tetapi umat muslim berbondong-bondong berangkat ke tanah suci.

Pada tahun 1950, di bulan Agustus, dikatakan harga sewa kapal laut sudah naik menjadi tujuh ribu rupiah, dan seterusnya naik menjadi sebesar 1,5 juta dan seterusnya.  Dari tahun ke tahun belum pernah harga sewa transportasi hingga hari ini turun, tetapi jumlah jamaah yang pergi ke Tanah Suci, tak pernah surut. Tahun 2015 lalu, tercatat hingga 150 ribu jamaah telah berangkat melaksanakan haji (belum terhitung yang pergi umrah).

Hamka mengatakan, ini adalah sebuah fakta betapa mustajab do'a Ibrahim AS kepada Allah Ta'ala agar Ka'bah (yang dibangunnya) itu menjadi 'magnet' yang menarik hati umat muslim di seluruh bumi untuk datang ke 'tanah yang suci', Mekkah al Mukaromah.


< sebelumnya  | selanjutnya >

* Ditulis oleh Erwin E Ananto

Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu (2)

by
Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu (2)
Sepanjang awal abad ke13, umat muslim sama sekali tidak memerlukan tiket pesawat untuk berziarah haji.

Perjalanan haji masa lalu adalah maraton yang sangat panjang di tengah medan yang tak mengenal ampun, dan ziarah itu bisa memakan waktu puluhan tahun bila seseorang harus berhenti dalam perjalanan untuk bekerja dan menyimpan sebelum berangkat melanjutkan perjalanan kembali.


Bahkan perjalanan darat sering 'dikotori'
dan 'rusak' oleh para perampok, serangan penyakit, kekurangan air atau tersesat dan hilang. Dan setiap peziarah yang berlayar di lautan pun mengetahui bahwa laut telah menelan banyak kapal layar beserta para penumpangnya. Juga risiko sering dikenakan pungutan pajak kepada peziarah untuk membatasi mereka, tapi ini tidak sedikit pun membuat surut arus kedatangan para peziarah haji di masa itu.

Keteguhan iman para peziarah haji dalam perjalanan itu mengalahkan kemampuan pasukan kerajaan yang bertahan dalam situasi perang, kelaparan dan serangan wabah penyakit. Kisah perjalanan ziarah haji masa lalu itu, selalu menginspirasi umat muslim selama berabad-abad dan memberi gambaran nyata atas pengorbanan dan keikhlasan, juga keimanan, dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.

Kisah para peziarah, kafilah dari berbagai rute itu menjadi perekat yang menyatukan seluruh peradaban Islam di semua jaman. Semuanya makin mempertegas bahwa perjalanan ke tanah suci bukan sekadar destinasi wisata.

Tahun-tahun terakhir, jamaah haji datang dengan cara yang sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat masif. Hanya diperlukan selama 75 tahun untuk merealisasi perjalanan dengan kapal uap, kereta api, bus serta pesawat. Setelah semua itu tersedia, maka rute-rute darat yang telah bertahan selama hampir 13 abad itu, menjadi tampak usang.

Pada akhir abad ke-19, terutama setelah dibukanya Terusan Suez, terjadi peningkat-an jumlah peziarah yang menuju Mekkah dengan kapal laut yang berlabuh di dermaga di Jeddah. Tidak hanya orang Mesir yang turun ke laut, tapi dari Suriah dan Anatolia pun berlayar dari Beirut melalui kanal-kanal, dan jumlahnya terus bertambah dari India serta Indonesia yang tiba dari Samudera Hindia.

Tahun 1908 pembukaan Hijaz Railway dari Damaskus ke Jeddah menjadi awal hilang-nya tradisi perjalanan kafilah Damaskus. Setelah Perang Dunia II, rute ke Mekkah itu ditandai semakin banyak melalui udara. Tahun 1990, sebesar 95 persen jamaah haji dari luar Saudi (dan banyak orang-orang Arab) tiba dengan pesawat terbang. Hanya beberapa gelintir peziarah yang lewat jalur darat, sebagian besar dari negara-negara Timur Tengah yang berbatasan Arab Saudi, mereka meluncur di jalan raya dengan bus ber-AC berkecepatan tinggi.

