Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk membangun Baitullah di muka bumi dan melaksanakan thawaf disana." Peristiwa tersebut terjadi sebelum Adam AS diturunkan ke bumi.
Selanjutnya, Adam menyempurnakan bangunannya dan berthawaf disana dan diikuti oleh para nabi setelahnya. Kemudian, pembangunan Baitullah itu dilaksanakan kembali dan disempurnakan oleh Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS”
Penjelasan ini berdasarkan keterangan AlQuran surah Al-Baqarah [2] ayat 127 dan surah Al-Hajj [22] ayat 26. "Dan, ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Adam AS. Dan, yang menyempurnakan pembangunan Ka’bah dengan memasang atau meninggikan pondasinya adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Pemakaian Kiswah pada Baitullah (Ka'bah) Kiswah yang artinya adalah pakaian, selanjutnya kata tersebut digunakan untuk menyebut kain penutup Ka'bah.
Dalam sejarahnya, Kabah diberi kiswah sejak jaman Ismail AS. Namun, tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada masa itu terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah dibuat dari kain tenun.
Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak jaman Ismail AS dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebagaimana disebutkan Muhammad bin Ishaq yang mengatakan, “Banyak Ulama’ menceritakan kepadaku, bahwa orang yang pertama kali memberi kiswah pada ka'bah adalah Tuba' As'ad al-Himyar."
Suatu ketika, dia bermimpi memasang kiswah Ka'bah, dan dia pun menutupi Ka'bah dengan al-Antha', yakni sebuah permadani yang terbuat dari kulit. Kemudian dia kembali bermimpi, mengenakan kiswah untuk Ka'bah, dan dia pun memasangnya menggunakan Al-Washayil, yakni kain berwarna merah, bergaris, buatan Yaman."(al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadits, 1/301)
Di Jaman Jahiliyah
Setelah masa Kerajaan Himyar, orang-orang di jaman jahililyah bergantian memasang kiswah. Mereka diperbolehkan memasang kiswah kapan saja dengan bahan apa saja.
Di antara jenis kain yang pernah digunakan untuk kiswah adalah al-Kasf (kain tebal), al-Ma'afir (kain buatan daerah Ma'afir), al- Mala' (kain halus, tipis), al-Washayil dan al-'Ashb, yang keduanya merupakan kain buatan Yaman yang ditenun dengan bambu.
Pada masa Qusay bin Kilab, salah seorang leluhur Rasulullah yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka'bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Mereka mewajibkan setiap kabilah untuk menanggung biaya pengadaan kiswah sesuai kemampuan masing-masing.
Sampai akhirnya datang Abu Rabi'ah bin al-Mughirah, dengan kekayaannya, dia sendiri yang menanggung biaya kiswah. Bahkan di saat kaum Quraisy sedang ditimpa paceklik. Karena itu, masyarakat arab menyebutnya dengan al-Adl (sepadan).
Karena jasa dia memasang kiswah telah sepadan dan menyamai amanah memasang kiswah yang menjadi tanggung jawab orang Quraisy. Untuk selanjutnya, keturunan Abu Rabi'ah diberi nama Bani al-Adl. (al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadis, 1/306).
Orang yang pertama kali memberi kiswah dengan kain sutera adalah Nutailah binti Janab, Ibunya Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muthalib.
Kiswah Ka'bah Setelah Datangnya Islam
Pada masa Rasulullah berada di Mekkah, Ia dan para sahabat tidak memberikan kiswah untuk Ka'bah. Itu terjadi pada masa sebelum penaklukan kota Mekkah. Karena kaum Quraisy tidak mengijinkannya.
Setelah fathul Mekkah pun Rasulullah tidak mengganti kain kiswah yang menempel di Ka'bah, hingga kiswah tersebut terbakar karena seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian Nabi SAW menggantinya dengan kain buatan dari Yaman.
Pada masa Khulafa al-Rasyidin; Abu Bakr RA, Umar RA, dan Utsman RA, mereka memasang kiswah dari kain Qabathi (kain kapas, halus berwarna putih buatan Mesir). Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Muawiyah RA, mengganti kiswah dua kali dalam setahun. Di hari 'Asyura dipasang dengan kain sutra dan di akhir Ramadhan dipasang dengan kain Qabathi.
Di masa Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, kiswah dipasang dua kali dalam setahun dengan bahan dari sutra. Kiswah pertama dipasang dalam keadaan digulung dan dijahit. Kiswah ini dipasang pada hari tarwiyah.
Tujuannya agar tidak disobek oleh jamaah haji. Kiswah kedua dipasang tanpa digulung, pada hari 'Asyura, setelah jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Kemudian dilepas pada 27 Ramadhan, dan diganti dengan kain Qubathi untuk menyambut Idul Fitri.
Di masa Khalifah al-Makmun, kiswah dipasang sebanyak empat lapis. Di lapis yang keempat Ia menggunakan kain warna putih. Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur.
Sedangkan pada masa Khalifah Makmun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Pada tahun 810 H, dibuat kain penutup yang bermotif ukiran, dipasang di bagian luar Ka'bah, yang dinamakan al-Burq. Pembuatan dan pemasangan kain ini sempat dihentikan antara tahun 816 H - 818 H, dan baru dibuat serta dijadikan kiswah kembali tahun 819 H hingga sekarang.
Kiswah Ka'bah Hingga Saat Ini
Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman ‘Ali Su'ud mendirikan pabrik untuk pembuatan kiswah Ka'bah di Mekkah, dan menyediakan seluruh kebutuhan pembangunan. Proyek ini dilanjutkan putranya, Raja Faisal bin Abdul Aziz.
Dia memperbarui pabrik pembuatan kiswah, dan membangun gedung baru di daerah Ummul Jud Mekkah al Mukarramah. Pabrik kiswah ini dilengkapi peralatan modern untuk mencetak kain tenun dengan mempertahankan corak kerajinan tangan.
Di pabrik itu, kiswah dibuat secara massal. Semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah. Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.
Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
04.33.00
Berdo'a merupakan aktivitas seorang hamba untuk meminta kepada Maha Pencipta, atas sesuatu apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Sebagaimana shalat, berdoa pun memiliki adab. Umat Muslim umumnya selalu menengadahkan tangan ke langit saat berdoa kepada Allah SWT usai shalat.
Adab ini menurut Rasulullah SAW menjadi salah satu alasan dihijabahnya doa seorang hamba. Lalu timbul pertanyaan, jika Allah Ta'ala tidak terikat arah, kenapa hambanya harus menengadahkan tangan saat berdoa?
Banyak hadits yang mengungkapkan tentang alasan Islam tentang menengadahkan tangan ketika berdoa. Bahkan sebagian para ulama mengatakan bahwa hadits-nya mencapai derajat mutawatir maknawi.
Berdoa dengan menengadahkan tangan sunnah hukumnya jika dilakukan saat berdoa meminta hujan, berdoa saat di bukit Shafa dan di Marwah, saat di Arafah, melempar jumrah 'ula di hari-hari tasyriq dan jumrah wustha. Namun menengadahkan tangan akan menjadi bid’ah ketika memanjatkan doa di tengah shalat. Misalnya doa saat antara dua sujud, saat tasyahud akhir.
Terkait pertanyaan kenapa hambanya harus menengadahkan tangan saat berdoa, seorang ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan bahwa hal ini berkenaan dengan masalah ubudiyah, seperti menghadap kiblat saat melaksanakan shalat, dan meletakkan kening ke bumi saat sujud, maka menangadahkan tangan seakan-akan langit merupakan kiblat saat berdoa.
Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 22 Allah Ta'ala berfirman, "Dan di langit ada rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan."
Langit memang menjadi tempat turunnya rezeki. Di sanalah Allah menurunkan hujan yang menjadi rahmat bagi manusia. Langit menjadi tempat para malaikat, dimana Allah memberi perintah kepada mereka, hingga mereka menurunkannya ke penghuni bumi. Ringkasnya, langit adalah tempat pelaksanaan keputusan, maka saat berdoa kedua telapak tangan kita diarahkan ke langit.
Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah Maha Hidup dan Mulia, Dia merasa malu dari hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tanganya kepada-Nya dan mengembalikannya dalam keadaan kosong." (HR. Abu Dawud 1488, Turmudli 3556 dengan sanad shahih, lihat Shahihul Jami’ 1753)
Hal ini mungkin menjadi alasan, kenapa Rasululah mengatakan bahwa menengadahkan tangan menjadi salah satu penyebab terkabul atau tidaknya doa. Dibalik itu, doa dengan menengadahkan tangan ke langit juga memiliki filosofi tentang Tuhan.
Mengangkat tangan saat berdoa menunjukkan bahwa Allah SWT berada di atas, tepatnya di Arsy di atas langit ke tujuh. Kegiatan ini menunjukkan kerendahan hamba di hadapan Tuhannya.
Menengadahkan tangan juga bermakna bahwa Allah Ta'ala adalah Dzat yang mengatur alam semesta, dan berbuat sekehendak-Nya. Oleh karena itulah Dia berhak diibadahi dan dimintai serta merendahkan diri kita pada Nya dengan serendah-rendahnya, karena memang barang siapa yang menyombong diri pada Nya akan memperoleh kehinaan.