Dan itu menjadi akhir dari abad 'kelompok kafilah' yang penuh pengorbanan, usaha keras, kesabaran dan keimanan, yang menjadi ujian bagi para peziarah haji dalam menjelajah ke negeri-negeri yang tidak dikenalnya. Sarat dengan tantangan dan bahaya di tengah gurun. Namun di atas pelana unta itu, mereka memiliki keyakinan untuk memenuhi 'undangan' Allah Ta'ala.

< sebelumnya  | selanjutnya >

* Ditulis oleh Erwin E Ananto

Rasulullah SAW: Rahasia di Balik Sholat Lima Waktu

by
Rasulullah SAW: Rahasia di Balik Sholat Lima Waktu
Suatu hari Ali bin Abi Thalib berkata, "Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Anshor, tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi dan berkata;
 
'Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepadamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa a.s. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqorrab.'


Lalu
Rasullullah bersabda, 'Silakan bertanya.'

Berkata orang Yahudi, 'terangkanlah kepada kami tentang lima waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu'.

Rasullullah pun menjawab;

Shalat Dzhuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhan-nya.

Shalat 'Ashar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi.

Shalat Maghrib itu adalah saat All
ah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang shalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.

Shalat 'Isya itu ialah sh
alat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku.

Shalat Shubuh adalah sebelum terbit matahari. Ini karena apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah, lalu mereka berkata, 'memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang shalat.'

Rasullulloh bersabda;

"Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan. sholat Dzhuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka jahanam pada hari Kiamat."

Rasullullah melanjutkan;

Manakala sholat 'Ashar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat 'Ashar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.

Selepas itu Rasullullah membaca ayat yang bermaksud,

'Jagalah waktu-waktu sh
alat terutama sekali sholat yang pertengahan.'

Sholat Wustho (pertengahan): Peliharalah semua sh
alat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (Al-Baqoroh 2:238)

Sh
alat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.

Sabda R
asullullah Muhammad saw,

Sh
alat 'Isya, katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sholat 'Isya berjamaah, Allah SWT haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.

Sabda R
asullullah saw seterusnya,

Sh
alat Shubuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Shubuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah SWT dua kebebasan, yakni dibebaskan daripada api neraka dan dibebaskan dari nifaq.
 

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah, maka mereka berkata, "Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, mengapa Allah SWT mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?"

Sabda Rasullullah,

Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah SWT mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari. Sementara diizinkan makan di waktu malam itu adalah sebagai karunia Allah SWT kepada makhluk-Nya.

Kata orang Yahudi lagi, 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.'

Sabda Rasullull
ah,

'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada All
ah SWT, dia akan diberikan oleh Allah SWT 7 perkara:

Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
- Rahmat Alloh senantiasa dekat dengannya
- Diberi oleh Alloh sebaik-baik amal
- Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga
- Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan)

- Diberikan cahaya oleh Alloh SWT pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath
- Allah SWT akan memberinya kemudian di syurga.'

Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.'

Sabda Rasullullah,

Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).

Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan "Asyhadu Allaa ilaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan Allah).'

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya."
(Surah Al-Baqarah: ayat 286)
Wallahu a'lam bishawab

Peziarah Haji dari Nusantara Masa Silam (2)

by
Bekal utama, Keikhlasan Hati

Ziarah ke tanah suci Mekkah dan Madinah, sama sekali berbeda dengan berwisata seperti ke Roma, London, Paris, Spanyol, San Fransisco dan kota-kota bersejarah lainnya. Tujuan pergi ke Mekkah adalah untuk memenuhi panggilan Allah Ta'ala, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, "manis tatho'a ilaihi sabila" (orang-orang yang sanggup berjalan ke sana), berjalan di tempat yang panas di padang tandus.


Sebagaimaan madzhab lama, ada yang menyatakan "hendaklah kita semua sanggup berjalan kesana." Buya Hamka mengkisahkan, suatu hari dalam sebuah perjalanan haji, Ia berkendara dari kota Madinah menuju Mekkah. Ia melihat seorang pria yang sedang berjalan kaki di tengah gurun. Ia berhenti dan turun dari kendaraannya untuk menemui pria itu, dan bertanya dari mana dan mau kemana ia (pria itu) akan pergi. Pria itu mengatakan, dia dari negeri Afg
anistan hendak pergi ke Madinah.

Lalu ia kembali ke mobil dan mengambil sebuah bingkisan, untuk diberikan kepada pria itu sebagai oleh-oleh (hadiah) untuk perjalanannya. Menerima bingkisan itu, seketika pria itu mengucap "Alhamdulillah" dan meneteskan air mata.