Dalam mengangkat tangan juga menunjukkan bahwa Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang akan mengabulkan semua permintaan hamba Nya, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh Nya, tidak ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi Nya, oleh karena itu Allah malu melihat hamba Nya yang mengangkat tangan pada Nya kemudian mengembalikannya dalam keadaan hampa, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah.
Semua syariat Allah Ta'ala pasti mengandung hikmah yang sangat tinggi tak terbatas. Akal pikiran kita terlalu lemah untuk bisa mengungkap hikmah dibalik semua syariat yang ditetapkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Cukuplah bagi kita merupakan sebuah keutamaan kalau kita bisa mengungkap sebagiannya.
jumrah online | jumrah.com
Adab ini menurut Rasulullah SAW menjadi salah satu alasan dihijabahnya doa seorang hamba. Lalu timbul pertanyaan, jika Allah Ta'ala tidak terikat arah, kenapa hambanya harus menengadahkan tangan saat berdoa?
Banyak hadits yang mengungkapkan tentang alasan Islam tentang menengadahkan tangan ketika berdoa. Bahkan sebagian para ulama mengatakan bahwa hadits-nya mencapai derajat mutawatir maknawi.
Berdoa dengan menengadahkan tangan sunnah hukumnya jika dilakukan saat berdoa meminta hujan, berdoa saat di bukit Shafa dan di Marwah, saat di Arafah, melempar jumrah 'ula di hari-hari tasyriq dan jumrah wustha. Namun menengadahkan tangan akan menjadi bid’ah ketika memanjatkan doa di tengah shalat. Misalnya doa saat antara dua sujud, saat tasyahud akhir.
Terkait pertanyaan kenapa hambanya harus menengadahkan tangan saat berdoa, seorang ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan bahwa hal ini berkenaan dengan masalah ubudiyah, seperti menghadap kiblat saat melaksanakan shalat, dan meletakkan kening ke bumi saat sujud, maka menangadahkan tangan seakan-akan langit merupakan kiblat saat berdoa.
Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 22 Allah Ta'ala berfirman, "Dan di langit ada rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan."
Langit memang menjadi tempat turunnya rezeki. Di sanalah Allah menurunkan hujan yang menjadi rahmat bagi manusia. Langit menjadi tempat para malaikat, dimana Allah memberi perintah kepada mereka, hingga mereka menurunkannya ke penghuni bumi. Ringkasnya, langit adalah tempat pelaksanaan keputusan, maka saat berdoa kedua telapak tangan kita diarahkan ke langit.
Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah Maha Hidup dan Mulia, Dia merasa malu dari hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tanganya kepada-Nya dan mengembalikannya dalam keadaan kosong." (HR. Abu Dawud 1488, Turmudli 3556 dengan sanad shahih, lihat Shahihul Jami’ 1753)
Hal ini mungkin menjadi alasan, kenapa Rasululah mengatakan bahwa menengadahkan tangan menjadi salah satu penyebab terkabul atau tidaknya doa. Dibalik itu, doa dengan menengadahkan tangan ke langit juga memiliki filosofi tentang Tuhan.
Mengangkat tangan saat berdoa menunjukkan bahwa Allah SWT berada di atas, tepatnya di Arsy di atas langit ke tujuh. Kegiatan ini menunjukkan kerendahan hamba di hadapan Tuhannya.
Menengadahkan tangan juga bermakna bahwa Allah Ta'ala adalah Dzat yang mengatur alam semesta, dan berbuat sekehendak-Nya. Oleh karena itulah Dia berhak diibadahi dan dimintai serta merendahkan diri kita pada Nya dengan serendah-rendahnya, karena memang barang siapa yang menyombong diri pada Nya akan memperoleh kehinaan.
Dalam mengangkat tangan juga menunjukkan bahwa Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang akan mengabulkan semua permintaan hamba Nya, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh Nya, tidak ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi Nya, oleh karena itu Allah malu melihat hamba Nya yang mengangkat tangan pada Nya kemudian mengembalikannya dalam keadaan hampa, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah.
Semua syariat Allah Ta'ala pasti mengandung hikmah yang sangat tinggi tak terbatas. Akal pikiran kita terlalu lemah untuk bisa mengungkap hikmah dibalik semua syariat yang ditetapkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Cukuplah bagi kita merupakan sebuah keutamaan kalau kita bisa mengungkap sebagiannya.
jumrah online | jumrah.com
by Unknown
03.21.00
Penyakit merupakan salah satu hal yang kerap dialami seseorang. Terkadang sifat penyakit tersebut ringan, terkadang pula berat. Hingga tak bisa sembuh selama bertahun-tahun.
Tatkala mengalami sakit yang berat, seorang Muslim selalu dituntut untuk bersabar. Di samping itu, dia juga dituntut untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT.
Terkait kesabaran dalam menghadapi penyakit, terdapat satu riwayat yang diabadikan dalam Alquran yang mengisahkan tentang Nabi Ayyub Alaihis salam. Nabi Ayyub AS diuji oleh Allah Ta'ala menderita penyakit yang tidak kurun sembuh selama bertahun-tahun.
Tetapi, Nabi Ayyub AS tidak putus as dan menyerah dan terus memohon kesembuhan dengan berdoa kepada Allah Ta'ala. Doa Nabi Ayyub AS terabadikan dalam Alquran Surat Al Anbiyaa ayat 83. Berikut lafal doa tersebut.
"Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin."
Artinya:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
jumrahonline | jumrah.com
Tatkala mengalami sakit yang berat, seorang Muslim selalu dituntut untuk bersabar. Di samping itu, dia juga dituntut untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT.
Terkait kesabaran dalam menghadapi penyakit, terdapat satu riwayat yang diabadikan dalam Alquran yang mengisahkan tentang Nabi Ayyub Alaihis salam. Nabi Ayyub AS diuji oleh Allah Ta'ala menderita penyakit yang tidak kurun sembuh selama bertahun-tahun.
Tetapi, Nabi Ayyub AS tidak putus as dan menyerah dan terus memohon kesembuhan dengan berdoa kepada Allah Ta'ala. Doa Nabi Ayyub AS terabadikan dalam Alquran Surat Al Anbiyaa ayat 83. Berikut lafal doa tersebut.
"Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin."
Artinya:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
02.50.00
Untuk yang ingin beribadah umroh diawal tahun baru disarankan untuk lebih menjaga kesehatan agar tidak mengalami gangguan karena suhu udara ekstrim di Saudi Arabia.
Temperatur udara di Saudi Arabia di awal tahun 2016 ini dikabarkan mencapai angka dibawah 20 derajat celcius pada siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari.
Staf Departemen ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Ari Fahrial Syam menyarankan, masyarakat yang akan menjalani ibadah umroh di awal tahun baru ini, agar lebih mampu menjaga kesehatan agar terhindar dari gangguan penyakit akibat suhu yang ekstrim ini.
"Jika para jamaah tidak mengantisipasi udara dingin itu dapat mengalami gangguan kesehatan berupa mimisan, batuk pilek dan bibir pecah-pecah sehingga menurunkan nafsu makannya"
Tentu kondisi ini sangat mengganggu para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah umrah," tulis Ari yang juga sekaligus mantan petugas kesehatan haji ini dalam rilis yang diterima redaksi, Senin 4 Januari 2016.
Tiga penyakit yang timbul akibat suhu udara yang ekstrem tersebut :
Pertama, penyakit yang sudah ada sebelumnya pada jamaah itu yang mengalami kekambuhan karena udara yang dingin, antara lain asma (sesak nafas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin.
Kedua, penyakit yang timbul langsung akibat udara dingin : kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia) yang akan mengancam jiwa jamaah umrah.
Ketiga, penyakit yang tidak terjadi secara langsung sebagai akibat udara dingin tersebut. Jamaah yang tertular batuk-pilek dari teman sekamar yang kebetulan mempunyai alergi dan terinfeksi sehingga dapat menularkan kepada yang lain.
"Para jamaah yang mempunyai resiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin yaitu para jamaah usia lanjut, para jamaah yang mempunyai penyakit diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah serta para jamaah yang mempunyai masalah dengan tiroidnya," tulisnya.
Selain faktor cuaca keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jamaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan.
"Hal yang perlu dicermati para jamaah dan para pengelola ibadah umrah, agar bagi para jamaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan. Rasa bersyukur kadang kala mengalahkan rasa lelah. Walau bagaimanapun secara keseluruhan tubuh kita juga perlu istirahat," kata Ari.
jumrahonline | jumrah.com
Temperatur udara di Saudi Arabia di awal tahun 2016 ini dikabarkan mencapai angka dibawah 20 derajat celcius pada siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari.
Staf Departemen ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Ari Fahrial Syam menyarankan, masyarakat yang akan menjalani ibadah umroh di awal tahun baru ini, agar lebih mampu menjaga kesehatan agar terhindar dari gangguan penyakit akibat suhu yang ekstrim ini.
"Jika para jamaah tidak mengantisipasi udara dingin itu dapat mengalami gangguan kesehatan berupa mimisan, batuk pilek dan bibir pecah-pecah sehingga menurunkan nafsu makannya"
Tentu kondisi ini sangat mengganggu para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah umrah," tulis Ari yang juga sekaligus mantan petugas kesehatan haji ini dalam rilis yang diterima redaksi, Senin 4 Januari 2016.