Kejadian ini, menurutnya dapat menjadi pengingat bahwa tidak sedikit umat muslim yang mau berjuang dalam perjalanan (jalan kaki) menuju ke Mekkah dengan dipenuhi keikhlasan dalam hatinya.

Di lain kisah, pengalaman haji Presiden Soekarno selama menunaikan ibadahnya di Mekkah. Suatu ketika, ia pun sampai di hadapan Rhaudah, ia berlutut di depan makam Rasulullah dan memanjatkan do'a-do'a tanpa sanggup menahan isakan tangis. Itu pun terjadi dalam pengalaman Bung Hatta ketika ia berhaji ke tanah suci.

Begitulah kiranya isi hati umat muslim, yang penuh cinta dan keikhlasan dalam berangkat memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci. Sebuah tempat yang sangat berbeda dari tempat-tempat ziarah lain seperti masjid Sevila, Kordova, Alhambra, dan tempat-tempat indah dan 'keramat' lain di berbagai belahan bumi.

Kerinduan hati umat muslim hanya tertaut ke tanah suci Mekkah dan Madinah, yang setiap sudut kota dipenuh dengan hidayah.

Bagaimana pun juga setelah mereka sampai ke tanah air. Dalam ingatan umat muslim masih lengkap terbayang thawaf mengitari Ka'bah, mengambil air di sumur zam-zam, shalat di makam Ibrahim AS, mencium hajar aswad, wuquf di Arafah di dalam ribuan tenda dan melantunkan dzikir dan doa, bersama berjuta umat muslim sedunia,
di satu tempat yang sama.

Dimensi Keikhlasan ber
ibadah
Islam mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa manusia dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhlasan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah.

Ibadah Haji dan Umrah memiliki hikmah dalam memperteguh hati agar menjadi ranah subur bagi tumbuhnya keimanan kepada Allah Ta'ala.

Dengan demikian, haji atau pun umrah sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan kita, agar kita mengorientasikan tujuan kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencapai ridha Allah.


< sebelumnya  |

*Ditulis oleh Erwin E Ananto

Buka Puasa dengan Kurma, Ini manfaatnya...

by
Buka Puasa dengan Kurma, Ini manfaatnya...
Ramadhan seringkali diidentikkan dengan kurma. Hal ini bukan tanpa alasan, karena selain dianjurkan oleh Rasullallah SAW, studi juga membuktikan bahwa berbuka puasa dengan buah kurma memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh.

Tak heran, jika di beberapa toko bahkan di beberapa titik di Kota Malang, kamu akan menemukan banyak sekali orang yang menjajakan buah kurma dengan berbagai jenisnya.

Nah, agar kamu lebih memahami akan manfaat buah kurma, berikut enam manfaat berbuka puasa dengan buah kurma seperti yang dilansir melalui orbitislam.com.

1. Kurma mudah dicerna sehingga tidak menyakiti perut orang yang sedang berpuasa.

2. Kurma dapat mengurangi rasa lapar sehingga membuat kamu tak terburu-buru menyantap makanan berat secara berlebihan. Pasalnya, mengonsumsi makanan secara berlebihan terutama setelah berpuasa dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

3. Kurma mempersiapkan perut untuk menerima makanan setelah tidak beraktivitas seharian karena berpuasa. Mengonsumsi kurma akan membantu mengaktifkan pelepasan sekresi pencernaan.

4. Kurma diperkaya dengan energi karena mengandung gula. Dengan begitu tubuh akan mendapat pasokan nutrisi dari gula yang dibutuhkan oleh sel otak dan saraf.

5. Kurma mencegah sembelit akibat adanya perubahan pola makan. Sembelit juga bisa disebabkan oleh kurangnya asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi.

6. Kandungan garam alkali dalam kurma bermanfat untuk menyesuaikan keasaman darah karena konsumsi daging dan karbohidrat. Keasaman darah inilah yang menyebabkan beberapa penyakit seperti diabetes, asam urat, batu ginjal, radang kandung empedu, tekanan darah tinggi dan wasir.

Nah, bagi kamu yang tak begitu menyukai buah kurma secara utuh, kamu bisa mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan takjil, seperti es campur, es buah atau salad buah. Meskipun begitu, mengonsumsi buah kurma secara utuh adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaatnya. (*)

Top Ad 728x90