Tiga penyakit yang timbul akibat suhu udara yang ekstrem tersebut :
Pertama, penyakit yang sudah ada sebelumnya pada jamaah itu yang mengalami kekambuhan karena udara yang dingin, antara lain asma (sesak nafas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin.
Kedua, penyakit yang timbul langsung akibat udara dingin : kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia) yang akan mengancam jiwa jamaah umrah.
Ketiga, penyakit yang tidak terjadi secara langsung sebagai akibat udara dingin tersebut. Jamaah yang tertular batuk-pilek dari teman sekamar yang kebetulan mempunyai alergi dan terinfeksi sehingga dapat menularkan kepada yang lain.
"Para jamaah yang mempunyai resiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin yaitu para jamaah usia lanjut, para jamaah yang mempunyai penyakit diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah serta para jamaah yang mempunyai masalah dengan tiroidnya," tulisnya.
Selain faktor cuaca keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jamaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan.
"Hal yang perlu dicermati para jamaah dan para pengelola ibadah umrah, agar bagi para jamaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan. Rasa bersyukur kadang kala mengalahkan rasa lelah. Walau bagaimanapun secara keseluruhan tubuh kita juga perlu istirahat," kata Ari.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
21.08.00
Di tanah suci, tidak semua tempat atau kota disediakan makanannya oleh panitia haji Indonesia. Di Mekkah misalnya, jamaah harus mengurusi makan sendiri. Mulai mencari dan memilih makan sesukanya.
Memang, mengurus makan sendiri di tanah suci tidak serta dilepas begitu saja oleh panitia haji. Makanan yang disediakan berlangsung pada di masa 'orientasi' haji, kurang lebih 8-9 hari di Madinah. Namun di Mekkah, jemaah haji bisa 'terjun bebas', yaitu cari makan sendiri. Mereka dibekali uang saku oleh panitia sekitar 1.500 riyal. Jumlah ini merupakan uang living cost atau uang biaya hidup per jamaah yang diberikan panitia.
Ada beberapa cerita dari jamaah yang mengalami kesulitan mencari makanan atau minuman dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan.
Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di belantara kota metropolitan seperti Mekkah yang teramat padat pada musim haji setiap tahunnya.
Mekkah adalah kota besar yang memiliki banyak fasilitas, terutama di musim haji yang memang merupakan masa panen bagi para pedagang. Banyak sekali tempat makan dimana jamaah haji bisa mendapatkan konsumsi yang sehat dan ekonomis.
Secara umum ada lima kelompok tempat jamaah mencari makanan dan minuman. Pertama, para pedagang makanan Indonesia yang menjajakkan dagangannya di sekitar terminal bis dan pondokan haji Indonesia.
Kedua, ada kios-kios makanan kecil India yang tersebar di seantero Mekkah di setiap sudut kota Mekkah. Ketiga, supermarket yang menyediakan makanan berbungkus (roti, biskuit, mie instan, sayuran mentah, bermacam minuman. Keempat, restoran Indonesia, Turki, dan India. Kelima, restoran fast food di food court mal besar seperti Hilton dan Zam-Zam.
Nah yang pertama itu adalah yang paling populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Para pedagang asal Madura, Banjar, Jawa ini berstatus pedagang jalanan yang menghamparkan jualannya di trotoar jalan. Tidak ada beda dengan pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia.
Yang disediakan adalah berbagai makanan Indonesia dalam bungkusan atau juga berdasarkan pesanan. Ada nasi putih, sayur masak, lauk pauk, krupuk/snack. Rata-rata harga per porsinya adalah 1-2 riyal (1 riyal = Rp 3000-an). Kalau pun mau makan sayur asem? Sayur bayam? Sate kambing atau ayam? Sambel goreng ikan teri? Semua pasti ada.
Harga makanan dan minuma cukup ekonomis
Para pedagang kaki lima itu biasanya berjualan sejak pagi setelah subuh hingga siang hari. Lalu muncul lagi sore menjelang maghrib. Ada sebagian jamaah yang sudah tahu pilihan utama untuk urusan makanan. Sekali makan, dengan nasi putih seharga 2 riyal, sayur 1 riyal, ayam/daging/telur 2 riyal, mereka bilang sudah merasa sangat cukup. Tiap hari juga bisa ganti menu. Kalau mau, bisa tambah krupuk atau bubur kacang ijo panas seharga 1 riyal. Rata-rata menghabiskan 5 riyal per sekali makan atau sekitar Rp 15.000,- an.
Berbagai kios makanan yang biasanya menyediakan makanan ala Arab atau India. Ini juga pilihan yang baik. Menurut mereka yang pernah merasakan berbagai macam aneka menu masakan yang paling pas dengan lidah kita adalah kebab, roti Arab ala hotdog yang berisi oseng-oseng sayur dan daging sapi/ayam. Harganya sekitar 3-4 riyal per unit. Biasanya ditandai dengan adanya panggangan kebab bundar yang dipajang di depan kios.
Kebab adalah makanan yang populer dan sudah cukup untuk sarapan atau bahkan makan siang. Tapi banyak jamaah Indonesia yang kurang cocok. Sebab bagi mereka, belum disebut makan kalau belum makan nasi.
Di kios-kios yang tidak menyediakan meja untuk makan pembeli ini juga tersedia berbagai menu prasmanan. Dan itu bisa dibeli dan dimasukkan ke dalam kotak nasi styroform besar. Pesan nasi briyani atau kebuli, gulai kambing atau yang lain, tarif umumnya berkisar 5-10 riyal gabungan semuanya. Banyak sekali pilihannya yang dijamin menggoyang lidah jamaah Indonesia. Apalagi di Indonesia jenis makanan ini tergolong mewah.
Aneka minuman tersedia komplet. Seperti minuman bersoda dengan berbagai merek populer. Biaanya, harganya 1 riyal per kaleng. Bisa juga memilih minuman 'cai', teh susu panas ala Arab yang bergizi. Harganya 2 riyal per gelas. Kalau air putih?
Zam zam, ini tentu saja free. Tetapi kita harus 'menimba' sendiri di Masjidil Haram, kita tinggal memasukkan botol dan membawa sendiri secukupnya. Nah, rata-rata semua toko, bahkan kios-kios kecil telah menyediakannya dalam bentuk kemasan, mirip kemasan air mineral di tanah air.
Kios-kios kecil itu tersebar di banyak lokasi di sekitar Masjidil Haram di berbagai arah. Sangat mudah menemukan kios kecil ini, dan rata-rata penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Jadi tak usah khawatir kelaparan selama Anda menunaikan ibadah haji di tanah suci.
jumrahonline | jumrah.com
Memang, mengurus makan sendiri di tanah suci tidak serta dilepas begitu saja oleh panitia haji. Makanan yang disediakan berlangsung pada di masa 'orientasi' haji, kurang lebih 8-9 hari di Madinah. Namun di Mekkah, jemaah haji bisa 'terjun bebas', yaitu cari makan sendiri. Mereka dibekali uang saku oleh panitia sekitar 1.500 riyal. Jumlah ini merupakan uang living cost atau uang biaya hidup per jamaah yang diberikan panitia.
Ada beberapa cerita dari jamaah yang mengalami kesulitan mencari makanan atau minuman dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan.
Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di belantara kota metropolitan seperti Mekkah yang teramat padat pada musim haji setiap tahunnya.
Mekkah adalah kota besar yang memiliki banyak fasilitas, terutama di musim haji yang memang merupakan masa panen bagi para pedagang. Banyak sekali tempat makan dimana jamaah haji bisa mendapatkan konsumsi yang sehat dan ekonomis.
Secara umum ada lima kelompok tempat jamaah mencari makanan dan minuman. Pertama, para pedagang makanan Indonesia yang menjajakkan dagangannya di sekitar terminal bis dan pondokan haji Indonesia.
Kedua, ada kios-kios makanan kecil India yang tersebar di seantero Mekkah di setiap sudut kota Mekkah. Ketiga, supermarket yang menyediakan makanan berbungkus (roti, biskuit, mie instan, sayuran mentah, bermacam minuman. Keempat, restoran Indonesia, Turki, dan India. Kelima, restoran fast food di food court mal besar seperti Hilton dan Zam-Zam.
Nah yang pertama itu adalah yang paling populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Para pedagang asal Madura, Banjar, Jawa ini berstatus pedagang jalanan yang menghamparkan jualannya di trotoar jalan. Tidak ada beda dengan pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia.
Yang disediakan adalah berbagai makanan Indonesia dalam bungkusan atau juga berdasarkan pesanan. Ada nasi putih, sayur masak, lauk pauk, krupuk/snack. Rata-rata harga per porsinya adalah 1-2 riyal (1 riyal = Rp 3000-an). Kalau pun mau makan sayur asem? Sayur bayam? Sate kambing atau ayam? Sambel goreng ikan teri? Semua pasti ada.
Harga makanan dan minuma cukup ekonomis
Para pedagang kaki lima itu biasanya berjualan sejak pagi setelah subuh hingga siang hari. Lalu muncul lagi sore menjelang maghrib. Ada sebagian jamaah yang sudah tahu pilihan utama untuk urusan makanan. Sekali makan, dengan nasi putih seharga 2 riyal, sayur 1 riyal, ayam/daging/telur 2 riyal, mereka bilang sudah merasa sangat cukup. Tiap hari juga bisa ganti menu. Kalau mau, bisa tambah krupuk atau bubur kacang ijo panas seharga 1 riyal. Rata-rata menghabiskan 5 riyal per sekali makan atau sekitar Rp 15.000,- an.
Berbagai kios makanan yang biasanya menyediakan makanan ala Arab atau India. Ini juga pilihan yang baik. Menurut mereka yang pernah merasakan berbagai macam aneka menu masakan yang paling pas dengan lidah kita adalah kebab, roti Arab ala hotdog yang berisi oseng-oseng sayur dan daging sapi/ayam. Harganya sekitar 3-4 riyal per unit. Biasanya ditandai dengan adanya panggangan kebab bundar yang dipajang di depan kios.
Kebab adalah makanan yang populer dan sudah cukup untuk sarapan atau bahkan makan siang. Tapi banyak jamaah Indonesia yang kurang cocok. Sebab bagi mereka, belum disebut makan kalau belum makan nasi.
Di kios-kios yang tidak menyediakan meja untuk makan pembeli ini juga tersedia berbagai menu prasmanan. Dan itu bisa dibeli dan dimasukkan ke dalam kotak nasi styroform besar. Pesan nasi briyani atau kebuli, gulai kambing atau yang lain, tarif umumnya berkisar 5-10 riyal gabungan semuanya. Banyak sekali pilihannya yang dijamin menggoyang lidah jamaah Indonesia. Apalagi di Indonesia jenis makanan ini tergolong mewah.
Aneka minuman tersedia komplet. Seperti minuman bersoda dengan berbagai merek populer. Biaanya, harganya 1 riyal per kaleng. Bisa juga memilih minuman 'cai', teh susu panas ala Arab yang bergizi. Harganya 2 riyal per gelas. Kalau air putih?
Zam zam, ini tentu saja free. Tetapi kita harus 'menimba' sendiri di Masjidil Haram, kita tinggal memasukkan botol dan membawa sendiri secukupnya. Nah, rata-rata semua toko, bahkan kios-kios kecil telah menyediakannya dalam bentuk kemasan, mirip kemasan air mineral di tanah air.
Kios-kios kecil itu tersebar di banyak lokasi di sekitar Masjidil Haram di berbagai arah. Sangat mudah menemukan kios kecil ini, dan rata-rata penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Jadi tak usah khawatir kelaparan selama Anda menunaikan ibadah haji di tanah suci.
jumrahonline | jumrah.com
by Unknown
20.14.00
Dana setoran lunas haji yang dikembalikan kepada Jemaah (haji) sebagai bekal perjalanan, biasanya menggunakan mata uang asing (valuta asing/valas).
Setoran awal dilakukan dengan rupiah, lalu pelunasan dilakukan dengan dollar dan pengembalian dana jamaah yang disebut dengan living cost itu dalam bentuk real. Begitulah praktiknya yang umumnya berjalan tiap tahun.
Tetapi mengapa pemerintah menggunakan mata uang asing? Ada baiknya kita lihat sejarah biaya penyelenggaraan ibadah haji. Sebelum 2001 untuk menjadi bahan kajian sebelum pemerintah menetapkan kebijakan.
Penyelenggaraan haji sebelum 2001 biayanya ditetapkan dalam rupiah, bahkan living cost-nya pun juga dalam bentuk rupiah. Sejak saat itu hingga sekarang (2015), biaya penyelenggaan ibadah haji ditetapkan dalam dollar dan living cost-nya dalam bentuk real.
Proses valas ini memiliki implikasi, terutama kecenderungan apresiasi mata uang asing terhadap rupiah dan margin lembaga keuangan atas komisi pertukaran mata uang asing saat pemberian living cost dalam bentuk real. Bisa mencapai 1 persen atau lebih, komisi uang asing akan menambah beban pertukaran mata uang tersebut.
Pada tiga wilayah kunjungan perjalanan ibadah haji di Arab Saudi; Jeddah, Makkah, dan Madinah dalam satu waktu musim haji adalah tempat berkumpulnya jemaah haji dari seluruh dunia. Mata uang negara yang dibawa jemaah haji berlaku dan menjadi nilai tukar yang sah setidaknya pada saat itu.
Cina salah satu contoh negara yang menganut sistem memberikan kepada jemaah hajinya uang untuk living cost yang bersumber dari setoran lunas jemaahnya sendiri. Biaya penyelenggaraan ibadah haji mereka sebesar 25.000 yuan renminbi. Jemaah haji Cina diberikan penyelenggaranya sebesar 5.000 yuan reminbi, dalam mata uang yuan reminbi sampai jemaah hajinya tiba di Arab Saudi.
Ada baiknya pemerintah meniru pola living cost jemaah haji Cina. Sebab setidaknya eksistensi rupiah dicintai oleh bangsa sendiri di negeri lain, potensi kebocoran, biaya komisi uang asing, dan menekan laju inflasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah dan Anda, terkait dengan living cost ini.
Pertama, living cost ditiadakan maka dipastikan biaya haji akan semakin murah. Kedua, living cost diberikan maka diberikan langsung oleh pihak perbankan saat keberangkatan jemaah haji. Pemberiannyapun dalam bentuk dollar, real atau dalam rupiah sesuai kurs saat pelunasan dilakukan.
Ketiga, jika living cost diberikan, maka diberikan dalam bentuk kartu merchant yang sudah bekerjasama dengan seluruh gerai market yang berada di Arab Saudi. Untuk yang ini perlu waktu terkait kemampuan berfikir jemaah yang tidak sama dampak dari keragaman jemaah itu sendiri.
Penulis: Affan Rangkuti, Ahli Penyelenggara Haji-Umroh & Kepala Sistem Komputerasi Haji Terpadu (Siskohat)
jumrahonline | jumrah.com
Setoran awal dilakukan dengan rupiah, lalu pelunasan dilakukan dengan dollar dan pengembalian dana jamaah yang disebut dengan living cost itu dalam bentuk real. Begitulah praktiknya yang umumnya berjalan tiap tahun.
Tetapi mengapa pemerintah menggunakan mata uang asing? Ada baiknya kita lihat sejarah biaya penyelenggaraan ibadah haji. Sebelum 2001 untuk menjadi bahan kajian sebelum pemerintah menetapkan kebijakan.
Penyelenggaraan haji sebelum 2001 biayanya ditetapkan dalam rupiah, bahkan living cost-nya pun juga dalam bentuk rupiah. Sejak saat itu hingga sekarang (2015), biaya penyelenggaan ibadah haji ditetapkan dalam dollar dan living cost-nya dalam bentuk real.
Proses valas ini memiliki implikasi, terutama kecenderungan apresiasi mata uang asing terhadap rupiah dan margin lembaga keuangan atas komisi pertukaran mata uang asing saat pemberian living cost dalam bentuk real. Bisa mencapai 1 persen atau lebih, komisi uang asing akan menambah beban pertukaran mata uang tersebut.
Pada tiga wilayah kunjungan perjalanan ibadah haji di Arab Saudi; Jeddah, Makkah, dan Madinah dalam satu waktu musim haji adalah tempat berkumpulnya jemaah haji dari seluruh dunia. Mata uang negara yang dibawa jemaah haji berlaku dan menjadi nilai tukar yang sah setidaknya pada saat itu.
Cina salah satu contoh negara yang menganut sistem memberikan kepada jemaah hajinya uang untuk living cost yang bersumber dari setoran lunas jemaahnya sendiri. Biaya penyelenggaraan ibadah haji mereka sebesar 25.000 yuan renminbi. Jemaah haji Cina diberikan penyelenggaranya sebesar 5.000 yuan reminbi, dalam mata uang yuan reminbi sampai jemaah hajinya tiba di Arab Saudi.
Ada baiknya pemerintah meniru pola living cost jemaah haji Cina. Sebab setidaknya eksistensi rupiah dicintai oleh bangsa sendiri di negeri lain, potensi kebocoran, biaya komisi uang asing, dan menekan laju inflasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah dan Anda, terkait dengan living cost ini.
Pertama, living cost ditiadakan maka dipastikan biaya haji akan semakin murah. Kedua, living cost diberikan maka diberikan langsung oleh pihak perbankan saat keberangkatan jemaah haji. Pemberiannyapun dalam bentuk dollar, real atau dalam rupiah sesuai kurs saat pelunasan dilakukan.
Ketiga, jika living cost diberikan, maka diberikan dalam bentuk kartu merchant yang sudah bekerjasama dengan seluruh gerai market yang berada di Arab Saudi. Untuk yang ini perlu waktu terkait kemampuan berfikir jemaah yang tidak sama dampak dari keragaman jemaah itu sendiri.
Penulis: Affan Rangkuti, Ahli Penyelenggara Haji-Umroh & Kepala Sistem Komputerasi Haji Terpadu (Siskohat)
jumrahonline | jumrah.com
Langganan:
Postingan (Atom)










